Sebulan Mencari Paus: Kisah Abdi Wunanto Hasan, Alumni Kelautan Unhas di Samudra Hindia

  • Whatsapp
Abdi Wunanto hasan (ujung kanan)

Mengejar Bayang-Bayang Raksasa Laut Bersama Pemburu Mamalia Laut

PELAKITA.ID – Di tengah hamparan Samudra Hindia yang seolah tak berujung, sebuah kapal riset besar—Ocean Explorer—menjadi rumah sementara bagi para ilmuwan, kru media, dan penjelajah laut.

Kapal riset paling canggih yang pernah dibangun ini dilengkapi perangkat mutakhir, laboratorium terapung, dan helikopter khusus untuk survei mamalia laut. Namun teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan kejelian manusia: di sinilah peran Abdi Wunanto Hasan, alumni Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin, menjadi sangat penting.

Selama satu bulan penuh, Abdi terlibat dalam ekspedisi ekologi laut yang bertujuan mendokumentasikan mamalia laut—terutama paus—serta menghasilkan data ilmiah bagi upaya konservasi Indonesia.

Bersama tim kecil dari OceanX dan Conservas Indonesia, Abdi yang merupakan alumni Ilmu Kelautan pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikana Unhas angkatan 2007 ini melintasi ribuan mil laut, membuka tirai misteri yang selama ini menyelimuti perairan di barat Sumatra.

Ekspedisi itu bukan sekadar perjalanan sains. Ia adalah pencarian yang memadukan kesabaran, keberanian, dan rasa ingin tahu—ciri khas seorang peneliti laut sejati.

The Science Team

Misi Utama: Mengetahui Apa yang Hidup di Perairan Barat Sumatra

Meski banyak orang mengenalnya sebagai ekspedisi pencarian paus, misi utama perjalanan ini jauh lebih besar: memetakan keanekaragaman mamalia laut, termasuk lumba-lumba, paus besar, hingga spesies langka yang selama ini jarang atau bahkan tidak pernah terpantau.

Bersama tim Konservasi Indonesia (CI), Abdi menjadi “mata ilmiah” dari udara.

Setiap temuan dari helikopter harus dicatat, difoto, dan diidentifikasi. Data ini sangat penting untuk:

  • Menentukan populasi spesies tertentu

  • Mengetahui pola migrasi

  • Memetakan kawasan penting mamalia laut

  • Memberi rekomendasi kebijakan konservasi kepada pemerintah Indonesia

“Kekurangan data tentang mamalia laut di Samudra Hindia merupakan celah besar dalam ilmu pengetahuan. Banyak spesies hanya dikenal dari beberapa catatan acak, beberapa lainnya bahkan baru ditemukan dalam dua dekade terakhir,” kata Abdi.

Karena itu, kata dia, ekspedisi ini tidak hanya mendokumentasikan, tetapi juga menjawab pertanyaan besar tentang kehidupan laut Indonesia.

Laut, Helikopter, dan Tantangan Bernama Ketidakpastian

Setiap hari, tim helikopter hanya diberi satu kali penerbangan. Itu berarti satu kesempatan. Satu peluang untuk menemukan raksasa laut yang bisa saja berada di bawah mereka, namun tak pernah muncul ke permukaan.

Sebagian kru media bahkan belum pernah memegang kamera dari helikopter sebelumnya. Namun Abdi—yang sudah terbiasa membaca pola arus, gerakan permukaan air, dan tanda-tanda kehidupan—menjadi sosok kunci dalam mengarahkan pandangan tim.

Hari-hari pertama membawa kejutan menyenangkan. Mereka menemukan ratusan lumba-lumba spinner, bergerak harmonis seperti tarian yang telah dipentaskan jauh sebelum manusia mengenal sains.

“127 ekor,” ujar Abdi setelah menghitung satu kelompok besar yang berenang di bawah bayang heli.

Namun meski lumba-lumba muncul hampir setiap penerbangan, paus tetap menjadi siluet tak berwujud—hadir sebagai harapan, bukan kenyataan.

Menemukan yang Mustahil di Samudra Tak Bertepi

Laut terkadang memberi, terkadang menyembunyikan. Ada hari-hari ketika helikopter menyusuri samudra selama berjam-jam tanpa melihat apa pun. Hanya garis horizon yang seolah tidak berubah.

Hingga suatu hari, sebuah pergerakan samar di permukaan laut terlihat.

“Saya lihat sesuatu!”
Teriakan itu menjadi titik balik.

Bayangan itu muncul sebentar, lalu hilang begitu cepat. Namun cukup lama untuk meningkatkan denyut nadi seluruh kru.

Beberapa hari kemudian, keberuntungan itu berubah menjadi momen yang tak akan dilupakan siapa pun di helikopter.

Abdi Wunanto hasan (ujung kanan)

Paus Omura: Perjumpaan dengan Spesies Misterius

“Kami lihat paus!”

Pekikan itu menggema di udara ketika tubuh besar berwarna kelabu gelap muncul perlahan. Abdi lalu memperhatikan pola garisnya dan letak siripnya.

Hasilnya jelas:

Paus Omura — salah satu paus paling langka di dunia.

  • Dikonfirmasi sebagai spesies tersendiri pada 2003

  • Diakui resmi pada 2015

  • Data migrasi, populasi, dan distribusinya masih minim

  • Jarang terlihat, apalagi direkam dari udara

Perjumpaan itu bukan hanya keberuntungan. Bagi sebagian ilmuwan di dalam helikopter, itu adalah momen terbaik sepanjang karier mereka.

Dan bagi Abdi, itu adalah bukti bahwa sains, ketekunan, dan sedikit keberuntungan bisa membuka tabir spesies yang sangat misterius.

Ketika Laut Mengingatkan Akan Fragilitasnya

Namun keindahan laut tidak selalu menghadirkan kebahagiaan. Dalam salah satu penerbangan, tim menemukan sosok yang awalnya dikira hiu mati. Ketika helikopter mendekat, terlihat jelas:

Seekor anak paus.
Tersangkut jaring nelayan.
Mengambang tanpa daya di lautan luas.

Abdi dan tim terpukul. Sains sering kali bersisian dengan duka. Momen itu menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap mamalia laut tidak hanya datang dari perburuan, tetapi juga dari praktik-praktik perikanan yang tidak ramah lingkungan.

Penutup Misi: Menggerakkan Ilmu Pengetahuan Sedikit Lebih Maju

Selama satu bulan, pencarian itu menghasilkan sesuatu yang luar biasa:

  • 5.000 mil laut penerbangan

  • 45 kali penerbangan helikopter

  • 48 mamalia laut besar berhasil diidentifikasi

  • 2.000+ lumba-lumba tercatat

  • Rekaman jelas dari paus Omura, salah satu paus paling jarang terlihat

Seluruh data ini sedang disusun menjadi laporan ilmiah untuk pemerintah Indonesia. Kontribusi Abdi bukan hanya sebagai ilmuwan yang mengamati, tetapi sebagai bagian dari generasi baru peneliti laut Indonesia yang membawa ilmu lokal ke panggung global.

Samudra terlalu luas untuk dipahami sepenuhnya, tetapi cukup rapuh untuk rusak oleh manusia.

Karena itu, setiap data, setiap foto, setiap momen perjumpaan dengan mamalia laut adalah langkah kecil menuju masa depan laut yang lebih terlindungi.

Dan di antara birunya Samudra Hindia, Abdi Wunanto Hasan telah mengambil peran penting—menjadi saksi, pencatat, dan penjaga cerita tentang para raksasa laut yang setia menjaga keseimbangan bumi.

Sumber:  [https://pelakita.id/wp-admin/post-new.php]