Muliadi Saleh | Ketahanan Pangan dalam Kepungan Kemarau Ekstrem

  • Whatsapp
Ilustrasi kekeringan oleh AI

Ia adalah doa yang ditanam dalam bentuk genetika. Bertahan di tengah panas, tumbuh di tengah keterbatasan. Tetapi benih tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan sistem yang mendukung yaiti penyuluh yang hadir, distribusi yang tepat, dan kebijakan yang berpihak.

Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

PELAKITA.ID – Kemarau ekstrem bukan sekadar fenomena cuaca. Ia juga mencakup sampai pada  relasi antara manusia dan lingkungannya.

Dalam siatem seperti ini, ketahanan pangan bukan lagi jargon kebijakan, melainkan soal kehidupan sehari-hari kita.

Tentang bagaimana kita menjaga agar kebutuhan pangan tetap tersedia, dapur tetap mengepul dan piring-piring makan kita tetap terisi dan cukup. Bahkan ketika langit enggan berbagi hujan.

Maka, pertanyaannya bukan hanya bagaimana kita bertahan? Tetapi lebih dalam apakah kita telah cukup bijak dan siap menghadapi cuaca ekstrem?

Ketahanan pangan di musim kemarau, tidak bisa tidak dimulai dari kesadaran paling mendasar. Bahwa air adalah takdir pertama dan kebutuhan paling fundamental dari setiap tanaman yang tumbuh, dari setiap bulir padi yang dipanen.

Kita sudah harus menyadari dan tidak lagi menganggap air melimpah sebagai sesuatu yang tersedia tak terbatas. Menganggap air adalah sesuatu yang tidak harus dirawat.

Padahal, di masa depan yang semakin tak menentu, setiap tetes air adalah keputusan politik, keputusan ekologis, dan sekaligus keputusan moral.

Di desa-desa, embung kecil seharusnya tidak lagi dipandang sebagai proyek, tetapi sebagai peradaban. Sumur-sumur dangkal bukan sekadar lubang di tanah, melainkan tabungan kehidupan.

Irigasi bukan hanya soal saluran, tetapi tentang keadilan distribusi.

Siapa yang mendapat air lebih dulu, dan siapa yang menunggu dengan cemas di hilir. Namun air saja tidak cukup jika kita masih memaksakan cara lama pada musim yang telah berubah.

Kalender tanam yang diwariskan turun-temurun kini perlu berdialog dengan data, dengan sains, dengan prediksi iklim yang disusun oleh para peneliti. Pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang seminar; ia harus turun ke lumpur, menyapa petani, dan menjadi bagian dari keputusan harian mereka.

Benih, dalam hal ini, adalah bentuk paling asazi dari harapan. Di tangan yang tepat, varietas tahan kekeringan bukan hanya inovasi, tetapi penyelamat.

Ia adalah doa yang ditanam dalam bentuk genetika. Bertahan di tengah panas, tumbuh di tengah keterbatasan. Tetapi benih tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan sistem yang mendukung yaiti penyuluh yang hadir, distribusi yang tepat, dan kebijakan yang berpihak.

Di sisi lain, kita juga perlu belajar melepaskan ketergantungan yang terlalu sempit. Beras memang identitas, tetapi ketahanan pangan tidak boleh menjadi tawanan satu komoditas.

Sorgum, singkong, sagu, dan umbi-umbian adalah ingatan lama yang perlu dihidupkan kembali. Mereka bukan pangan kelas dua; mereka adalah strategi bertahan yang telah teruji oleh waktu.

Ketika produksi terganggu, cadangan menjadi penyangga terakhir.

Di sinilah peran lembaga seperti Perum Bulog menemukan makna dan perannya yang paling mendasar yakni  menjaga agar kepanikan tidak menjelma menjadi krisis. Namun negara tidak bisa bekerja sendiri. Lumbung pangan desa, solidaritas komunitas, dan jaringan distribusi yang adil harus menjadi simpul-simpul yang saling menguatkan.

Lebih jauh lagi, kita hidup di zaman ketika data bisa membaca masa depan. Sistem peringatan dini bukan lagi kemewahan, tetapi kebutuhan.

Informasi cuaca, pola iklim, hingga rekomendasi tanam harus hadir di genggaman petani secara sederhana, mudah dipahami, dan tepat waktu. Sebab dalam pertanian, keterlambatan informasi sering kali berarti kehilangan satu musim.

Tetapi semua strategi ini akan kehilangan ruhnya jika kita melupakan satu hal yaitu petani. Mereka adalah penjaga paling sunyi dari ketahanan pangan kita.

Ketika kemarau datang, merekalah yang pertama merasakan getirnya. Maka melindungi petani bukan sekadar kebijakan ekonomi, tetapi keputusan etis.

Asuransi pertanian, subsidi input, dan kepastian harga bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan bentuk keadilan.

Kemarau ekstrem, pada akhirnya, adalah ujian tentang seberapa jauh kita mampu berubah. Ia memaksa kita meninggalkan cara lama, dan menuntun kita menuju pertanian yang lebih cerdas iklim, lebih hemat sumber daya, dan lebih menghargai keseimbangan alam.

Kita tidak bisa lagi hanya bereaksi. Kita harus merancang. Kita harus menenun ketahanan pangan dari hal-hal yang tampak kecil.  Dari setetes air yang ditampung, dari benih yang dipilih dengan bijak, dari keputusan kolektif yang tidak menunda masa depan.

Sebab di balik setiap musim yang keras, selalu ada peluang untuk menjadi lebih tangguh.
Dan mungkin, di suatu hari nanti, ketika hujan kembali datang dengan cara yang berbeda, kita sudah tidak lagi panik.

Kita telah belajar. Kita telah bersiap. Dan kita tetap menikmati makan dengan rasa syukur yang lebih dalam, dan kesadaran yang lebih utuh.
_____
Muliadi Saleh:
“Menulis Makna, Membangun Peradaban”