PELAKITA.ID – Sebuah nama sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi ketika ia berhasil menjelma menjadi inspirasi.
Ia tetap tinggal, hadir dalam percakapan, hidup dalam ingatan, dan bekerja diam-diam melalui generasi yang meneruskan jejaknya.
Sabtu, 20 Juni 2026, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin meresmikan Auditorium Prof. Dr. M. Natsir Nessa di lantai empat gedung fakultas tersebut.
Di atas kertas, peristiwa itu mungkin hanya tampak sebagai penamaan sebuah ruang. Namun bagi banyak orang yang mengenal sosok almarhum, momen itu lebih menyerupai pengembalian seorang guru ke rumah yang pernah ikut ia bangun.
Nama Prof. Natsir Nessa bukanlah nama asing dalam perjalanan ilmu kelautan dan kemaritiman di Universitas Hasanuddin. Di tengah perkembangan Unhas sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia Timur, beliau termasuk figur yang melihat laut bukan sekadar bentang geografis, melainkan masa depan peradaban.
Lahir di Belawa, Kabupaten Wajo, pada 27 Desember 1948, perjalanan akademiknya menunjukkan satu hal yang kini semakin jarang ditemukan: keberanian melintasi batas disiplin ilmu.
Ia memulai kiprahnya dari dunia hidrologi dan pertanian, kemudian bergerak ke bidang sosial ekonomi peternakan, sebelum akhirnya turut meletakkan fondasi pengembangan ilmu kelautan dan perikanan di Universitas Hasanuddin.
Bagi sebagian orang, perpindahan lintas disiplin mungkin dianggap sebagai perubahan arah.
Bagi Prof. Natsir Nessa, ilmu pengetahuan tampaknya adalah satu kesatuan yang saling terhubung. Air, tanah, peternakan, masyarakat, pesisir, dan laut bukanlah ruang-ruang yang terpisah, melainkan bagian dari ekosistem kehidupan yang harus dipahami secara utuh.
Jauh sebelum istilah blue economy atau ekonomi biru menjadi perbincangan global, beliau telah memperlihatkan cara berpikir yang menempatkan pembangunan sebagai hubungan antara manusia, sumber daya alam, dan masa depan bersama.
Tidak mengherankan jika banyak kolega mengenang beliau sebagai sosok yang mampu menjembatani berbagai kepentingan akademik dan kelembagaan.
Selain berkiprah sebagai akademisi dan pengelola program studi, beliau juga pernah menjadi Dekan Fakultas Peternakan, Direktur Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Sekretaris Senat Akademik, hingga anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Pada fase penting transformasi Universitas Hasanuddin menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), beliau juga ikut terlibat dalam penyusunan fondasi tata kelola universitas melalui Majelis Wali Amanah.
Namun warisan seorang akademisi sejati tidak hanya terletak pada jabatan yang pernah diemban. Warisan terbesar mereka justru terletak pada kemampuan menyalakan api pengetahuan pada orang lain.
Itulah sebabnya penamaan auditorium ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar penghormatan simbolik.
Ruangan tersebut akan menjadi tempat berlangsungnya seminar, diskusi ilmiah, presentasi hasil riset, pertemuan akademik, hingga percakapan-percakapan kecil yang suatu hari dapat melahirkan gagasan besar.
Setiap mahasiswa yang mempresentasikan penelitiannya, setiap dosen yang membagikan temuannya, dan setiap ilmuwan yang berdialog di dalam ruangan itu akan menjadi bagian dari mata rantai pengetahuan yang pernah diperjuangkan Prof. Natsir Nessa.
Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Jamaluddin Jompa, dalam kesempatan tersebut menyampaikan harapan agar nama besar Prof. Natsir Nessa terus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berkarya dan mengabdikan ilmunya bagi masyarakat.
Harapan itu terasa relevan dengan tantangan Indonesia hari ini, ketika pembangunan maritim membutuhkan lebih banyak ilmuwan yang mampu berpikir lintas disiplin dan bekerja melampaui sekat-sekat keilmuan.
Menariknya, auditorium tersebut tidak dibiarkan lama menjadi monumen yang sunyi.
Sesaat setelah diresmikan, ruangan itu langsung menjadi tuan rumah forum internasional SYMARFISH 2026 yang mengangkat tema inovasi berbasis sains untuk ekonomi biru, ketahanan pangan, dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Seolah-olah, ruang itu segera menjalankan takdirnya sebagai tempat bertemunya gagasan lokal dengan tantangan global.
Di tengah dunia yang berubah cepat, universitas sering dihadapkan pada pertanyaan tentang bagaimana menghargai para pendahulunya.
Ada yang memilih membangun patung, ada yang menulis buku kenangan, dan ada pula yang mengabadikan nama pada sebuah bangunan.
FIKP Unhas memilih cara yang sederhana namun bermakna: menghadirkan nama Prof. Natsir Nessa pada sebuah ruang yang akan terus dipenuhi suara diskusi, pertukaran pikiran, dan pencarian ilmu pengetahuan.
Karena sesungguhnya seorang guru tidak pernah benar-benar wafat ketika gagasannya masih diajarkan, ketika nilai-nilainya masih diteladani, dan ketika ruang-ruang yang ia inspirasi terus melahirkan generasi baru.
Kini, nama itu hadir di jantung FIKP Unhas. Bukan sekadar tulisan di dinding auditorium, melainkan penanda bahwa pengabdian, integritas, dan kecintaan pada ilmu pengetahuan akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup
Redaksi









