PELAKITA.ID – Matompi, sebuah desa yang tenang di pedalaman Sulawesi, menyimpan cerita panjang tentang keberagaman budaya dan jejak sejarah suku-suku tua di Tanah Luwu.
Di antara kisah itu, terdapat sosok Kepala Desa Matompi, Rustam, SE, yang tidak hanya dikenal sebagai pemimpin pemerintahan desa, tetapi juga sebagai penjaga warisan budaya Suku Padoe — salah satu suku asli yang masih mempertahankan identitasnya hingga kini.
Rustam adalah keturunan asli Padoe, dari ayah dan ibu yang sama-sama berdarah Padoe. Dalam perbincangan ringan di teras kantor desa, ia berbagi kisah tentang akar budaya dan sistem kepercayaan masyarakatnya, yang menurutnya menyimpan nilai-nilai spiritual dan sosial yang dalam.
Sebelum mengenal agama-agama besar — yang oleh Rustam disebut sebagai “keyakinan lama dan baru” — masyarakat Padoe telah memiliki sistem kepercayaan sendiri yang disebut Lahumoa.
“Lahumoa,” jelasnya, berarti kekuatan gaib yang besar, sebuah konsep yang menghubungkan manusia dengan alam dan roh leluhur.
Dalam pandangan masyarakat Padoe masa itu, dunia tidak hanya terdiri atas yang tampak, tetapi juga yang tidak kasat mata — dan keseimbangan keduanya dijaga melalui ritual, penghormatan kepada leluhur, dan kepatuhan terhadap alam.
Perubahan keyakinan yang datang kemudian membawa dinamika baru dalam masyarakat. Rustam mengibaratkannya dengan ungkapan sederhana namun sarat makna:
“Keyakinan lama dikawal masuk kota, keyakinan baru tinggal di hutan.”
Sebuah pernyataan yang menggambarkan pergeseran orientasi budaya dan spiritual masyarakat Padoe dari masa ke masa — dari kehidupan tradisional di pedalaman menuju perjumpaan dengan dunia luar yang lebih modern dan terbuka.
Tak hanya soal kepercayaan, Rustam juga menuturkan tentang tarian tradisional Padoe yang disebut Laemba.
Tarian ini memiliki gerakan yang mirip dengan Dero, tarian sosial khas masyarakat Luwu, dan juga memiliki kesamaan dengan Lulo dari Sulawesi Tenggara.
Dalam tarian Laemba, para penari saling berpegangan tangan, bergerak maju tiga langkah dan mundur dua langkah, mengikuti irama yang menggambarkan kebersamaan, keharmonisan, dan siklus kehidupan.
Pak Rustam menyadari bahwa Tarian Laemba ini adalah simbol persatuan. Orang Padoe menari sambil saling menggenggam tangan, artinya kita tidak bisa hidup sendiri.
Kisah yang disampaikan Rustam tidak hanya memperkaya pengetahuan kita tentang kebudayaan Padoe, tetapi juga menjadi cermin bagaimana tradisi dan identitas lokal masih hidup di tengah arus perubahan zaman.
Sebagai Kepala Desa Matompi, Rustam berusaha menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian budaya, agar generasi muda tetap mengenal asal-usulnya.
Percakapan sore itu berakhir dengan suasana hangat — seolah setiap kata Rustam membawa kita menelusuri kembali akar-akar tua yang menumbuhkan peradaban di Tanah Luwu.
Dari Lahumoa hingga Laemba, dari keyakinan hingga tarian, dari hutan ke kota — kisah Padoe adalah kisah perjalanan manusia yang mencari keseimbangan antara masa lalu dan masa depan.
Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025, Salam Interaksi dari Matompi!
Penulis: Enda Amir Prayuda (Alumni Antropologi FIsip Unhas)
