Enam Jurnal Unhas Naik Kelas di Scopus 2026, Dua Diantaranya Masuk Q1

  • Whatsapp
Sekretaris Publication Management Center (PMC), Prof. Ir. Andi Dirpan, STP., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa peningkatan kualitas jurnal tidak terjadi secara instan.

PELAKITA.ID – Peta publikasi ilmiah Universitas Hasanuddin memasuki babak baru pada pemeringkatan jurnal internasional bereputasi tahun 2026.

Enam jurnal yang dikelola berbagai fakultas berhasil mempertahankan dan meningkatkan posisi di basis data global Scopus, dengan dua di antaranya menembus kuartil tertinggi kedua menuju Q1, kasta tertinggi dalam sistem kuartil jurnal internasional.

Capaian tersebut tercatat dalam monitoring e-journal Unhas untuk kategori Internasional Bereputasi 2026. Dari enam jurnal terindeks Scopus, empat jurnal bertahan di posisi sebelumnya, sementara dua jurnal mengalami lonjakan kuartil.

Dua jurnal yang naik ke Q1 masing-masing adalah Forest and Society dari bidang Kehutanan, dan Hasanuddin Law Review (HALREV) dari Fakultas Hukum. Keduanya sebelumnya berada di Q2 pada tahun 2025.

Sementara itu, empat jurnal lain mempertahankan performa, yakni Canrea Journal: Food Technology, Nutrition, and Culinary Journal tetap di Q3, Journal of Dentomaxillofacial Science bertahan di Q3, Media Kesehatan Masyarakat Indonesia konsisten di Q4, serta Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea tetap di Q4.

Sekretaris Publication Management Center (PMC), Prof. Ir. Andi Dirpan, STP., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa peningkatan kualitas jurnal tidak terjadi secara instan.

Menurutnya, penguatan ekosistem publikasi terus dilakukan melalui pendampingan teknis, evaluasi rutin, hingga penyediaan infrastruktur digital yang mendukung profesionalisme pengelolaan jurnal.

Salah satu instrumen penting yang digunakan adalah Digital Commons by Elsevier, platform penerbitan ilmiah yang difasilitasi untuk jurnal-jurnal terindeks Scopus. Sistem ini membantu tata kelola editorial, visibilitas artikel, hingga integrasi dengan jejaring publikasi internasional.

Selain penguatan di Scopus, perhatian juga diarahkan pada peningkatan reputasi jurnal melalui indeksasi Web of Science (WoS). Sejumlah jurnal saat ini telah masuk dalam pemetaan pengembangan agar mampu memenuhi standar seleksi WoS, yang dikenal memiliki indikator ketat terkait kualitas sitasi, konsistensi terbitan, serta dampak akademik.

“Pengembangan jurnal ke depan tidak hanya berorientasi pada kenaikan kuartil Scopus, tetapi juga memperluas pengakuan internasional melalui indeksasi ganda di Scopus dan WoS. Strategi ini dinilai penting untuk memperkuat daya saing riset dan visibilitas karya ilmiah di tingkat global,” kata Prof. Andi Dirpan.

Di balik angka kuartil, ada proses panjang yang berlangsung di ruang-ruang editorial. Pengelola jurnal secara berkala melakukan diskusi strategis, menelaah tren sitasi, kualitas naskah, internasionalisasi penulis, serta standar etika publikasi.

Langkah ini dinilai penting karena kompetisi jurnal global kini tidak hanya bergantung pada jumlah artikel, tetapi juga dampak ilmiah dan reputasi akademik.

Fakultas Hukum mencatat sejarah tersendiri melalui Hasanuddin Law Review, yang untuk pertama kalinya menembus kelompok Q1.

Capaian ini menandai menguatnya kontribusi kajian hukum dari Indonesia di panggung akademik internasional.

Ke depan, fokus pengembangan juga menyasar jurnal-jurnal lain yang telah berstatus SINTA 2, agar mampu menembus Scopus dalam waktu dekat. Pada saat yang sama, jurnal yang telah mapan akan terus didorong naik kuartil dan memperluas indeksasi ke Web of Science.

Selain pembinaan teknis, skema insentif juga disiapkan. Melalui kebijakan pimpinan universitas, penghargaan bagi pengelola jurnal direncanakan ditingkatkan sebagai bentuk apresiasi atas kerja akademik yang selama ini berlangsung di balik layar.

Bagi perguruan tinggi riset, jurnal bukan sekadar media publikasi. Ia adalah indikator kesehatan ilmu pengetahuan: tempat gagasan diuji, data diverifikasi, dan inovasi disebarluaskan. Ketika jurnal naik peringkat, yang sesungguhnya bergerak adalah kualitas ekosistem akademik di dalam kampus itu sendiri. (*/dhs)