PERSONA | Prof Andi Iqbal Burhanuddin, Taksonomi Ikan dan Literasi Bijak Mengelola Sumber Daya Ikan

  • Whatsapp
Ilustrasi Prof Andi Iqbal Burhanuddin (dok: Pelakita.ID)
  • Ia menulis dan menyunting sejumlah buku penting, termasuk Biologi Kelautan serta buku panduan ikan terumbu dan iktiofauna kawasan tertentu, yang kini menjadi rujukan wajib dalam kurikulum kelautan di Indonesia.
  • Perpaduan antara pendekatan taksonomi klasik dan pertanyaan ekologis menjadikan karya-karyanya relevan untuk keperluan konservasi maupun kebijakan perikanan.

PELAKITA.ID – Prof. Andi Iqbal Burhanuddin adalah salah satu ilmuwan kelautan terkemuka di Indonesia. Sebagai guru besar di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin (Unhas), ia dikenal luas berkat kepakarannya dalam taksonomi ikan, biologi laut, dan ekologi terumbu karang.

Sejak memulai karier akademiknya pada pertengahan 1990-an, setelah menamatkan studi Kelautan di Unhas, ia telah menjadi sosok sentral dalam pengembangan ilmu kelautan modern di Indonesia Timur.

Mengungkap Kekayaan Ikan Nusantara

Sebagian besar riset Prof. Iqbal berfokus pada systematic ichthyology—ilmu tentang klasifikasi, identifikasi, dan keanekaragaman ikan. Melalui survei lapangan yang intensif, pengumpulan spesimen, dan publikasi panduan identifikasi, ia berhasil mendokumentasikan keragaman ikan di wilayah-wilayah kunci, terutama Kepulauan Spermonde dan kawasan Wallacea.

Kontribusi ini sangat penting mengingat kawasan tersebut termasuk pusat keanekaragaman laut dunia. Data dasar mengenai taksonomi dan distribusi ikan yang ia hasilkan menjadi pijakan utama bagi para peneliti, pengelola kawasan konservasi, dan pemerintah dalam memantau perubahan ekosistem, mengelola stok perikanan, serta merumuskan strategi konservasi yang efektif.

Keunikan perjalanan akademik Prof. Iqbal tidak hanya terletak pada produktivitas ilmiahnya, tetapi juga pada kemampuannya menerjemahkan sains menjadi sumber pembelajaran yang mudah diakses.

Ia menulis dan menyunting sejumlah buku penting, termasuk Biologi Kelautan serta buku panduan ikan terumbu dan iktiofauna kawasan tertentu, yang kini menjadi rujukan wajib dalam kurikulum kelautan di Indonesia.

Buku-buku tersebut tidak sekadar menyajikan data ilmiah, tetapi juga menggabungkan pengetahuan lokal dan konteks ekologi Indonesia, menjadikannya berharga bagi mahasiswa, peneliti, hingga praktisi lapangan seperti penyelam ilmiah dan pengelola sumber daya pesisir.

Dari sisi penelitian, publikasinya mencakup taksonomi deskriptif, daftar spesies, hingga kajian ekologi seperti keterkaitan habitat, komunitas ikan terumbu, dan dinamika harmful algal blooms.

Perpaduan antara pendekatan taksonomi klasik dan pertanyaan ekologis menjadikan karya-karyanya relevan untuk keperluan konservasi maupun kebijakan perikanan. Dia pernah menjadi anggota Komnas Kajiskan, untuk pengkajian stok ikan nasional.

Membangun Generasi Baru Ilmuwan Laut

Kontribusi Prof. Iqbal melampaui publikasi ilmiah. Ia dikenal sebagai pembimbing dan mentor yang berdedikasi, telah membimbing banyak mahasiswa sarjana, magister, dan doktoral. Ia juga aktif melatih ahli biologi lapangan, penyelam ilmiah, dan teknisi laboratorium dalam metode identifikasi spesies, teknik survei, dan pemantauan ekologi.

Kini, banyak alumninya bekerja di lembaga pemerintah, universitas, LSM konservasi, hingga sektor industri kelautan. Melalui mereka, pemikiran dan metode yang ia tanamkan terus berlanjut dan menguatkan kapasitas Indonesia dalam mengelola lautnya.

Prof. Iqbal juga berperan di tingkat nasional sebagai anggota berbagai komite ahli. Ia kerap diminta memberikan masukan dalam penilaian sumber daya ikan, perencanaan tata ruang laut, hingga pengembangan kebijakan konservasi berbasis bukti ilmiah.

Perannya sebagai “jembatan” antara akademisi dan pembuat kebijakan menjadikan ilmu taksonomi dan ekologi yang ia kuasai benar-benar berdampak pada pengelolaan sumber daya laut Indonesia.

Prof Iqbal (kiri) saat hadir di Jepang (dok: Istimewa)

Salah satu peninggalan pentingnya adalah kontribusinya pada pembangunan fasilitas riset di Unhas. Koleksi spesimen ikan yang ia kumpulkan dan kuratori menjadi aset ilmiah jangka panjang: bahan untuk revisi taksonomi, pengujian DNA, penelusuran sejarah ekologi, dan verifikasi identitas spesies.

Koleksi semacam ini sangat krusial untuk memperkuat riset biodiversitas di Indonesia, sekaligus menempatkan Unhas sebagai salah satu pusat penelitian ikan terkemuka di kawasan timur Indonesia.

Mendidik Publik Lewat Tulisan dan Edukasi

Tidak hanya hadir di ruang akademik, Prof. Iqbal aktif menulis di media populer dan kolom edukatif.

Tulisannya tentang sumber daya pesisir, pentingnya biodiversitas, dan tantangan ekologi laut membantu meningkatkan kesadaran publik tentang urgensi menjaga lautan. Upayanya ini berkontribusi pada perubahan cara pandang masyarakat terhadap laut—bukan sekadar ruang eksploitasi, tetapi sistem ekologis yang rapuh dan harus dikelola secara bijak.

Karya bukunya terkait kelautan dan perikanan mencapai puluhan dan menjadi referensi mahasiswa dan publik terutama berkaitan fisiologi ikan.

Jika kita bertanya ke sejumlah mahasiswa atau alumni Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, apa hobby dan minat olahraga Prof Iqbal, maka itu adalah Kempo. Sejak mahasiswa dia aktif di olahraga asal Negeri Samurai tersebut. Dia telah mendidik ribuan anak muda untuk gandrung dan menjadikan Kempo sebagai ilmu bela diri dan kemanusiaan.

Menulis dan menerbitkan buku bersama direktur Museum Kagoshima Univ Jepang, Prof. Hiroyuki Motomura., Ph.d. (dok: FB Prof Andi Muhammad Iqbal)

Iqbal adalah alumni SMA di Wajo dan merupakan satu dari ratusan Guru Besar asal Wajo yang tersebar di antero Nusantara dan dunia.

Jejak Warisan Keilmuan

Warisan Prof. Andi Iqbal Burhanuddin dapat diringkas dalam tiga pilar utama:

  1. Dokumentasi Biodiversitas yang Fundamental
    Inventarisasi spesies, panduan identifikasi, dan karya taksonominya menjadi referensi dasar yang sangat dibutuhkan untuk riset dan pengelolaan perikanan di kawasan yang datanya masih minim.

  2. Penguatan SDM Kelautan Indonesia
    Melalui buku ajar, kursus lapangan, dan bimbingan mahasiswa, ia telah membangun generasi baru ilmuwan dan praktisi kelautan yang kompeten.

  3. Translasi Sains ke Kebijakan dan Ruang Publik
    Melalui peran konsultatif dan tulisan populer, ia memastikan bahwa sains hadir dan relevan bagi pengambilan keputusan serta edukasi masyarakat.

Latar belakang pendidikan

Prof. Andi Iqbal Burhanuddin menempuh pendidikan sarjananya di Universitas Hasanuddin, tempat ia memperoleh gelar S1 Ilmu Kelautan dan memulai fondasi akademiknya sebagai ahli taksonomi ikan.

Ia kemudian melanjutkan studi ke Jepang dan meraih gelar Master of Fisheries Science (M.Fish.Sc) dari Miyazaki University. Pada 2003, ia menyelesaikan program doktoralnya di The United Graduate School of Kagoshima University dengan fokus pada taksonomi ikan, sebuah bidang yang kemudian menjadi pusat kontribusi ilmiahnya di Indonesia.

Selain pendidikan formal, Prof. Iqbal mengikuti berbagai pelatihan internasional yang memperkuat kompetensinya, termasuk pelatihan taksonomi di Museum National d’Histoire Naturelle Paris, Rijksmuseum van Natuurlijke Historie Leiden, dan Institute of Oceanology Chinese Academy of Sciences.

Ia juga mengikuti program SAME (Scheme for Academic Mobility and Exchange) di Miyazaki University pada 2017, yang semakin memperluas jejaring akademik dan kolaborasi risetnya. Pendidikan dan pengalaman internasional ini menjadikannya salah satu pakar kelautan Indonesia yang diakui secara luas.

Pembaca sekalian, karya besar Prof. Iqbal tidak hanya tercermin dalam jumlah publikasi atau buku, melainkan dalam cara ia membentuk ekosistem ilmu kelautan di Indonesia.

Dari laboratorium, ruang kuliah, hingga ruang kebijakan dan media publik, pengaruhnya menjadi fondasi penting bagi pengelolaan laut yang lebih berkelanjutan.

Sorowako, 16 November 2025

Penulis Denun