Ketika Luiz Inácio “Lula” da Silva menjabat pertama kali pada 2003, dunia menekan Brasil untuk menghentikan laju penebangan karena setiap pohon yang ditebang melepas karbon dalam jumlah besar.
PELAKITA.I – Brasil bukan pemain baru dalam urusan menggelar acara berskala global. Negeri ini pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia, Olimpiade, hingga konser Lady Gaga yang menyedot jutaan penonton.
Kini, negara terbesar di Amerika Latin itu kembali menjadi sorotan dunia dengan menjadi tuan rumah COP30—“Super Bowl”-nya para pemerhati lingkungan—yang digelar tepat di jantung Amazon.
Namun seperti halnya setiap mega-event, Brasil kembali ditempatkan di bawah kaca pembesar. Dan apa yang terlihat? Sebuah negara penuh potensi sekaligus kontradiksi: juara energi bersih yang ingin mengebor lebih banyak minyak, pembasmi deforestasi yang masih bergelut dengan undang-undang lingkungan yang melemah.
Belém: Kota yang Simbolis, Namun Penuh Tantangan
Pilihan pemerintah Brasil menjadikan Belém—kota miskin di tepi hutan Amazon—sebagai tuan rumah COP30 memicu banyak perdebatan. Infrastruktur akomodasi minim; hotel-hotel mematok harga selangit, bahkan kapal pesiar dan “love motel” disulap menjadi tempat inap bagi para delegasi.
Namun justru di situlah kekuatan simbolis Belém. Kota ini berada di garis depan krisis iklim: deforestasi, musim kebakaran yang semakin panjang, serta dampak perubahan iklim yang nyata. Belém menampilkan wajah paradoks Amazon—kerusakan dan pemulihan, ancaman dan harapan—semuanya dalam satu lanskap.
Sejarah Panjang Deforestasi dan Upaya Pembenahan
Enam dekade lalu, pemerintah Brasil menganggap Amazon sebagai wilayah yang harus dieksploitasi—untuk kayu, emas, dan lahan pertanian.
Sejak itu, lebih dari 17% hutan hujan terbesar dunia telah habis, terutama akibat ekspansi peternakan sapi dan perkebunan kedelai, sebagian besar dilakukan secara ilegal.
Ketika Luiz Inácio “Lula” da Silva menjabat pertama kali pada 2003, dunia menekan Brasil untuk menghentikan laju penebangan karena setiap pohon yang ditebang melepas karbon dalam jumlah besar. Bersama Menteri Lingkungan Hidup Marina Silva, pemerintah melakukan pembenahan besar:
-
menetapkan ratusan kawasan lindung baru
-
memperkuat pemantauan satelit secara real time
-
meningkatkan penegakan hukum terhadap pembalak liar
Hasilnya spektakuler: deforestasi turun drastis pada awal 2000-an.
Namun kemajuan itu sempat terhenti. Di bawah pemerintahan Jair Bolsonaro, lembaga lingkungan dilemahkan dan deforestasi melonjak kembali.
Lula kembali terpilih pada 2022, membawa kembali Marina Silva, dan berjanji menghentikan deforestasi total pada 2030. Tren mulai membaik—pada 2024 deforestasi turun lebih dari 30% di seluruh Brasil.
Kebakaran Hutan: Ancaman yang Terus Membesar
Meski deforestasi menurun, jumlah kebakaran justru meningkat. Pada tahun lalu, Brasil mencatat lebih dari 270.000 kebakaran hutan. Sebagian besar disebabkan oleh manusia, terutama dalam upaya membuka lahan.
Perubahan iklim memperburuk situasi: hutan semakin kering, rawa-rawa mengering lebih cepat, dan musim kebakaran memanjang, membuat api sulit dikendalikan.
Dalam dua tahun terakhir, laju kebakaran bahkan melampaui penurunan deforestasi—sebuah peringatan keras bagi otoritas lingkungan.
Pertarungan Politik: UU Lingkungan yang Dipertaruhkan
Hambatan terbesar datang dari dalam negeri. Blok politik agribisnis di Kongres Brasil mendorong sebuah rancangan undang-undang yang oleh aktivis disebut “Rancangan Undang-Undang Devastasi”, karena melemahkan mekanisme perizinan lingkungan.
Draf aturan tersebut:
-
menyederhanakan izin lingkungan melalui formulir online
-
mempercepat pembangunan infrastruktur strategis seperti jalan atau proyek minyak
-
berpotensi membangun proyek besar sebelum dampaknya diteliti
Lula menandatangani UU tersebut, namun memveto beberapa pasal paling berisiko. Meski begitu, Kongres berupaya mengembalikan banyak bagian yang sudah diveto melalui ratusan amandemen.
Ironisnya, satu ketentuan yang tetap bertahan adalah mekanisme izin cepat untuk proyek besar—yang bisa membuka jalan bagi eksplorasi minyak di mulut Sungai Amazon.
Brasil: Raja Energi Bersih yang Ingin Jadi Raja Minyak
Brasil sebenarnya adalah kekuatan energi terbarukan:
-
80% listriknya berasal dari energi bersih
-
memiliki potensi besar untuk PLTS dan PLTB
-
merupakan produsen biofuel terkemuka
Namun di sisi lain, Brasil juga produsen minyak besar dan ingin naik dari posisi ke-8 menjadi ke-4 dunia. Pemerintah sudah memberikan lampu hijau untuk pengeboran eksplorasi di wilayah kaya cadangan minyak.
“Meski kita tidak membakarnya, kita menjualnya untuk dibakar orang lain,” kritik seorang analis—mengingatkan bahwa ekspansi minyak tetap menyumbang terhadap krisis iklim global.
Pada COP28 di Dubai, Brasil sepakat untuk bertransisi menjauh dari bahan bakar fosil, namun tetap bersikukuh bahwa sebagai negara berkembang, ia berhak memanfaatkan kekayaan minyaknya untuk mendukung transisi energi.
Tropical Forest Forever: Terobosan yang Dinantikan Dunia
Salah satu kartu kuat Brasil di COP30 adalah inisiatif Tropical Forest Forever Facility (TFF)—sebuah dana global yang akan membayar negara-negara berdasarkan keberhasilan mereka melindungi hutan.
Uniknya, dana ini tidak dihabiskan langsung, melainkan diinvestasikan, dan negara penerima akan mendapat manfaat dari hasil investasi tersebut. Dengan cara ini, skema pendanaan bisa berkelanjutan dalam jangka panjang.
Model ini berupaya membalik logika lama bahwa menebang hutan menghasilkan uang, sedangkan menjaga hutan tidak.
Brasil dan Masa Depan Iklim Dunia
Tidak ada yang menyangkal bahwa Brasil menyambut COP30 sambil menapaki garis tipis antara ambisi hijau dan realitas politik-ekonomi. Namun Brasil bukan negara pertama yang datang ke meja negosiasi dengan kontradiksi.
Yang menjadi pertanyaan besar adalah:
Bisakah COP30 di Belém melahirkan kesepakatan yang mampu menjembatani jurang kontradiksi tersebut—dan mendorong Brasil serta dunia ke arah yang benar?
Belém sudah membuka pintunya. Kini dunia menunggu langkah selanjutnya.
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=y4VC_fHXRXs
