MBG, Manifestasi Materi, Batin, dan Gairah

  • Whatsapp
Ilustrasi MBG

PELAKITA.ID – Suatu sore, seorang sahabat mengirim pesan singkat melalui WhatsApp. Hanya tiga huruf: MBG.

Saya mengira ia sedang bercanda, mungkin merujuk pada sebuah program sosial atau akronim baru yang sedang tren. Namun ia segera membalas, seolah ingin meluruskan: “MBG itu Materi, Batin, dan Gairah.”

Tiga kata yang tampak sederhana, tetapi sejatinya adalah tiga pintu besar yang menuntun manusia memahami dirinya. Materi, Batin, dan Gairah—tiga poros yang menggerakkan kehidupan modern, tiga sumbu yang menentukan langkah-langkah kita, disadari maupun tidak.

Materi: Dunia Kasat Mata

Materi hadir dalam bentuk uang, aset, pangan, pekerjaan—apa saja yang membuat tubuh terpelihara dan hidup terasa stabil. Dalam ekonomi perilaku, materi bukan hanya alat, tetapi simbol rasa aman. Kita mengejarnya dengan tekun: bekerja, menyimpan, merencanakan masa depan.

Namun para psikolog mengingatkan bahwa materi mudah berubah menjadi ilusi. Ketika ia berada di tangan, keinginan justru bertambah; ketika ia menjauh, kecemasan menebal. Materi menjaga manusia tetap berdiri, tetapi terlalu bersandar padanya membuat kita lupa untuk apa kita berdiri.

Batin: Rumah yang Kita Lupakan

Jika materi adalah rumah bagi tubuh, maka batin adalah rumah bagi jiwa. Di sinilah manusia menyimpan luka, doa, harapan, dan mantra yang menjaga dirinya tetap utuh. Di sinilah pula kita bernegosiasi dengan diri sendiri.

Dalam psikologi humanistik, batin dipahami sebagai pusat keseimbangan—tempat emosi bertaut dengan makna. Ia membutuhkan hening, perawatan, dan ruang untuk berdamai. Ironisnya, dalam dunia yang bergerak cepat, batin sering menjadi ruang yang paling jarang kita kunjungi.

Padahal dari batinlah lahir ketenangan, empati, visi, dan kemampuan membaca arah hidup. Batin yang sehat tidak membuat seseorang sempurna, tetapi membuatnya teguh berjalan meski jalannya sunyi.

Gairah: Api yang Menghidupkan

Gairah adalah energi yang menghidupkan manusia. Ia adalah api kecil di dada—yang jika terpelihara mampu menerangi perjalanan, tetapi jika padam, dunia terasa hambar meski materi berlimpah dan batin terjaga.

Dalam teori motivasi modern, gairah disebut intrinsic drive—dorongan yang tidak lahir dari hadiah, ancaman, atau sorakan orang lain. Ia lahir dari kesadaran bahwa hidup harus dijalani dengan cinta. Gairah-lah yang membuat seseorang bangun lebih pagi, belajar lebih tekun, bekerja lebih tulus.

Tanpa gairah, materi hanya angka; batin hanya ruang kosong.
Dengan gairah, perjuangan menjadi petualangan, dan hidup menjadi perjalanan kreatif.

MBG: Keselarasan yang Menjadikan Hidup Utuh

MBG—Materi, Batin, Gairah—adalah tiga serangkai yang jarang disatukan dalam satu konsep, padahal ketiganya saling membutuhkan.

  • Materi menyediakan alas untuk berdiri.

  • Batin menyediakan arah untuk melangkah.

  • Gairah menyediakan api untuk terus berjalan.

Jika salah satu timpang, hidup goyah.
Jika ketiganya selaras, hidup menjadi perjalanan yang utuh—membumi sekaligus berbintang.

Mungkin sahabat saya tidak bermaksud sedalam itu. Mungkin ia hanya melempar singkatan sambil tertawa kecil. Namun hidup sering bekerja seperti itu: hal-hal sederhana membuka pintu renungan panjang.

MBG dalam Konteks Sosial Kita

MBG bukan teori baru. Ia sekadar pemantik kesadaran tentang apa yang seharusnya diprioritaskan sesuai kebutuhan diri, lingkungan, dan masyarakat. Bahkan jika dikaitkan dengan Makan Bergizi Gratis (MBG), ia tetap relevan:
Bisakah kita “memberi makan” anak-anak didik kita dengan mata batin yang jernih, dengan gairah pemihakan yang tulus? Atau justru sebaliknya?

Bisa jadi MBG yang dimaksud sahabat saya hanyalah pengingat halus bahwa manusia membutuhkan ketercukupan, kedalaman, dan nyala—agar tidak sekadar hidup, tetapi benar-benar hidup. Diksi itu terasa menggelitik, terutama ketika bangsa ini menyaksikan praktik-praktik MBG yang masih jauh dari harapan ideal.

Dan di antara pesan singkat itulah, saya kembali menemukan bahwa perjalanan batin manusia kerap dimulai dari tiga huruf kecil yang muncul di layar ponsel pada sore yang biasa.

Muliadi Saleh
Esais Reflektif & Direktur Eksekutif Lembaga SPASIAL