Buku Prof Amran Razak | Kembali Bara, Refleksi dan Transformasi Gerakan Mahasiswa Unhas

  • Whatsapp
Ilustrasi buku (dok: Istimewa)

Melalui gaya yang sesekali satir—seperti dalam “Generasi Strawberry: Celoteh Warkop Enreco”—penulis mengajak pembaca menimbang ulang bentuk gerakan mahasiswa di tengah sistem kekuasaan yang semakin kompleks.

PELAKITA.ID – Buku yang ditulis oleh Amran Razak ini terasa seperti perjalanan panjang menyusuri lorong-lorong ingatan kampus—khususnya denyut kehidupan mahasiswa di Tamalanrea.

Dengan judul Refleksi, Dinamika, Reformasi, dan Transformasi BEM-U (Kado Kecil Buat Prof JJ), buku ini tidak sekadar menyusun arsip peristiwa, melainkan merangkai fragmen pengalaman menjadi narasi yang hidup: tentang sunyi, perlawanan, persahabatan, dan idealisme yang terus diuji zaman.

Bagian pertama membawa pembaca memasuki “mosaik sunyi” kelompok studi mahasiswa—ruang-ruang kecil yang justru menjadi dapur intelektual kampus.

Dari KSP dengan diskusi ekonomi ditemani kopi tubruk, hingga Kosindra yang mengasah demokrasi di tengah tabu, setiap komunitas tampil sebagai potret keberanian berpikir di luar arus utama.

Mushalla, ruang diskusi, hingga sudut-sudut kampus menjelma arena alternatif untuk merawat nalar.

Geliat pers mahasiswa seperti Identitas, BALANCE, dan Tamalanrea Post memperlihatkan bagaimana kata-kata menjadi alat perjuangan.

Komunitas seni pun tak kalah penting—dari Serikat Penyair Kampus hingga Bengkel—yang menghidupkan ekspresi dan melahirkan nama-nama yang kelak mewarnai dunia sastra dan budaya.

Memasuki bagian kedua, narasi bergeser ke momentum reformasi. Kampus tidak lagi sekadar ruang belajar, melainkan medan pergulatan politik dan kesadaran kolektif.

Dari Tamalanrea, gelombang perubahan bergema, menghadirkan kisah keberanian mahasiswa dalam merespons kekuasaan yang problematik. Bagian ini menegaskan bahwa sejarah reformasi tidak hanya ditulis di jalanan ibu kota, tetapi juga di ruang-ruang kampus yang kerap luput dari sorotan.

Bagian ketiga menghadirkan refleksi yang lebih kontemporer mengenai transformasi BEM dan arah gerakan mahasiswa hari ini.

Kegelisahan terasa nyata: apakah BEM masih relevan? Apakah ia tetap menjadi “rumah pencerahan” atau justru kehilangan daya hidupnya?

Melalui gaya yang sesekali satir—seperti dalam “Generasi Strawberry: Celoteh Warkop Enreco”—penulis mengajak pembaca menimbang ulang bentuk gerakan mahasiswa di tengah sistem kekuasaan yang semakin kompleks.

Harapannya jelas, BEM tidak sekadar bertahan, tetapi mampu menyala kembali dengan cara-cara yang lebih adaptif dan bermakna.

Bagian akhir ditutup dengan epilog reflektif tentang kepemimpinan mahasiswa di Makassar—menyusun jejak masa lalu, membaca situasi kini, dan membayangkan masa depan.

Lampiran tulisan-tulisan pers mahasiswa menegaskan satu hal penting: dinamika BEM dan gerakan mahasiswa selalu berada dalam tarik-ulur antara idealisme dan realitas.

Secara keseluruhan, buku ini bukan hanya “kado kecil” untuk JJ, tetapi juga hadiah bagi siapa saja yang ingin memahami denyut sejarah sekaligus masa depan gerakan mahasiswa.

Ia mengingatkan bahwa di balik hiruk-pikuk kampus, selalu ada bara—kadang sunyi, kadang redup—yang menunggu untuk kembali dinyalakan.