Alam Terjaga, Mental Bahagia: Mahasiswa UNHAS Tanamkan Kesadaran Lingkungan di SMPN 14 Makassar

  • Whatsapp
Bertempat di SMPN 14 Makassar, kegiatan ini diikuti oleh 22 siswa yang antusias mengikuti rangkaian edukasi interaktif mengenai keterkaitan antara kondisi lingkungan dan kesejahteraan psikologis.

PELAKITA.ID – Makassar, 8 Agustus 2025 — Isu lingkungan kini bukan lagi sekadar wacana global. Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan degradasi alam, mahasiswa Universitas Hasanuddin melalui program Kuliah Kerja Nyata Prestasi (KKN-P) Tematik 114 Makassar Prestasi 4 berinisiatif menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.

Salah satu kegiatannya bertajuk “Alam Terjaga, Mental Bahagia: Penguatan Eco-Conscious sebagai Upaya Menumbuhkan Aksi Pro-Lingkungan pada Siswa SMPN 14 Makassar.” Program ini dilaksanakan oleh Mujahidah Munir, mahasiswa Fakultas Psikologi UNHAS, di bawah bimbingan Nurjannah Abdullah, S.IP., M.A.

Edukasi yang Menyentuh Hati, Bukan Sekadar Informasi

Bertempat di SMPN 14 Makassar, kegiatan ini diikuti oleh 22 siswa yang antusias mengikuti rangkaian edukasi interaktif mengenai keterkaitan antara kondisi lingkungan dan kesejahteraan psikologis.

Melalui pendekatan edukatif dan reflektif, para peserta tidak hanya diajak memahami pentingnya menjaga alam, tetapi juga diajak menyadari bahwa lingkungan yang bersih dan asri dapat menciptakan suasana hati yang bahagia dan mendukung proses belajar yang positif.

Kegiatan dimulai dengan sesi ice breaking “Eco-Fact”, permainan interaktif yang membangkitkan semangat siswa untuk berpikir kritis mengenai fakta-fakta lingkungan.

Setelah itu, fasilitator memandu kegiatan Kartu Emosi Lingkungan, di mana peserta diminta mencocokkan gambar situasi lingkungan dengan ekspresi wajah yang sesuai, lalu menuliskan perasaan serta satu aksi kecil yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi tersebut.

Melalui permainan ini, siswa belajar memahami keterkaitan antara kondisi lingkungan dan perasaan pribadi mereka.

Dari Rantai Kebaikan ke Komitmen Kolektif

Pada sesi berikutnya, peserta diajak membuat Rantai Kebaikan Lingkungan. Setiap siswa menuliskan satu aksi sederhana untuk menjaga lingkungan pada potongan kertas warna-warni, yang kemudian disambungkan menjadi rantai panjang sebagai simbol komitmen bersama. Aktivitas sederhana ini menanamkan pesan bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab kolektif yang dapat dimulai dari langkah-langkah kecil di sekitar mereka.

Menurut Mujahidah Munir, pelaksana kegiatan, “Kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa aksi kecil pun dapat berdampak besar jika dilakukan bersama-sama. Lingkungan yang terjaga bukan hanya membuat bumi lebih baik, tetapi juga menenangkan hati.”

Dampak Psikologis dan Pembelajaran Nilai

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan antusias. Sebagian besar siswa mampu merefleksikan hubungan antara kondisi lingkungan dan kesejahteraan psikologis mereka.

Meski peningkatan skor kuantitatif dari pre-test ke post-test tidak signifikan — karena sebagian besar siswa telah memiliki pemahaman awal yang baik — secara kualitatif kegiatan ini berhasil meningkatkan empati, refleksi diri, dan komitmen terhadap perilaku pro-lingkungan.

Pendidikan Lingkungan yang Menggerakkan

Program ini membuktikan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus disampaikan secara teoritis. Dengan pendekatan yang menyentuh sisi emosional siswa, nilai-nilai ekologis dapat lebih mudah tertanam dan bertahan lama.

Ketika siswa diajak untuk mengalami, merasakan, dan berkomitmen, maka mereka tidak hanya memahami pentingnya menjaga alam, tetapi juga merasakan kedamaian batin dari setiap tindakan kecil yang mereka lakukan.

“Menjaga lingkungan sama halnya dengan menjaga diri sendiri. Alam yang terjaga akan membawa kebahagiaan bagi kita semua,” tutup Mujahidah Munir penuh keyakinan.

Penulis: Ida, Mahasiswa Psikologi Unhas