Orasi Guru Besar Ayub Anwar | Transformasi Digital untuk Membangun Generasi Bebas Karies di Era Teknologi

  • Whatsapp
Prof Ayub bersama Prof Anas dan Prof Anis di Unhas, 2 Desember 2025 (dok: Istimewa)

Satu lagi anggota rumpun Keluarga Anwar Makkatutu meraih gelar Guru Besar, setelah Prof Anis Anwar dari Kedokteran Umum, lalu disusul Prof Anas Iswanto dari FEB Unhas, kali ini Prof Ayub Irmadani Anwar dari Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Hasanuddin.

Mari simak pidato Prof Ayub pada pengukuhan Guru Besarnya yang digelar di Lantai 2 Rektorat Unhas, Selasa, 2 Desember 2025

PELAKITA.ID – Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan umum dan memiliki peran penting dalam kualitas hidup seseorang. Sayangnya, masalah karies gigi masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Karies gigi menempati posisi dominan dalam beban penyakit global dan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar dunia.

Ilustrasi perawatan gigi dengan aplikasi AI (ilustrasi by Gemini AI)

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2018), prevalensi karies di Indonesia mencapai 88%, sementara Survei Kesehatan Indonesia (2023) melaporkan angka 82,8%, terutama pada kelompok anak-anak dan remaja.

Data ini menunjukkan bahwa upaya promotif dan preventif yang telah dilakukan selama ini belum sepenuhnya efektif dalam menekan angka karies di masyarakat.

Tingginya prevalensi ini menuntut adanya pendekatan baru yang lebih adaptif dan inovatif dalam promosi dan pencegahan penyakit gigi.

Tantangan Kesehatan Gigi dan Kebutuhan Transformasi Digital

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa penyakit mulut adalah masalah kesehatan masyarakat global yang harus diintegrasikan dalam agenda kesehatan umum. Transformasi digital dalam promosi dan preventif kesehatan gigi menjadi jawaban atas tantangan tersebut.

Digital health, menurut WHO (2021), merupakan strategi global untuk meningkatkan akses, efektivitas, dan efisiensi layanan kesehatan, sekaligus memperluas jangkauan edukasi dan perubahan perilaku masyarakat.

Perkembangan teknologi digital memungkinkan masyarakat memperoleh informasi kesehatan gigi yang komprehensif secara lebih mudah dan cepat.

Implementasi inovasi digital, mulai dari teledentistry, aplikasi edukasi kesehatan gigi, chatbot berbasis Artificial Intelligence (AI), hingga dashboard perilaku kesehatan berbasis big data, telah terbukti meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.

Transformasi digital bukan sekadar alat bantu komunikasi, melainkan paradigma baru dalam sistem kesehatan masyarakat modern yang berfokus pada promotif dan preventif.

Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas membentuk ekosistem digital kesehatan yang adaptif, etis, dan berkelanjutan. Pendekatan pentahelix—yang melibatkan Government, Academics, Business, Community, dan Media—menjadi model ideal dalam menguatkan sistem promosi kesehatan digital di Indonesia.

Era Transformasi Digital dalam Kesehatan Gigi

Perkembangan teknologi informasi telah menggeser paradigma layanan kesehatan dari pendekatan klinis menjadi promotif-preventif yang bersifat adaptif, personal, dan berbasis data.

Media sosial, aplikasi kesehatan, teledentistry, dan AI kini menjadi sarana utama dalam promosi dan pencegahan karies. Aplikasi edukatif, platform interaktif, serta materi audio visual memungkinkan penyampaian informasi kesehatan gigi yang relevan, menarik, dan mudah dipahami masyarakat.

Transformasi digital menempatkan masyarakat sebagai partisipan aktif. Pendekatan digital memungkinkan edukasi kesehatan gigi menjadi interaktif, berkesinambungan, dan personal.

Misalnya, aplikasi pengingat menyikat gigi dan platform gamifikasi memberikan rekomendasi berdasarkan perilaku individu, sehingga mendorong perubahan kebiasaan yang lebih konsisten.

Transformasi ini menegaskan bahwa digitalisasi kesehatan gigi tidak hanya adaptasi teknologi, tetapi kebutuhan untuk menjawab perubahan gaya hidup dan perilaku masyarakat modern (Anwar et al., 2025).

Dampak Positif Transformasi Digital

Transformasi digital di bidang kesehatan gigi memberikan dampak positif yang signifikan. Pertama, masyarakat kini memiliki akses lebih luas terhadap informasi kesehatan gigi, termasuk di daerah terpencil yang sebelumnya sulit terlayani.

Kedua, efisiensi waktu dan biaya meningkat, misalnya melalui teledentistry UKGS yang memungkinkan konsultasi jarak jauh tanpa kunjungan langsung.

Ketiga, literasi dan keterlibatan masyarakat meningkat melalui konten interaktif, pengingat digital, dan komunikasi yang lebih mudah dengan tenaga kesehatan gigi.

Selain itu, digitalisasi memungkinkan layanan kesehatan yang bersifat personalisasi. Rekomendasi dan intervensi dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebiasaan individu.

Contohnya, AI dalam radiografi digital dapat memprediksi risiko karies secara spesifik, sedangkan aplikasi pengingat menyikat gigi menyesuaikan dengan pola hidup pengguna. Personalisasi ini meningkatkan relevansi intervensi dan efektivitas perubahan perilaku.

Inovasi Digital untuk Promosi dan Preventif Karies

Berbagai inovasi digital telah dikembangkan untuk mempromosikan kesehatan gigi dan mencegah karies. Aplikasi edukasi interaktif menyediakan informasi pencegahan, kuis, dan panduan perawatan gigi dengan metode audio visual yang menarik.

Pendekatan ini mendukung strategi preventif yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern.

Transformasi digital dan inovasi digital merupakan dua konsep yang saling melengkapi.

Transformasi digital menciptakan perubahan holistik pada operasional dan pola pikir, sementara inovasi digital menghasilkan produk, layanan, dan solusi berbasis teknologi.

Bersama-sama, keduanya membentuk ekosistem yang mendukung promosi dan pencegahan karies secara lebih efektif dan luas.

Tantangan dan Solusi Implementasi

Meskipun menawarkan potensi besar, implementasi transformasi digital menghadapi beberapa tantangan. Akses teknologi yang tidak merata, keamanan data, dan risiko penyebaran informasi yang salah menjadi hambatan utama.

Solusi strategis mencakup peningkatan literasi digital masyarakat, pengembangan infrastruktur di daerah tertinggal, pelatihan tenaga kesehatan agar adaptif terhadap teknologi, serta penggunaan sistem aman untuk perlindungan data.

Pendekatan kolaboratif pentahelix menjadi kunci. Pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media harus bersinergi dalam mengembangkan program digital yang menarik, berkelanjutan, dan berbasis bukti.

Pendekatan ini memastikan inovasi digital benar-benar efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Rekomendasi Strategis dan Masa Depan

Strategi kebijakan menjadi penentu keberhasilan transformasi digital. Penguatan regulasi yang mendukung platform digital, pengembangan konten interaktif, dan kolaborasi lintas sektor sangat penting. Teknologi seperti Internet of Things (IoT) dapat digunakan sebagai pengingat kesehatan gigi, sementara data digital membantu deteksi dini dan edukasi yang personal.

Transformasi digital adalah masa depan promosi kesehatan gigi. Dengan dukungan kebijakan tepat, kesiapan infrastruktur, dan etika profesi yang terjaga, inovasi digital dapat membentuk generasi bebas karies.

Fokus penelitian dan pengembangan harus terus mendorong aplikasi praktis dan intervensi berbasis bukti yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Kontribusi Ilmiah dan Temuan Penelitian

Beberapa temuan penelitian yang mendukung transformasi digital antara lain:

  1. Media Animated Audio-Visual Education: Animasi edukatif meningkatkan pengetahuan dan perilaku menyikat gigi anak usia sekolah (Enfermeria Clinica, 2020).

  2. Model Promosi Digital Berbasis Sekolah: Pendampingan guru dan aplikasi edukatif multimedia meningkatkan perilaku menjaga kebersihan gigi di sekolah dasar (Doctoral dissertation, Universitas Hasanuddin, 2020).

  3. Faktor Psikososial dan Status Kesehatan Mulut Anak: Aspek psikososial seperti kecemasan anak, tekanan orang tua, dan akses layanan kesehatan memengaruhi penurunan karies (Pesquisa Brasileira em Odontopediatria e Clínica Integrada, 2024).

  4. Motivational Interview Berbasis Aplikasi: Meningkatkan kepatuhan remaja menjaga kebersihan gigi (Int J Dent Hyg, 2020).

  5. Metode Demonstrasi Interaktif: Efektif meningkatkan pengetahuan menyikat gigi (Enfermería Clínica, 2020).

  6. Motivational Interviewing pada Ibu Hamil: Memperkuat motivasi internal ibu hamil dalam menjaga kesehatan gigi (Makassar Dental Journal, 2024).

  7. Game-Based Education: Metode berbasis permainan meningkatkan pengetahuan dan perilaku anak terkait kesehatan gigi (Open J Clin Med Images, 2022).

  8. Teledentistry Ibu Hamil: Edukasi jarak jauh meningkatkan pemahaman dan kunjungan pemeriksaan gigi (J Public Health Dent, 2021).

  9. Pencegahan Kesehatan Gigi Stunting dengan Media Video: Penyuluhan audiovisual efektif meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi (Miracle Journal of Health Sciences and Research, 2024).

  10. Chatbot Berbasis AI: Edukasi interaktif meningkatkan retensi informasi sebesar 60% dibanding metode konvensional (J Health Inform Technol, in press, 2025).

  11. Inovasi Bahan Lokal Produk Preventif: Eksplorasi hydroxyapatite dari sardinella fimbriata untuk pasta gigi efektif, aman, dan terjangkau (BMC Oral Health, 2025).

  12. Metode Art Therapy: Meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut melalui proses belajar yang menyenangkan (J Dentomaxillofac Sci, 2025).

Kesimpulan

Transformasi digital membuka peluang besar untuk meningkatkan efektivitas promosi dan preventif kesehatan gigi masyarakat. Inovasi digital, mulai dari multimedia interaktif, teledentistry, hingga produk berbasis bioteknologi, terbukti efektif membangun generasi bebas karies.

Dukungan kebijakan, kolaborasi lintas sektor, dan penelitian berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan strategi ini.

Transformasi digital adalah strategi utama dalam membangun generasi bebas karies di Indonesia. Teknologi digital memperluas jangkauan intervensi, meningkatkan kualitas dan efisiensi layanan, serta menjamin keberlanjutan program promotif dan preventif kesehatan gigi.

Dengan komitmen akademisi, pemerintah, dan masyarakat, Indonesia dapat mewujudkan generasi bebas karies dan siap menghadapi Indonesia Emas 2045.

Ke depan, roadmap lima tahun harus mencakup pembentukan pusat riset promosi dan preventif kesehatan gigi berbasis pentahelix, yang mampu mengelola pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan inovasi digital secara berkesinambungan.

Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, kita dapat membentuk generasi yang sehat secara menyeluruh, berpengetahuan, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Profil Akademik dan Profesional Prof. Dr. drg. Ayub Irmadani Anwar, M.Med.Ed., FISDPH., FISPD.

Prof. Dr. drg. Ayub Irmadani Anwar, lahir di Ujung Pandang pada 29 Desember 1965, adalah seorang tokoh akademisi dan praktisi kesehatan gigi yang berpengaruh di Indonesia.

Mengikuti jejak keluarganya yang berkiprah di dunia kesehatan, Ayub menekuni bidang kedokteran gigi dengan fokus pada promosi dan pencegahan kesehatan gigi masyarakat. Ia saat ini menjabat sebagai Guru Besar dan Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, Makassar.

Prof Ayub dan istri, dr. Irma Helina Amiruddin, SpKK (dok: Istimewa)

Ayub menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Makassar, sebelum melanjutkan studi sarjana di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (1986–1994).

Ia kemudian menempuh program S2 di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (2008–2014) dan meraih gelar doktor di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (2018–2020). Seiring karier akademiknya, ia juga memperoleh sejumlah penghargaan prestisius, termasuk Satyalancana Karya Satya X, XX, dan XXX tahun, serta penghargaan sebagai lulusan terbaik program doktor dan alumni terbaik Universitas Hasanuddin.

Karier profesional Ayub berfokus pada pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di bidang kesehatan gigi. Sejak 1995, ia aktif sebagai dosen FKG Unhas, dan pernah menjabat sebagai Ketua Dental Education Unit (DEU) dan Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Gigi.

Sejak 2018, ia memimpin Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan, serta terlibat aktif dalam berbagai organisasi profesional dan kemasyarakatan, termasuk PDGI, IPKESGIMI, dan IKA Smansa Makassar.

Dalam lima tahun terakhir, Prof. Ayub secara konsisten melakukan pengabdian masyarakat, mulai dari pelatihan penyuluh kesehatan gigi berbasis multimedia interaktif, bakti sosial di sekolah-sekolah dasar, hingga program teledentistry untuk ibu hamil dan anak-anak.

Upaya ini mencerminkan komitmennya terhadap pemerataan akses layanan kesehatan gigi, khususnya di daerah terpencil.

Prof. Ayub juga dikenal produktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah. Ia telah menulis buku ajar penting di bidang promosi kesehatan gigi dan penelitian kedokteran gigi, serta memiliki berbagai hak cipta dan paten, termasuk pengembangan aplikasi interaktif M-Pi Dent untuk pelatihan penyuluh kesehatan gigi dan chatbot berbasis AI untuk edukasi masyarakat.

Publikasinya tersebar di jurnal nasional maupun internasional, membahas topik mulai dari metode edukasi interaktif, motivational interviewing untuk ibu hamil, hingga penggunaan hydroxyapatite dari sumber lokal dalam pasta gigi.

Kehidupan pribadi Prof. Ayub juga mencerminkan dedikasinya terhadap pendidikan dan kesehatan. Ia adalah putra dari almarhum Prof. dr. Muh. Anwar Makatutu SpKK dan Iesje Anwar. Bersama istrinya, dr. Irma Helina Amiruddin, SpKK, mereka membesarkan empat anak yang juga menekuni bidang kesehatan.

Dengan rekam jejak akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang luas, Prof. Dr. drg. Ayub Irmadani Anwar telah menjadi figur penting dalam transformasi promosi dan preventif kesehatan gigi di Indonesia.

Kiprah dan inovasinya, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital, berperan strategis dalam membentuk generasi bebas karies dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara luas.

Editor Denun