Jadi bukan sekadar menyajikan fakta yang ada di lapangan, tetapi bagaimana secara holistik kita bisa menyajikan solusi apa yang bisa ditawarkan dan apa yang dapat dilakukan masyarakat.
Suriani Mappong, jurnalis Antara.
PELAKITA.ID – Melbourne menjadi ruang belajar yang berkesan bagi Suriani Mappong, salah satu peserta Workshop Perubahan Iklim dan Penulisan oleh Jurnalis yang mempertemukan jurnalis Indonesia dengan akademisi, peneliti, dan pakar komunikasi iklim di Australia.
Selama empat hari berada di Melbourne, Suriani bersama tiga peserta lainnya dari Indonesia mengikuti rangkaian workshop, diskusi, dan sesi berbagi pengalaman mengenai pentingnya penguatan jurnalisme perubahan iklim yang digelar oleh Australian-Indonesia Center melalui dukungan Monash Clicomm di Kampus Caulfied Monash University. Acara digelar dari tanggal 13 hingga 14 Mei 2026.
Dalam wawancara santai menjelang penerbangannya menuju Sydney, Suriani mengungkapkan rasa syukurnya karena mendapat kesempatan mengikuti program tersebut.
Menurutnya, workshop ini bukan sekadar forum akademik, melainkan ruang refleksi tentang bagaimana media seharusnya menyampaikan isu perubahan iklim kepada masyarakat.
“Di sini kami mendapatkan banyak inspirasi, termasuk sharing session dari para profesor dan doktor yang dihadirkan sebagai narasumber,” ujarnya.
Salah satu pelajaran penting yang ia peroleh adalah pendekatan jurnalisme konstruktif.
Menurut Suriani, media tidak cukup hanya menyajikan fakta-fakta bencana atau dampak perubahan iklim secara permukaan. Jurnalis perlu menghadirkan konteks, penyebab, hingga solusi yang dapat dipahami masyarakat.
Ia mencontohkan pemberitaan mengenai bencana lingkungan. Selama ini, media sering kali hanya fokus pada jumlah korban atau besarnya kerugian.
Padahal, menurutnya, publik juga perlu mengetahui mengapa bencana itu terjadi, apa akar persoalannya, dan langkah apa yang harus dilakukan agar peristiwa serupa tidak terus berulang.
“Jadi bukan sekadar menyajikan fakta yang ada di lapangan, tetapi bagaimana secara holistik kita bisa menyajikan solusi apa yang bisa ditawarkan dan apa yang dapat dilakukan masyarakat,” jelasnya.
Bagi Suriani, jurnalisme memiliki peran penting sebagai fasilitator antara masyarakat dan pengambil kebijakan.
Media harus mampu menyampaikan informasi yang mudah dipahami publik sekaligus menjadi jembatan bagi lahirnya kebijakan yang berpihak pada lingkungan dan masyarakat terdampak.
Ia menilai isu perubahan iklim kini semakin mendapat tempat di ruang redaksi media. Jika satu dekade lalu isu iklim dianggap kalah penting dibanding politik atau ekonomi, kini situasinya mulai berubah.
Dampak perubahan iklim yang dirasakan secara luas membuat media tidak lagi memandang isu ini sebagai persoalan pinggiran.
“Sekarang isu perubahan iklim sudah sejajar dengan isu ekonomi dan politik di ruang redaksi,” katanya.
Menurutnya, media digital juga memberi peluang lebih besar bagi pemberitaan iklim karena tidak terlalu dibatasi ruang seperti media cetak. Hal ini memungkinkan jurnalis menghadirkan liputan yang lebih mendalam dan komprehensif.
Selain memahami pentingnya jurnalisme konstruktif, Suriani juga melihat perlunya kolaborasi yang lebih erat antara media dan kalangan akademisi.
Ia menilai banyak hasil penelitian tentang lingkungan dan perubahan iklim yang sebenarnya sangat penting, namun belum tersampaikan secara luas kepada masyarakat.
Karena itu, ia berharap media dapat bersinergi dengan peneliti dan universitas agar hasil-hasil riset tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi juga menjadi referensi bagi masyarakat dan pemerintah dalam merumuskan kebijakan.
“Penelitian yang dilakukan para akademisi perlu terekspos dan disinergikan agar hasilnya bisa diimplementasikan di masyarakat,” ujarnya.
Workshop tersebut menjadi pengalaman yang membuka perspektif baru bagi Suriani tentang bagaimana jurnalisme dapat berkontribusi dalam menghadapi krisis iklim.
Bukan hanya dengan memberitakan bencana, tetapi juga dengan menghadirkan harapan, solidaritas, dan solusi yang mendorong perubahan nyata di tengah masyarakat.
Tentang Suriani Mappong
Suriani merupakan alumni Jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin. Saat ini bekerja untuk Kantor Berita Antara, berbasis di Makassar dan telah menjadi peserta pada sejumlah kelas penulisan dan proyek reportase. Pernah magang selama sebulan di Filipina dan beberaka kali melakukan peliputan isu spesifik seperti energi terbarukan, pandemi hingga konservasi terumbu karang.
Tentang kegiatan yang diikuti
Mendukung Peliputan Perubahan Iklim di Indonesia dan Australia
Monash Climate Communication Hub (Monash CliComm) menyelenggarakan workshop berbagi pengetahuan selama dua hari di Melbourne, Australia, yang mempertemukan jurnalis Indonesia dan Australia, ilmuwan iklim, pakar komunikasi, serta para peneliti.
Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek Supporting Climate Reporting in Indonesian Newsrooms yang dilaksanakan bekerja sama dengan Australia-Indonesia Centre (AIC) dan didukung oleh Australia Indonesia Institute melalui Australian Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT).
Workshop ini bertujuan memperkuat kapasitas jurnalis dalam memahami isu perubahan iklim, meningkatkan kualitas peliputan berbasis sains, serta membangun kolaborasi antara media, akademisi, dan peneliti dalam menyampaikan informasi iklim kepada masyarakat.
Peserta dari Indonesia yang mengikuti kegiatan ini antara lain Kamaruddin Azis dari Pelakita.ID dan Maritimeposts.com, Suriani Mappong dari Kantor Berita Antara, Irmawaty yang merupakan jurnalis lepas dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di Tempo, serta Alfian dari Tribun Timur Network.
Selama workshop berlangsung, para peserta mendiskusikan berbagai isu penting terkait perubahan iklim dan komunikasi publik, di antaranya kondisi iklim saat ini dan proyeksi masa depan, pendekatan komunikasi iklim yang efektif, strategi menghadapi misinformasi dan disinformasi, hingga bagaimana jurnalis Australia membangun narasi peliputan mengenai iklim dan energi.
Selain itu, diskusi juga membahas sistem dan proses yang dibutuhkan untuk membangun kolaborasi internasional dalam peliputan perubahan iklim, studi kasus penelitian iklim lokal di Indonesia, serta pendekatan jurnalisme konstruktif yang tidak hanya menyajikan persoalan, tetapi juga menawarkan solusi dan harapan bagi masyarakat.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, empat peneliti program AICPAIR juga bertemu dengan para jurnalis asal Sulawesi untuk mendiskusikan keterkaitan antara riset dan peliputan perubahan iklim.
Pertemuan ini menjadi penting karena para peneliti sedang menjalankan proyek penelitian di Sulawesi, yang juga merupakan wilayah asal para jurnalis peserta workshop.
Diskusi menghadirkan Professor Lu Aye dan Professor Sherah Kurnia dari University of Melbourne, serta Professor Daniel Prajogo dan Professor Juliana Sutanto dari Monash University.
Mereka berbagi perspektif mengenai transisi menuju net zero emission, budidaya rumput laut berkelanjutan, serta isu perubahan iklim dan kesehatan masyarakat pesisir.
Proyek-proyek penelitian tersebut merupakan bagian dari program PAIR Sulawesi yang didanai bersama oleh Pemerintah Australia melalui DFAT dan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Sebagai tindak lanjut dari workshop ini, tim peneliti dijadwalkan melanjutkan kegiatan di Makassar untuk mempresentasikan temuan penelitian yang lebih luas.
Hasil dari rangkaian program ini diharapkan dapat membantu membentuk pendekatan dan perangkat pendukung bagi jurnalisme iklim yang berbasis sains, relevan dengan kebutuhan masyarakat lokal, serta mampu mendorong kesadaran dan aksi kolektif menghadapi perubahan iklim.
___
Penulis Kamaruddin Azis









