PELAKITA.ID – Seringkali, universitas dianggap sebagai “menara gading”—sebuah institusi megah yang melahirkan teori-teori rumit namun terasa berjarak dari peluh nelayan di atas perahu. Ada sekat yang memisahkan antara ruang kelas berpendingin udara dengan realitas ombak di pesisir.
Situasi agak berbeda terasa pada Sabtu, 25 April 2026, sekat itu runtuh di Desa Palipi Soreang, Kabupaten Majene. Departemen Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin (Unhas) membuktikan bahwa ilmu pengetahuan paling berharga adalah ilmu yang membumi, melalui sebuah aksi nyata bertajuk “Pemberdayaan Perempuan dan Nelayan: Aman di Laut, Cerdas Mengelola Ekosistem Pesisir.”
Satu hal yang paling menonjol dari pendekatan tim Ilmu Kelautan Unhas adalah kerendahan hati intelektual.
Ketua Departemen Ilmu Kelautan Unhas, Prof. Dr. Rahmadi Tambaru, M.Si, menegaskan bahwa hubungan antara akademisi dan warga desa haruslah setara.
Nelayan yang setiap hari bergelut dengan laut memiliki pemahaman empiris—sebuah “laboratorium alam”—yang tidak selalu ditemukan dalam buku teks.
Sinergi antara teori ilmiah dan pengalaman lapangan inilah yang menjadi kunci pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.
“Kami hadir di sini tidak untuk menggurui atau menceramahi, tetapi saling berbagi. Apa yang kami ketahui dan kami telah teliti, kami ingin bagikan dan implementasikan pada masyarakat. Sebaliknya, tentu masyarakat, terutama nelayan, pasti memiliki segudang pengalaman dan permasalahan di laut yang bisa disampaikan juga kepada kami,” ungkap Prof. Rahmadi.
Di tengah dinamika ekonomi global yang kian menantang, peran perguruan tinggi dituntut untuk berevolusi.
Dekan FIKP Unhas, Prof. Dr. Mahatma Lanuru, M.Sc—seorang akademisi lulusan Kiel University, Jerman—membawa standar keahlian global untuk diterapkan pada problematika lokal.
Beliau menekankan bahwa tugas universitas kini wajib memberikan dampak langsung (intervensi nyata) alih-alih hanya berfokus pada publikasi riset teoretis.

Bayangkan intensitasnya: lebih dari 20 pakar, mulai dari dosen hingga mahasiswa pascasarjana, “turun gunung” untuk melayani sebuah desa seluas 4,12 kilometer persegi.
Dengan populasi 623 Kepala Keluarga (KK), rasio tenaga ahli terhadap warga ini sangat tinggi, menunjukkan keseriusan Unhas dalam melakukan intervensi ekonomi yang presisi melalui keahlian maritim mereka.
Lantas, bagaimana intervensi ekonomi ini mewujud secara konkret? Hal ini dimanifestasikan ke dalam tiga pilar praktis yang dirancang untuk menjawab tantangan paling mendesak di pesisir Majene.
Inovasi yang Menyentuh Sektor Tak Terduga
Melalui kolaborasi dengan Kepala Desa Palipi Soreang, Wardin Wahid, SH, tim Unhas membagi fokus pada tiga kelompok kerja paralel. Inovasi-inovasi ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan solusi berbasis sains:
Penyuluhan Keselamatan Nelayan dan Pelestarian Ekosistem: Memastikan keselamatan nelayan pemancing di laut lepas sekaligus memberikan pemahaman sains bahwa menjaga terumbu karang dan padang lamun adalah investasi jangka panjang untuk ketersediaan stok ikan.
Diversifikasi Olahan Hasil Perikanan: Melatih kelompok perempuan untuk mengubah ikan tangkapan menjadi produk bernilai tambah.
Secara ekonomi, diversifikasi ini penting agar pendapatan rumah tangga tidak fluktuatif mengikuti harga jual ikan mentah yang seringkali jatuh.
Pengolahan Limbah Organik Menjadi Kompos: Ini adalah langkah krusial dalam ekonomi sirkular.
Secara ilmiah, pengolahan kompos di pesisir berfungsi ganda: mengurangi volume sampah yang berakhir menjadi marine debris (sampah laut) serta mencegah aliran nutrien berlebih (nitrogen runoff) ke laut yang dapat merusak keseimbangan ekosistem pantai.
Suasana yang Cair: Ilmu Tinggi dengan Canda Tawa
Pemberdayaan masyarakat seringkali gagal jika disampaikan dengan bahasa yang terlalu formal dan kaku. Di Palipi Soreang, suasana justru mencair.
Transfer teknologi dan edukasi keselamatan disampaikan dengan santai, diwarnai canda tawa, namun tetap sarat isi.
Penyampaian yang hangat dan sosiabel terbukti jauh lebih efektif dalam membangun kedekatan emosional.
Ketika masyarakat merasa nyaman dan dihargai, pesan-pesan penting mengenai inovasi kelautan lebih mudah diterima dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah esensi dari komunikasi sains yang sukses: meruntuhkan tembok formalitas demi membangun jembatan pemahaman.
Pembaca sekalian, kegiatan di Desa Palipi Soreang adalah model masa depan bagi kolaborasi maritim Indonesia.
Ketika intelektual kampus membawa standar global untuk duduk bersama praktisi lapangan, potensi maritim kita yang selama ini terpendam dapat benar-benar melejit.
Intervensi cerdas ini membuktikan bahwa universitas adalah motor penggerak nyata yang mampu mengubah wajah desa pesisir menjadi lebih tangguh secara ekonomi dan ekologis.
Melihat keberhasilan kolaborasi ini, sebuah refleksi muncul bagi kita semua: Jika sebuah desa kecil mampu bertransformasi melalui intervensi ilmu pengetahuan yang tepat, bersediakah Anda mulai meruntuhkan “menara gading” hak istimewa Anda untuk ikut memperkuat ekosistem lokal di sekitar Anda?
___
Editor Denun









