PELAKITA.ID – Makassar, 25 Juli 2025 – Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Pengabdian kepada Masyarakat melaksanakan kegiatan PEDULI (Pengembangan Dukungan dan Resiliensi Diri) melalui Transforming Perspective di Sekolah Luar Biasa (SLB) A-Yapti, Makassar.
Program ini difokuskan pada sosialisasi perlindungan diri bagi siswa penyandang disabilitas netra, khususnya terkait pencegahan kekerasan seksual. Melalui materi tertulis, video edukatif, dan studi kasus, siswa dilatih untuk memahami batas sentuhan aman dan tidak aman dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan berlangsung pada Jumat, 25 Juli 2025, pukul 13.00–15.30 WITA, dengan melibatkan siswa-siswi, guru, serta beberapa orang tua siswa SLB A-Yapti.
Salah satu orang tua siswa menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini.
“Sebagai orang tua, kami melihat program ini sangat baik karena mampu memberikan pengetahuan tentang kekerasan seksual yang tidak didapat anak-anak di rumah maupun di sekolah. Pengetahuan ini penting sebagai bekal perlindungan diri mereka,” ujarnya.
Tim Pelaksana
Program PEDULI dibimbing oleh Dr. Indra Fajarwati Ibnu, SKM., MA., dan dilaksanakan oleh lima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas.
Tim ini diketuai oleh Andi Magfirah (Epidemiologi), dengan anggota Nasywa Salsabila Nasaruddin (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), Desinta Rahmawati (Epidemiologi), SQA Dinda Chairunnisa (Epidemiologi), dan Indri Sri Handayani (Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku).
Tujuan utama program ini adalah memberikan pemahaman kepada para stakeholder, termasuk siswa-siswi penyandang disabilitas netra, tentang pencegahan kekerasan seksual melalui penguatan keterampilan komunikasi yang sehat, asertif, dan melindungi diri.
Jalannya Kegiatan
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua Tim PEDULI dan salah satu guru SLB A-Yapti. Selanjutnya, siswa menerima materi mengenai kekerasan seksual melalui berbagai media, termasuk presentasi tertulis, video edukatif, dan contoh studi kasus.
Dalam sesi materi, dijelaskan pentingnya mengenali batas sentuhan aman dan tidak aman. Setelah itu, kegiatan berlanjut dengan tanya jawab dan diskusi interaktif.
Siswa diberi kesempatan mengajukan pertanyaan sekaligus menyampaikan pendapat terkait studi kasus yang dipaparkan.
Diskusi ini menjadi sarana bagi siswa untuk melatih keberanian dalam menyampaikan pandangan sekaligus memperdalam pemahaman mereka.
Hasil Kegiatan
Berdasarkan observasi, sekitar 75% siswa-siswi berpartisipasi aktif dengan berani bertanya maupun memberikan pendapat. Mereka mampu menjelaskan kembali contoh sentuhan aman dan tidak aman yang telah dipelajari.
Program ditutup dengan penegasan kembali poin-poin penting sebagai penguatan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai pentingnya perlindungan diri.
Selain menumbuhkan kesadaran, program PEDULI juga melatih keterampilan komunikasi, meningkatkan kepercayaan diri, serta mendorong siswa penyandang disabilitas netra untuk lebih berani berbicara di depan orang lain.
Dengan capaian tersebut, tahap pertama program PEDULI berhasil memberikan dampak positif, baik bagi siswa maupun bagi stakeholder di SLB A-Yapti.
Program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju terbentuknya generasi disabilitas netra yang lebih tangguh, mandiri, dan terlindungi.
Penulis Indri Sri Handayani
