Waktu bergerak begitu cepat. Tak terasa, sudah tiga tahun lima bulan Dr. drg. A. Tajrin, M.Kes., Sp.BMM., Subsp. COM (K) memimpin Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Hasanuddin. Ia dilantik sebagai direktur rumah sakit pendidikan tersebut pada 1 Mei 2023.
PELAKITA.ID – Rasanya baru beberapa waktu lalu pria yang gemar bermain tenis ini mulai memperlihatkan hasil kerjanya kepada publik. Selama masa kepemimpinannya, ia lebih dahulu berkonsentrasi pada konsolidasi internal.
Sejak awal menjabat, ia juga langsung bergerak cepat melakukan berbagai pembenahan. Hanya saja, banyak pekerjaan itu berlangsung dalam ruang sunyi, jauh dari sorotan kamera.
“Kami terus berbenah,” ujarnya. Soal hasilnya, ia memilih menyerahkan penilaian kepada pihak lain. “Hasilnya biar masyarakat dan Unhas yang menilai,” lanjutnya.
Direktur yang dikenal murah senyum dan mudah bergaul ini akrab disapa Andi Tajrin. Selain memimpin RSGM Unhas, ia juga mengabdi sebagai pengajar di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unhas, tempat ia dahulu memulai perjalanan pendidikan tingginya.
Tentang kebiasaannya tersenyum, ia punya jawaban sederhana yang disampaikan dengan nada bercanda.
“Harus banyak senyum, namanya juga dokter gigi,” guyonnya.
Perjalanan RSGM Unhas sendiri memiliki sejarah panjang. Izin tetap penyelenggaraan rumah sakit ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada 2 Desember 2005. Sejak 2011, organisasi dan tata kerja RSGM berada langsung di bawah Rektor Universitas Hasanuddin, sedangkan gedung baru rumah sakit tersebut diresmikan pada 26 Juni 2013.
Saya mencoba menyimak laporan kinerja Andi Tajrin selama memimpin RSGM Unhas, sekaligus menghimpun sejumlah testimoni secara acak dari beberapa pihak dengan latar belakang berbeda.
Dari penelusuran itu, setidaknya ada dua hal krusial yang mengemuka: kepemimpinan yang mendorong perubahan dan tata kelola yang berorientasi pada efisiensi, termasuk upaya mengikis stigma bahwa berobat selalu identik dengan biaya mahal.
Andi Tajrin, demikian ia biasa dipanggil, tampaknya berusaha menjawab tantangan masa depan melalui pendekatan transformational leadership atau kepemimpinan transformasional.
Pendekatan ini tidak berhenti pada pengelolaan rutinitas administratif, tetapi mendorong perubahan cara kerja, pembaruan sistem, dan penciptaan layanan yang lebih efisien tanpa mengabaikan mutu.
Selama ini, pelayanan rumah sakit yang terjangkau, efisien, dan modern kerap terdengar sebagai cita-cita ideal yang sulit diwujudkan. Tidak sedikit yang akhirnya berhenti sebagai jargon. Padahal, kemampuan mewujudkan pelayanan semacam itu sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan, keberanian mengambil keputusan, serta konsistensi membenahi sistem dari dalam.
Rumah sakit masa depan membutuhkan pemimpin yang berani keluar dari kenyamanan taktis demi membangun efisiensi jangka panjang. Pemimpin semacam ini tidak cukup hanya memastikan administrasi berjalan, tetapi juga harus mampu mengubah budaya kerja, memanfaatkan teknologi, dan menempatkan kebutuhan pasien serta kepentingan pendidikan sebagai orientasi utama.
Di RSGM Unhas, salah satu wujud perubahan itu adalah transformasi digital menuju Smart Dental Teaching Hospital (SDTH). RSGM Unhas terus mengembangkan digitalisasi pelayanan melalui sistem antrean, rekam medis, integrasi layanan BPJS, serta digitalisasi administrasi dan klaim. Berbagai upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan kecepatan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas pelayanan.
“Smart Dental Teaching Hospital bukan semata-mata rumah sakit yang menggunakan teknologi, melainkan rumah sakit yang menggunakan data untuk memperbaiki pelayanan, pendidikan, dan tata kelola,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak sekadar soal penggunaan perangkat atau aplikasi. Hal yang lebih mendasar adalah bagaimana teknologi membantu pengelola rumah sakit mengambil keputusan berdasarkan data, mengenali persoalan lebih dini, serta memperbaiki mutu layanan secara berkelanjutan.
Di bidang pendidikan, RSGM Unhas bersama FKG Unhas mengembangkan sistem “Simpeldik” yang mengintegrasikan administrasi, mahasiswa, departemen, serta dosen atau dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP).
Digitalisasi pendidikan ini memungkinkan mahasiswa yang mengalami keterlambatan pencapaian kompetensi teridentifikasi lebih dini.
Dengan begitu, intervensi dapat dilakukan sebelum keterlambatan tersebut berkembang menjadi persoalan studi yang berkepanjangan. Prinsip serupa juga berpotensi diterapkan dalam pemantauan pendidikan dokter spesialis melalui perkembangan kompetensi, case log, dan aktivitas pelayanan residen.
Bagi rumah sakit pendidikan, sistem semacam ini memiliki arti penting. Rumah sakit bukan hanya tempat pasien memperoleh layanan kesehatan, melainkan juga ruang pembelajaran klinis, pengembangan kompetensi, dan pembentukan profesionalisme tenaga kesehatan.
Oleh sebab itu, integrasi pelayanan dan pendidikan menjadi salah satu kunci untuk memastikan kedua fungsi tersebut berjalan beriringan.
Jika dirangkum, transformasi yang dijalankan Andi Tajrin di RSGM Unhas bertumpu pada tiga semangat: integrasi, inovasi, dan kemandirian.
Ketiganya menjadi penting ketika rumah sakit harus menjaga mutu pelayanan, memperkuat fungsi pendidikan, sekaligus memastikan keberlanjutan operasionalnya.
Di tengah masyarakat, persoalan biaya berobat masih menjadi kegelisahan yang terus mengemuka. Pelayanan kesehatan yang berkualitas sering kali dipersepsikan sebagai sesuatu yang mahal, sementara rumah sakit juga menghadapi kebutuhan pembiayaan untuk menjaga mutu, memenuhi kebutuhan operasional, dan mengembangkan fasilitas.
Andi Tajrin menilai efisiensi tata kelola dapat menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan dua kepentingan tersebut. Rumah sakit perlu menjaga kesehatan finansialnya, tetapi pada saat yang sama harus tetap memperhatikan keterjangkauan tarif bagi masyarakat.
“Karena itu, kami melakukan efisiensi tata kelola tanpa harus menurunkan margin pendapatan operasional. Dengan manajemen yang baik, rumah sakit tetap bisa sehat secara finansial sembari memberikan tarif yang terjangkau bagi masyarakat luas,” kata Andi Tajrin.
Di bawah kepemimpinannya, RSGM Unhas terus memperkuat posisinya sebagai rumah sakit pendidikan dengan jejaring nasional.
Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan sistem pelayanan, tetapi juga dengan kemampuan mengelola organisasi, membangun kolaborasi, dan merespons kebutuhan pendidikan serta kesehatan masyarakat.
“Dia bukan hanya ilmuwan, tetapi juga organisatoris dan inovator layanan kesehatan,” ungkap Prof. Muhammad Ruslin, kolega sekaligus mentor Andi Tajrin di Unhas.
Kepercayaan terhadap kapasitas organisasinya juga tercermin dari sejumlah amanah yang diemban di tingkat nasional. Selain menjadi direktur RSGM Unhas, Andi Tajrin tercatat sebagai Ketua Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI) periode 2026–2029, Sekretaris Jenderal Asosiasi Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (ARSPTN) periode 2022–2027, serta Ketua Kompartemen Hukum dan Organisasi Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (ARSPI) periode 2026–2029.
Tahun depan, pria berdarah Bugis yang lahir di Kolaka, Sulawesi Tenggara, ini akan mengakhiri tour of duty-nya di RSGM Unhas. Sebuah perjalanan kepemimpinan tentu memiliki batas waktu, tetapi pengalaman, pembelajaran, dan perubahan yang ditinggalkan semestinya dapat terus dirawat oleh organisasi.
Saya pun iseng melontarkan pertanyaan yang barangkali sudah mulai muncul di benak orang-orang dekatnya.
“Next-nya mau ke mana dan jadi apa?” tanyaku.
“Belum tahu. Saya mengalir saja dan kita jalani takdir Allah dengan bersyukur dan ikhlas,” jawabnya pelan.
Jawaban itu terdengar sederhana. Tidak ada ambisi yang diumbar, juga tidak ada rencana besar yang dipamerkan. Ia memilih menjalani perjalanan berikutnya dengan rasa syukur dan keikhlasan, sembari membiarkan waktu menjawab ke mana langkah akan berlanjut.
Satu hal yang sudah pasti, Andi Tajrin baru saja beranjak ke usia 52 tahun pada 10 Oktober 2026. Melalui tulisan ini, saya mengucapkan selamat milad. Semoga senantiasa diberi kesehatan, kelapangan hati, dan kesempatan untuk terus mengabdi melalui ilmu, kepemimpinan, serta pelayanan kepada masyarakat.
Anggap saja tulisan ini sebagai kadonya.
Terus bergerak dan beranjak. Tetap menebarkan senyum.
___
Penulis adalah kontributor Pelakita.ID
Tinggal di Jakarta









