“Ini bukan film, ini juga bukan filter, tapi ini dunia nyata. Selamat datang di Palangkaraya.”
PELAKITA.ID -Begitu ucapan seorang kreator konten dalam video yang memperlihatkan Kota Palangkaraya tertutup kabut asap kekuningan. Video diunggah ulang oleh @AgungS2100.
Tugu yang menjadi ikonik Palangkaraya dan bangunan serta hiasan lain nyaris tak terlihat. Warga mengenakan masker, sementara udara yang seharusnya dihirup justru menjadi ancaman.
Pemandangan ini bukan hanya milik Kalimantan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini meluas ke berbagai wilayah Indonesia.
Data Kementerian Kehutanan melalui SiPongi per 12 Oktober 2026 mencatat 17.108 titik panas (hotspot), dengan konsentrasi terbanyak berada di Kalimantan Tengah dan sejumlah wilayah Kalimantan lainnya.
Kebakaran juga dilaporkan terjadi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan, sejumlah wilayah Sumatra seperti Riau, Jambi dan Sumatera Selatan, serta berbagai daerah di Sulawesi.
Di Sulawesi, titik kebakaran terpantau antara lain di Gunung Klabat, Mamasa, Tana Toraja, Tojo Una-Una, Tolitoli, Buol, Banggai, Parigi Moutong dan Sulawesi Tenggara. Papua Selatan, khususnya Merauke, juga terdampak.
Sebaran asap bahkan melintasi batas negara. Laporan Pusat Meteorologi Khusus ASEAN pada 12 Oktober 2026 menunjukkan kabut asap menyelimuti sebagian Kalimantan, Sumatra, Semenanjung Malaysia dan Singapura, hingga Filipina bagian selatan.
Kualitas udara di sejumlah wilayah dilaporkan berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Situasi tahun ini kembali memperlihatkan betapa seriusnya ancaman karhutla.
Untuk menyebutnya sebagai yang terparah sepanjang sejarah, tentu diperlukan perbandingan data luas lahan terbakar dan dampaknya. Namun, sebaran kebakaran dan asap yang meluas sudah cukup menjadi peringatan bahwa persoalan ini belum tertangani dengan baik.
Sejarahnya panjang. Pada 1982–1983, kebakaran besar menghanguskan jutaan hektare hutan di Kalimantan Timur.
Periode 1997–1998 menjadi salah satu bencana karhutla terburuk, diperparah kemarau panjang akibat El Niño.
Kebakaran besar kembali terjadi pada 2015 dan 2019. Setiap kali asap datang, cerita yang sama berulang: sekolah terganggu, warga terserang ISPA, penerbangan terancam, dan aktivitas ekonomi tersendat.
Setelah hujan turun, asap berkurang dan kehidupan kembali berjalan. Seolah-olah masalah sudah selesai. Sampai kemarau berikutnya tiba, kita kembali menghadapi keadaan yang sama.
Padahal, ancaman karhutla bukan kejutan. Peringatan cuaca kering dan risiko kebakaran sudah disampaikan jauh hari.
Seharusnya ada pengawasan lebih ketat, perlindungan lahan gambut, kesiapan pemadaman dini, serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran.
Namun, kita sering baru terlihat sibuk setelah api membesar. Petugas berjibaku di lapangan, warga menghirup asap, sementara pejabat memberikan keterangan di depan kamera. Pencegahan yang semestinya dilakukan sejak awal kembali kalah oleh kesibukan menangani akibat.
Indonesia sering disebut memiliki hutan yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan iklim dunia. Namun, hutan terus menghadapi tekanan dari pembukaan lahan, pembalakan, dan kepentingan ekonomi. Sebagian masyarakat juga masih menggunakan api untuk membersihkan lahan karena dianggap murah dan praktis.
Seolah menunggu musim kering tiba, lalu ramai ramai semburkan api.
Negara harus hadir melalui pengawasan yang tegas, pendampingan bagi masyarakat, dan penegakan hukum yang tidak berhenti pada pelaku kecil. Jika perusahaan terbukti melanggar, modal besar tidak boleh menjadi tameng. Hukum harus berlaku sama, baik terhadap warga maupun korporasi.
Sebab, kerugian akibat karhutla tidak hanya ditanggung mereka yang mengambil keuntungan. Anak-anak ikut menghirup asap. Orang tua harus membawa keluarga berobat.
Sekolah terpaksa menghentikan kegiatan. Warga kehilangan hari kerja, sementara negara menanggung biaya kesehatan dan pemulihan lingkungan.
Kita sering berbicara tentang investasi, pertumbuhan ekonomi, dan masa depan yang lebih sejahtera. Tetapi udara bersih adalah kebutuhan dasar, bukan fasilitas khusus bagi orang kaya. Warga tidak seharusnya harus membeli alat penyaring udara, memakai masker atau meninggalkan rumah demi bisa bernapas dengan aman.
Barangkali yang perlu kita padamkan bukan hanya api di hutan, tetapi juga kebiasaan membiarkan masalah yang sama terus berulang.
Kemarin saya ikuti diskusi tentang efek El Nino, satu kunci dari diskusi tersebut, Indonesia sangat tak serius menjaga hutannya.
Cukup untuk pagi ini !!
Selamat beraktivitas.
#NarasiAno
Enak dibaca, kuat dirasakan
Makassar, 15 Oktober 2026









