Dua hari orientasi intensif di Makassar perkuat kapasitas mahasiswa dalam deteksi dini, skrining, dan pendampingan keluarga balita wasting
PELAKITA.ID – 18 Mei 2026 — Sebanyak 47 mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Universitas Hasanuddin mengikuti Orientasi Mahasiswa Peduli Wasting dalam Mendukung Pendampingan Keluarga Balita Gizi Buruk yang diselenggarakan selama dua hari, 16–17 Mei 2026, di Hotel Harper Perintis Makassar.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Mahasiswa Peduli Wasting yang diinisiasi oleh ICONS bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas, serta didukung oleh UNICEF Indonesia, sebagai upaya memperkuat garis depan penanganan wasting di tingkat masyarakat.
Wasting: Darurat Gizi yang Masih Mengintai
Wasting atau kekurangan gizi akut pada balita merupakan kondisi serius yang ditandai dengan rendahnya berat badan dibanding tinggi badan anak.
Berbeda dari stunting yang mencerminkan gangguan pertumbuhan kronis, wasting merupakan sinyal kegawatan gizi yang memerlukan respons cepat.
Balita yang mengalami wasting memiliki risiko kematian hingga 12 kali lebih tinggi dibandingkan anak dengan status gizi baik, serta berisiko tiga kali lebih besar mengalami stunting.
Di Kota Makassar sendiri, data terbaru mencatat sebanyak 223 balita mengalami gizi buruk.
Provinsi Sulawesi Selatan menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan wasting secara nasional, mengingat prevalensi yang masih cukup tinggi meskipun program intervensi terus digalakkan.
Orientasi Dua Hari yang Komprehensif
Prof. dr. Veni Hadju, M.Sc., PhD, yang menekankan pentingnya pemahaman holistik mahasiswa gizi mengenai berbagai bentuk masalah gizi pada balita sebelum terjun ke lapangan.
Beliau menyatakan bahwa orientasi ini diharapkan menjadi fondasi penguatan pengetahuan mahasiswa, baik dari sisi teori maupun keterampilan praktis lapangan.
Kegiatan orientasi dibuka secara resmi pada 16 Mei 2026 oleh Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., M.ScPH., PhD yang turut memberikan sambutan dengan menegaskan peran strategis mahasiswa dalam mengawal program-program intervensi gizi pemerintah.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari pihak kampus dan ICONS sebagai wadah penguatan kapasitas mahasiswa menghadapi permasalahan gizi di masyarakat.

Materi dan Keterampilan yang Dibangun
Selama dua hari orientasi, peserta mendapatkan serangkaian sesi materi dan praktik yang dirancang secara menyeluruh.
Pada hari pertama, Dr. Nurzakiah, SKM, M.Kes., Dietisien, menjelaskan konsep dasar masalah gizi balita meliputi stunting, wasting, dan underweight, berikut indikator antropometri yang digunakan untuk penilaiannya.
Peserta juga mendapatkan materi mengenai pendekatan Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT/IMAM) yang disampaikan oleh Fitriah, S.ST., M.KM dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, serta tata laksana rawat jalan balita gizi buruk tanpa komplikasi yang dibawakan oleh Wahyuni dari Dinkes Kabupaten Maros.
Sesi praktik hari pertama mencakup pengukuran antropometri bersama probandus nyata, meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi dan panjang badan, pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA), serta pemeriksaan edema bilateral yang merupakan keterampilan krusial dalam deteksi dini wasting di lapangan.
Peserta juga berlatih interpretasi status gizi menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) sesuai standar Permenkes Nomor 2 Tahun 2020.
Pada hari kedua, fokus beralih pada aspek komunikasi dan konseling. Sitti Rahmatia, SKM, M.Kes dari Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan menjelaskan penggunaan RUTF (Ready to Use Therapeutic Food) atau Makanan Terapi Gizi (MTG) dalam tata laksana rawat jalan.
Materi dilanjutkan dengan pelatihan Komunikasi Antar Pribadi (KAP) yang dibawakan oleh Manjilala, S.Gz, M.Gz, serta sesi konseling gizi yang dipandu oleh Rahayu Indriasari, SKM, MPHCN., PhD dan Dian Resky, S.Gz., Dietisien.
“Mahasiswa memiliki peran strategis dalam mengawal program intervensi gizi dengan membangun perspektif yang positif, kolaboratif, dan berbasis solusi.”
— Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., M.ScPH., PhD
Mahasiswa sebagai Agen Perubahan di Lapangan
Sebagai penutup orientasi, Dr. dr. Anna Khuzaimah, M.Kes, perwakilan UNICEF, menekankan bahwa kunci keberhasilan pendampingan terletak pada kemampuan mahasiswa membangun ikatan emosional dan kepercayaan dengan keluarga balita.
Kepercayaan tersebut menjadi fondasi agar keluarga bersedia menerima edukasi, terbuka dalam menyampaikan masalah, dan patuh terhadap intervensi yang diberikan.
Usai orientasi, para mahasiswa dijadwalkan turun langsung ke lapangan untuk melakukan pendampingan keluarga balita gizi buruk di masyarakat, mempraktikkan seluruh keterampilan yang telah diperoleh selama pelatihan.
Kegiatan lapangan ini sekaligus menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung program penanggulangan wasting di Sulawesi Selatan.









