Dari Baruga, Mengalir Doa untuk Kepemimpinan Rektor JJ

  • Whatsapp
Penulis bersama Prof Jamaluddin Jompa (dok: Istimewa)

Penulis: Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

PELAKITA.ID – Pagi ini, Senin, 27 April 2026, di Baruga Andi Pangerang Pettarani, Kampus Tamalanrea, Makassar,  dalam suasana khidmat, di hadapan para pemangku kepentingan, senat akademik, dan jajaran Forkopimda Sulawesi Selatan, sebuah amanah kembali diteguhkan.

Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., atau yang akrab disapa Prof JJ—resmi dilantik kembali sebagai Rektor untuk periode 2026–2030.

Pelantikan yang dimulai pukul 08.00 WITA itu bukan sekadar seremoni, melainkan peristiwa simbolik tentang kepercayaan yang diamankan kembali

Dalam Rapat Paripurna Terbuka Luar Biasa Majelis Wali Amanat, sejarah kembali dicatat.  Seorang guru besar kelautan, yang terbiasa membaca arus dan gelombang, kini kembali dipercaya menakhodai kapal besar bernama Unhas, Kampus Merah  yang melintasi samudra tantangan zaman dengan nilai-nilai “Ayam Jantan dari Timur”—Sultan Hasanuddin.

Namun, kepemimpinan universitas tidak pernah sesederhana peta dan kompas. Ia lebih menyerupai laut itu sendiri. Dinamis, tak sepenuhnya tertebak, dan kadang menuntut keberanian untuk berlayar melampaui batas yang selama ini dianggap aman.

Prof JJ, dengan latar keilmuan kelautannya, memahami bahwa ekosistem yang sehat bukan hanya tentang satu spesies yang dominan, tetapi tentang keseimbangan. Demikian pula Unhas, ia harus menjaga harmoni antara riset dan pengajaran, antara inovasi dan nilai, antara lokalitas dan globalitas.

Tantangan ke depan bukan hanya soal akreditasi, peringkat, atau publikasi ilmiah. Lebih dari itu, ia adalah tentang bagaimana universitas hadir sebagai solusi.

Ketika petani gelisah menghadapi perubahan iklim, ketika nelayan membaca laut yang tak lagi sama, ketika kota tumbuh tanpa arah—di situlah ilmu harus turun tangan, tidak sebagai wacana, tetapi sebagai jawaban.

Di sinilah pentingnya kolaborasi.

Unhas tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan jejaring yang hidup—dari pemerintah, dunia industri, komunitas, hingga alumni yang tersebar di berbagai lini kehidupan.

Dalam waktu dekat, para alumni akan berhimpun dalam Musyawarah Besar, 1–3 Mei, sebuah momentum yang lebih dari sekadar konsolidasi organisasi. Ia adalah upaya menyambung kembali benang yang mungkin sempat terlepas oleh jarak dan waktu.

Alumni adalah ingatan yang berjalan. Mereka membawa Unhas dalam keputusan-keputusan kecil maupun besar di luar kampus. Maka ketika mereka kembali berkumpul, sesungguhnya yang sedang dibangun adalah energi kolektif—sebuah kesadaran bahwa kontribusi tidak berhenti saat wisuda.

“Kolaborasi untuk negeri” menjadi lebih dari sekadar frase. Ia adalah keniscayaan. Negeri ini membutuhkan simpul-simpul pengetahuan yang tidak eksklusif, tetapi inklusif. Yang tidak hanya memproduksi ide, tetapi juga memastikan ide itu menyentuh kehidupan nyata.

Unhas memiliki modal itu. Sejarah, sumber daya, dan jaringan. Tinggal bagaimana semua itu dirangkai menjadi gerakan yang terarah.

Pelantikan hari ini mengingatkan kita bahwa kepemimpinan adalah keberlanjutan. Bahwa setiap periode bukanlah lembaran baru yang terpisah, melainkan kelanjutan dari narasi panjang yang sedang ditulis bersama. Ada yang harus dijaga, ada yang perlu diperbaiki, dan ada pula yang menunggu untuk diciptakan.

Selamat dan sukses kepada Prof JJ. Amanah ini bukan hanya tentang memimpin sebuah institusi, tetapi tentang menjaga api pengetahuan agar tetap menyala—di tengah angin perubahan yang kadang tak ramah.

Untuk Unhas, teruslah menjadi lebih dari sekadar kampus. Jadilah ruang di mana ilmu bertemu nurani, di mana kecerdasan berpadu dengan kebijaksanaan, dan di mana masa depan bangsa dirancang dengan kesungguhan.

Karena pada akhirnya, universitas yang besar bukan hanya yang menghasilkan lulusan hebat—melainkan yang mampu melahirkan kesadaran, dan menyalakan harapan.
____
Muliadi Saleh:
“Menulis Makna, Membangun Peradaban”