Penulis Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID dan maritimeposts.com, alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas 1989. Lahir dan besar di Galesong.
PELAKITA.ID – Pulau Sanrobengi adalah sekeping surga pulau yang tersembunyi di pesisir barat Kabupaten Takalar, atau di beranda Galesong Raya.
Dengan hamparan pasir putih yang lembut dan gradasi air laut biru toska yang memanjakan mata, pulau ini bukan sekadar destinasi, melainkan aset berharga bagi pariwisata bahari Sulawesi Selatan.
Pulau ini adalah tempat hentian para nelayan papekang atau patorani di sejumlah musim. Patorani misalnya, biasanya mereka akan menyandarkan perahu di tepi Sanrobengi untuk merapal doa dan merancang pelayaran jauh. Ke Fakfak hingga ke Dewakang Lompo.
Meski begitu, saat ini ada ancaman yang nyata: sampah! Keindahan yang rapuh ini terus dibayangi oleh tantangan klasik: tumpukan sampah yang mengancam estetika dan ekosistemnya.
Menyadari bahwa menjaga “permata” ini membutuhkan lebih dari sekadar apresiasi visual, sebuah gerakan kolektif lahir untuk memastikan Sanrobengi tetap bersinar.

Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye menyebut aksi tersebut bukan hanya tentang memungut plastik yang terserak, melainkan sebuah pernyataan tegas tentang bagaimana kita memperlakukan warisan alam yang kita banggakan.
Kekuatan Kolaborasi Lintas Sektor
Keberhasilan pengelolaan sebuah destinasi wisata tidak mungkin dipikul oleh satu instansi saja.
Aksi bersih di Pulau Sanrobengi menjadi bukti nyata bahwa sinergi antarinstansi adalah kunci utama. Kolaborasi ini melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Takalar, Dinas Pariwisata Takalar, serta Pemerintah Kecamatan Galesong.
Secara strategis, kolaborasi ini sangat krusial karena setiap pihak mengisi celah yang berbeda. DLHP berperan dalam menyediakan infrastruktur dan pengetahuan teknis pengelolaan limbah.
Di sisi lain, Dinas Pariwisata memberikan visi pemasaran dan standar kenyamanan bagi pengunjung. Sementara itu, Pemerintah Kecamatan menjadi jembatan untuk mobilisasi dan akses masyarakat lokal.
“Tanpa perpaduan ini, upaya pembersihan hanya akan menjadi agenda seremonial yang tidak menyentuh akar permasalahan pengelolaan wisata secara komprehensif,” kata Bupati Takalar, Daeng Manye.
Aksi yang berlangsung pada 24 Mei 2026 ini melampaui sekadar agenda “bersih-bersih” rutin.
Kegiatan ini merupakan manifestasi dari investasi jangka panjang untuk masa depan pariwisata Takalar. Dengan turun langsung ke pesisir, para pemangku kepentingan menegaskan bahwa pelestarian alam adalah tanggung jawab moral yang tak bisa ditunda.
Irwan Rachman, SH, selaku Plt Kepala DLHP Takalar, menekankan pentingnya kesadaran kolektif ini dalam pernyataannya:
“Kegiatan ini menjadi bentuk kolaborasi positif antarinstansi sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan, khususnya kawasan wisata yang menjadi kebanggaan Takalar.”
Dalam dunia pariwisata modern, kebersihan adalah mata uang.
Lingkungan yang tertata secara estetis memiliki dampak langsung terhadap citra daerah. Wisatawan kini tidak hanya mencari panorama indah untuk difoto, tetapi juga kenyamanan dan keasrian yang membuat mereka merasa tenang.

Ketika pesisir bebas dari sampah, tercipta sebuah pengalaman emosional yang positif bagi pengunjung.
Keindahan Sanrobengi adalah modal awal, namun tanggung jawab bersama dalam menjaganya adalah faktor utama yang akan mengubah pengunjung menjadi duta wisata yang dengan senang hati akan kembali berkunjung.
Gotong Royong sebagai Budaya Berkelanjutan
Pada Minggu pagi, 24 Mei 2026, Pulau Sanrobengi menyaksikan harmoni yang luar biasa. Sejak matahari mulai naik, suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti kawasan tersebut.
Tidak ada sekat birokrasi; yang ada hanyalah tangan-tangan yang bergerak serentak mengangkut sampah dan menata kembali wajah pulau agar tetap ramah bagi siapa saja.
Semangat gotong royong ini diharapkan tidak memudar seiring berakhirnya acara. Visi besar pemerintah daerah adalah mentransformasi aksi ini menjadi sebuah budaya masyarakat.
Kita ingin kepedulian lingkungan tidak lagi dianggap sebagai beban kerja, melainkan identitas yang melekat pada setiap warga dan pengunjung dalam merawat aset wisata daerah.
Pulau Sanrobengi memiliki potensi yang tak terbatas untuk terus bersinar sebagai ikon wisata bahari yang membanggakan.
Melalui sinergi yang cerdas, pengelolaan yang tertata, dan semangat kolektif yang terjaga, keasrian pulau ini akan tetap menjadi warisan yang utuh bagi masa depan.
Keindahan alam adalah titipan yang menuntut tanggung jawab nyata dari kita semua.
Sekarang, pilihan ada di tangan kita: Akankah kita menjadi bagian dari mereka yang menjaga kilau ini, atau sekadar penikmat yang meninggalkan jejak yang tak diinginkan?
___
Penulis Denun









