Bupati A. Ina di CNN Indonesia | Barru Bertransformasi, dari Semata Lintasan Menuju Magnet Investasi dan Pariwisata

  • Whatsapp
Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, dalam wawancara bersama CNN Indonesia, menegaskan bahwa daerahnya tengah berada dalam fase transformasi besar.

“Barru hari ini adalah daerah yang ‘amazing’,” ujarnya. “Kami memiliki tiga dimensi kekuatan sekaligus: daratan, lautan, dan pegunungan. Ini adalah modal besar untuk tumbuh.”

PELAKITA.ID – Dinamika pertumbuhan daerah di Indonesia kini tak lagi terpusat di kota-kota besar. Sejumlah wilayah mulai menunjukkan akselerasi pembangunan yang signifikan, termasuk Kabupaten Barru di Sulawesi Selatan.

Daerah yang dahulu lebih dikenal sebagai sekadar wilayah lintasan antara Makassar dan Parepare, kini perlahan berbenah dan menegaskan diri sebagai kawasan tujuan—baik untuk investasi, pariwisata, maupun pengembangan ekonomi lokal.

Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, dalam wawancara bersama CNN Indonesia, menegaskan bahwa daerahnya tengah berada dalam fase transformasi besar.

“Barru hari ini adalah daerah yang ‘amazing’,” ujarnya. “Kami memiliki tiga dimensi kekuatan sekaligus: daratan, lautan, dan pegunungan. Ini adalah modal besar untuk tumbuh.”

Dari Lintasan Menjadi Tujuan

Selama bertahun-tahun, Barru dikenal sebagai daerah yang hanya “dilewati”. Letaknya yang strategis di jalur darat Makassar–Parepare menjadikan wilayah ini sekadar tempat singgah. Namun, paradigma itu kini diubah.

Dengan garis pantai sepanjang 78 kilometer, Barru menyimpan potensi besar di sektor pariwisata bahari. Pemerintah daerah menargetkan agar wilayah ini tidak lagi menjadi titik transit, melainkan destinasi utama.

“Kami ingin Barru menjadi daerah tujuan—tujuan investasi, tujuan wisata, dan pusat pertumbuhan ekonomi baru,” tegas Andi Ina.

Strategi Pembangunan: Sinkronisasi dan Hilirisasi

Transformasi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada arah kebijakan yang terintegrasi.

Pemerintah Kabupaten Barru menekankan pentingnya sinkronisasi program daerah dengan kebijakan nasional, serta mendorong hilirisasi sektor unggulan.

Dengan keterbatasan fiskal daerah—APBD yang relatif kecil—Barru mengandalkan sinergi dengan program nasional sebagai daya ungkit pembangunan. Salah satu contoh nyata adalah masuknya program strategis pemerintah pusat, termasuk pembangunan sekolah rakyat dengan nilai anggaran ratusan miliar rupiah.

Pendekatan ini menjadi strategi realistis untuk mempercepat pembangunan tanpa bergantung sepenuhnya pada kemampuan anggaran daerah.

Ilustrasi oleh Pelakita.ID dan Notebook LM

Potensi Ekonomi: Dari Laut hingga Pegunungan

Barru tidak hanya mengandalkan pariwisata. Sektor pertanian dan kelautan juga menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Di sektor pertanian, Barru mulai dikenal sebagai penghasil nanas berkualitas, serta memiliki potensi besar dalam pengembangan hortikultura dan kopi. Saat ini, sekitar 400 hektare lahan telah ditanami kopi di wilayah dataran tinggi yang dinilai sangat cocok untuk budidaya komoditas tersebut.

Di sisi lain, sektor perikanan tangkap turut diperkuat oleh panjang garis pantai yang dimiliki. Kombinasi ini menjadikan Barru sebagai daerah dengan spektrum ekonomi yang beragam.

Karpet Merah untuk Investor

Untuk mempercepat pertumbuhan, pemerintah daerah membuka pintu selebar-lebarnya bagi investor. Kemudahan perizinan menjadi salah satu prioritas utama.

“Kami siapkan karpet merah bagi investor. Perizinan dipermudah, dan kami pastikan mereka mendapatkan kepastian serta kenyamanan dalam berusaha,” ujar Bupati Barru.

Namun, investasi yang masuk tidak hanya diharapkan membawa modal, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Pemerintah menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia agar masyarakat tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga mampu menempati posisi strategis di perusahaan.

Pariwisata: “Bali”-nya Sulawesi Selatan?

Dari sisi pariwisata, Barru menawarkan lanskap yang lengkap. Wisata bahari seperti snorkeling dan diving menjadi andalan, didukung oleh keberadaan pulau-pulau kecil yang eksotis.

Di kawasan pegunungan, terdapat destinasi seperti Lapawona—hamparan savana di ketinggian yang menawarkan panorama alam yang unik. Ke depan, kawasan ini direncanakan menjadi pusat eco-edu wisata, termasuk pengembangan peternakan sapi perah yang terintegrasi dengan produksi susu hingga olahan seperti keju.

Ambisi besar pun mulai digaungkan: menjadikan Barru sebagai “Bali baru” di Sulawesi Selatan, dengan konsep wisata terpadu yang memadukan alam, budaya, dan ekonomi kreatif.

Tantangan Fiskal dan Optimisme

Di balik berbagai rencana besar, Barru masih menghadapi tantangan klasik: keterbatasan anggaran. Pendapatan asli daerah yang relatif kecil membuat pemerintah harus kreatif mencari terobosan.

Meski demikian, optimisme tetap terjaga. Dalam satu tahun terakhir, indikator makro menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi meningkat dari 4,93 persen pada 2024 menjadi 5,16 persen, melampaui rata-rata nasional. Tingkat pengangguran dan kemiskinan juga menunjukkan penurunan.

“Transformasi ini mulai terlihat hasilnya. Ini menjadi harapan besar bagi kami,” ungkap Andi Ina.

Menatap Masa Depan

Target besar Barru ke depan adalah menjadi daerah yang mandiri secara ekonomi, dengan pemerataan kesejahteraan yang lebih baik. Investasi, pariwisata, dan penguatan sektor unggulan diharapkan menjadi pilar utama.

Lebih dari itu, transformasi ini juga diharapkan mampu mengubah pola migrasi masyarakat. Generasi muda Barru tidak lagi harus merantau jauh untuk mencari pekerjaan, tetapi justru kembali dan membangun daerahnya sendiri.

Barru kini bukan lagi sekadar lintasan. Ia sedang menulis babak baru sebagai daerah tujuan—dengan segala potensi dan harapan yang menyertainya.