Keberkahan Bulir Padi: Dari Kurusumangae hingga Piring yang Bersisa

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh Mekan88

Oleh: Rizkan Fauzie, Mekan88

PELAKITA.ID – Pagi yang teduh di sebuah desa Bugis pesisir. Seorang nenek berkerudung lusuh menata piring sarapan. Tangannya yang keriput memungut sebutir nasi yang jatuh, meniupnya perlahan, lalu memasukkannya ke mulut sambil berucap lirih, “kurusumangae.”

Sekilas tak ada yang istimewa. Namun, bagi yang memahami, kata itu adalah jendela menuju nilai yang kian memudar. Kurusumangae bukan sekadar penyesalan menjatuhkan makanan.

Ia adalah kesadaran bahwa setiap butir padi lahir dari perjuangan panjang—dari lumpur sawah yang menyedot kaki petani, teriknya matahari yang membakar punggung, hingga doa-doa yang mengiringi setiap fase pertumbuhannya.

Di kota, pemandangan berbeda. Restoran penuh piring setengah terisi, nasi berhamburan di lantai tak lagi dipungut, dan tak ada kata kurusumangae terucap. Yang ada hanya kecepatan berganti menu dan limpahan porsi. Keberkahan bulir padi seakan hilang di riuhnya kehidupan modern.

Dahulu, padi bukan sekadar bahan pangan—ia adalah inti kehidupan. Di Bugis, padi diibaratkan ana’ guru (anak berharga) yang dijaga dan disyukuri.

Di Bali, Dewi Sri dipuja sebagai dewi kemakmuran. Di Jawa, sedekah bumi menjadi ungkapan syukur atas panen. Bagi petani, lumbung bukan sekadar gudang, melainkan simbol kedaulatan pangan. Lumbung penuh berarti masa depan aman; lumbung kosong berarti ancaman kelaparan.

Padi juga memiliki makna religius. Ia dianggap titipan Tuhan, sehingga musim tanam dan panen selalu diiringi ritual dan doa. Kesadaran ini melahirkan sikap hemat, mengambil secukupnya, dan menghabiskan makanan—norma sosial yang dulu dijunjung tinggi.

Dalam bahasa Bugis, kurusumangae memuat tiga nilai pokok: spiritual, etis, dan sosial. Spiritual, karena padi adalah rezeki dari Tuhan dan membuangnya berarti lalai bersyukur.

Etis, karena padi adalah hasil kerja keras banyak pihak. Sosial, karena masih banyak yang kekurangan. Sejak kecil, anak-anak diajarkan memungut sebutir nasi yang jatuh, membersihkannya, lalu memakannya. Ini bukan sekadar kebersihan, tetapi pendidikan karakter—menghormati rezeki, mengendalikan nafsu, dan mengasah empati.

Modernisasi mengubah cara kita memandang pangan. Padi kini lebih dipandang sebagai komoditas, bukan hasil keringat petani. Urbanisasi menjauhkan generasi muda dari proses produksi pangan. Industri makanan cepat saji, dengan porsi berlebih dan promosi menu, mendorong pemborosan.

Tradisi seperti kurusumangae jarang diajarkan lagi. Budaya instan membuat penghargaan terhadap proses semakin pudar.

Menurut Émile Durkheim, solidaritas sosial lahir dari pengalaman bersama. Dalam masyarakat agraris, menanam dan memanen padi adalah proses kolektif. Kini, makanan hadir di piring tanpa kontak langsung dengan petaninya.

Nilai kolektif tergeser menjadi individualisme konsumsi—yang penting kenyang dan puas, tanpa peduli proses atau dampaknya.

Pemborosan pangan berdampak luas. FAO mencatat Indonesia membuang sekitar 300 ribu ton beras per tahun—cukup memberi makan jutaan orang miskin. Produksi 1 kilogram beras memerlukan sekitar 2.500 liter air.

Pembuangan beras setara ratusan miliar liter air yang hilang, dan limbahnya menghasilkan gas metana yang lebih berbahaya daripada CO₂. Hilangnya rasa syukur pun mengikis nilai-nilai luhur dan memupuk sikap permisif terhadap pemborosan.

Pepatah Bugis-Makassar mengatakan, “Rezeki yang dijaga, keberkahannya bertambah; rezeki yang disia-siakan, keberkahannya lenyap.”

Menghidupkan kembali keberkahan padi bisa dimulai dengan langkah sederhana: mengambil porsi secukupnya, mengajarkan anak menghargai makanan, dan menghidupkan kembali ungkapan kurusumangae di meja makan keluarga.

Keberkahan bulir padi adalah cermin hubungan kita dengan alam, petani, dan Tuhan. Ia bukan sekadar soal kenyang atau lapar, tetapi kesadaran kolektif yang menjaga keseimbangan hidup.

Menghidupkan kembali kurusumangae berarti menghidupkan rasa hormat pada makanan, rasa syukur atas rezeki, dan tanggung jawab terhadap bumi. Mungkin, langkah menjaga dunia dimulai dari hal kecil—menjaga sebutir padi di piring kita.

Tentang Penulis:
Rizkan Fauzie, alumni Program Studi Mekanisasi Pertanian Universitas Hasanuddin. Aktif dalam kajian keislaman, etika sosial, dan budaya religius di masyarakat rural maupun urban.

___
Tulisan merupakan karya dan tanggung jawab penulis