PERSONA | Prof Mahatma Lanuru, Dedikasi untuk Unhas, dari Sedimen Laut hingga Mengelola Fakultas

  • Whatsapp
Ilustrasi Prof Mahatma Lanuru (image by Pelakita)
  • Penelitiannya mencakup berbagai inovasi mitigasi abrasi, termasuk teknik hybrid shoreline stabilization, yang menggabungkan pendekatan rekayasa pantai dengan solusi berbasis ekosistem.
  • Mahatma juga aktif dalam Seagrass Restoration & Ecosystem Services Research Group. Di sini ia mempelajari peran padang lamun dalam menyimpan karbon, menopang keanekaragaman hayati, dan menstabilkan garis pantai. Pendekatan restorasi lamun berskala besar yang ia kembangkan menjadi rujukan bagi upaya rehabilitasi pesisir di berbagai wilayah di Indonesia.

PELAKITA.ID – Prof. Dr. Mahatma Lanuru, M.Sc adalah salah satu akademisi Kelautan terkemuka di Indonesia dalam bidang oseanografi dan dinamika sedimen. Kiprahnya di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, melampaui sekadar peran sebagai akademisi atau semata berkawan mikroskop di laboratorium hening di Tamalanrea, Makassar.

Ia dikenal sebagai peneliti yang visioner, pemimpin fakultas yang progresif, serta ilmuwan yang mendedikasikan keahliannya untuk perlindungan dan pengembangan wilayah pesisir dan laut Indonesia.

Jejak akademiknya yang panjang dan kontribusinya yang luas telah menjadikannya figur penting dalam pengembangan ilmu kelautan di tanah air.

Akar Akademik dan Perjalanan Pendidikan

Lahir di Pangkajene, Sidrap, Prof. Mahatma Lanuru menapaki jalur keilmuannya dari kampus yang kemudian menjadi rumah akademiknya: Universitas Hasanuddin.

Ia menempuh pendidikan sarjana (B.Sc) di Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Unhas angkatan 1989 – bergelar Sarjana Teknik – dan lulus dengan prestasi sangat baik.

Semangat belajarnya membawanya terbang ke Eropa, menempuh pendidikan magister (M.Sc) hingga Ph.D di Denmark   — sebuah institusi dengan reputasi kuat di bidang sains lingkungan kelautan.

Tidak berhenti di sana, ia melanjutkan pendidikan doktoralnya di University of Kiel, Jerman, salah satu pusat penelitian kelautan terbaik dunia, dan meraih gelar Ph.D pada tahun 2004.

Prof Mahatma dikenal akrab alumni Kelautan dan Perikanan, aktif pada sejumlah program kolaborasi kampus dan alumni (dok: pelakita.ID)

Pengalaman akademik internasional ini mengasah keahliannya dalam mempelajari dinamika sedimen, ocean current, dan berbagai proses fisik laut yang memengaruhi ekosistem pesisir.

Pada Februari 2024, perjalanan panjangnya mencapai tonggak penting ketika ia dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Oceanography and Sediment Dynamics di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas. Gelar ini mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pakar utama dalam bidangnya.

Peran di Kampus: Pengajar, Peneliti, dan Pimpinan

Sebagai profesor dan dosen, Prof. Lanuru mengajar di Departemen Ilmu Kelautan/ Oseanografi FIKP Unhas. Ia juga aktif membimbing mahasiswa magister, termasuk di Program Studi Magister Manajemen Lingkungan.

Sosoknya dikenal sabar, mendalam dalam analisis, dan mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis berdasarkan data oseanografi.

Di bidang riset, kontribusinya sangat menonjol. Ia memimpin Natural Coastal Protection Research Group, sebuah kelompok riset yang berfokus pada perlindungan pesisir berbasis proses alam: dinamika arus, gelombang, transport sedimen, serta restorasi ekosistem.

Penelitiannya mencakup berbagai inovasi mitigasi abrasi, termasuk teknik hybrid shoreline stabilization, yang menggabungkan pendekatan rekayasa pantai dengan solusi berbasis ekosistem.

Mahatma juga aktif dalam Seagrass Restoration & Ecosystem Services Research Group. Di sini ia mempelajari peran padang lamun dalam menyimpan karbon, menopang keanekaragaman hayati, dan menstabilkan garis pantai.

Pendekatan restorasi lamun berskala besar yang ia kembangkan menjadi rujukan bagi upaya rehabilitasi pesisir di berbagai wilayah di Indonesia.

Dalam kepemimpinan akademik, dia  pernah menjabat sebagai Dekan FIKP Unhas. Kepemimpinannya dikenal kuat pada perencanaan strategis, pembenahan tata kelola akademik, dan penguatan riset berbasis kebutuhan pembangunan maritim nasional.

Ia juga berperan aktif dalam kerja sama internasional melalui International Office Unhas, memperluas jejaring kolaborasi dengan universitas dan lembaga riset di berbagai negara. Dia pernah bertugas sebagai kolaborator program internasional antara Unhas dan mitra.

Warisan intelektual Prof Mahatma terletak pada kemampuannya menjembatani antara ilmu dasar dan praktik pengelolaan pesisir. Penelitiannya mengenai dinamika sedimen menjadi fondasi bagi pemahaman proses erosi dan sedimentasi yang sering kali lintas batas administratif.

Dalam orasi guru besarnya berjudul “Peran Oseanografi dan Dinamika Sedimen dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut”, ia menekankan bahwa perencanaan pesisir tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus berbasis data, skala spasial, dan integrasi ekosistem.

Ia menegaskan bahwa mangrove, lamun, dan terumbu karang tidak berdiri sendiri — perubahan arus dan sedimen di satu titik dapat memengaruhi seluruh sistem.

Karena itu, perlindungan pesisir harus mengombinasikan pengetahuan oseanografi fisik dengan strategi mitigasi berbasis ekosistem. Penekanan ini telah memperkuat dasar ilmiah bagi berbagai kebijakan pengelolaan pesisir yang lebih komprehensif.

Mahatma muda bersama sahabat alumni Kelautan Unhas di Negeri Jerman (dok: Istimewa)

Mentor dan Pembangun Generasi Ilmuwan Baru

Selain kontribusi penelitian, peran Prof. Lanuru sebagai mentor tidak kalah penting. Ia membimbing puluhan mahasiswa sarjana, magister, hingga doktor yang kini berkiprah di berbagai institusi pemerintah, LSM, industri maritim, dan universitas.

Ia percaya bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia adalah kunci masa depan pengelolaan pesisir Indonesia.

Kolaborasinya dalam proyek internasional seperti PAIR (Partnership for Australia–Indonesia Research) memberinya peluang untuk memperluas eksposur mahasiswa dan dosen muda pada riset global.

Melalui proyek-proyek seperti ini, ia mendorong transfer pengetahuan antara akademisi, pemerintah, dan sektor industri — menjadikan ilmu pengetahuan relevan bagi pembuat kebijakan.

Di tingkat lokal, riset Putra Polisi ini memberikan kontribusi langsung pada perlindungan pesisir Sulawesi Selatan dan wilayah lain di Indonesia yang rentan terhadap abrasi dan perubahan iklim.

Pendekatannya yang menggabungkan restorasi lamun dengan perencanaan berbasis proses laut memberi solusi yang efektif dan berbiaya lebih rendah dibandingkan pendekatan rekayasa keras murni.

Bagi Unhas, sosoknya memperkuat reputasi kampus sebagai pusat unggulan ilmu kelautan di Indonesia. Ia mendorong peningkatan kualitas penelitian, kerja sama internasional, serta pengembangan infrastruktur laboratorium dan lapang.

Secara ilmiah, kontribusinya terhadap studi dinamika sedimen dan solusi berbasis ekosistem dipandang relevan secara global.

Dengan meningkatnya ancaman kenaikan muka air laut dan kerusakan pesisir, pendekatan-pendekatan yang ia kembangkan menjadi bagian penting dari diskusi internasional mengenai ketahanan pesisir.

Warisan dan Visi Masa Depan

Warisan Prof. Mahatma Lanuru adalah integrasi antara ilmu dasar, kepemimpinan akademik, dan keberpihakan pada lingkungan pesisir.

Ia membayangkan Indonesia yang mengelola pesisirnya tidak sekadar untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga demi keselamatan ekosistem dan generasi mendatang. Ia percaya pada pentingnya solusi berbasis alam—mulai dari restorasi lamun hingga rehabilitasi ekosistem lainnya—sebagai fondasi ketahanan pesisir.

Visinya juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi, baik nasional maupun internasional. Dalam pandangannya, tantangan pesisir tidak dapat ditangani oleh satu disiplin ilmu, apalagi satu institusi. Ilmu, kebijakan, dan masyarakat harus bekerja bersama.

Akhirnya, Prof Mahatma mengingatkan bahwa universitas harus menjadi tempat lahirnya ilmuwan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap berkontribusi pada masyarakat.

Dengan karya, kepemimpinan, dan dedikasinya, ia telah menunjukkan bagaimana seorang ilmuwan dapat memberi dampak luas bagi kampus, daerah, dan dunia ilmu pengetahuan.

Penulis Denun