Warisan Amartya Sen untuk Pembangunan dan Relevansinya dengan Konteks Indonesia

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID (source: https://www.thestatesman.com/)
  • Dalam buku Poverty and Famines (1981), Sen membuktikan bahwa kelaparan besar di India, Bangladesh, dan Afrika bukan karena kurangnya stok pangan, melainkan karena kegagalan sistem distribusi, diskriminasi sosial, dan lemahnya akses kelompok miskin terhadap sumber daya.
  • Dalam pendekatan yang kini dikenal sebagai capability approach, Sen menekankan bahwa intisari pembangunan adalah memperluas kebebasan nyata yang dimiliki seseorang untuk memilih kehidupan yang ia nilai berharga.
  • Bagi Indonesia, warisan pemikiran Sen adalah pengingat bahwa kemajuan tidak bisa hanya ditandai oleh gedung tinggi dan jalan tol, tetapi oleh seberapa besar masyarakat mampu menjalani hidup yang sehat, berpendidikan, bebas berpendapat, dan dihargai martabatnya.

PELAKITA.ID – Ketika dunia pembangunan pada dekade 1980-an masih terkungkung oleh angka-angka pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita, seorang ekonom asal India bernama Amartya Sen datang dengan gagasan yang mengguncang arus utama.

Ia tidak menolak pentingnya ekonomi, tetapi ia menunjukkan bahwa pembangunan sejati tidak bisa hanya diukur dari berapa besar angka GDP, melainkan dari seberapa bebas dan bermaknanya hidup manusia.

Pemikirannya menjadi fondasi bagi pergeseran paradigma global: dari pembangunan sebagai pertumbuhan ekonomi menjadi pembangunan sebagai perluasan kapabilitas manusia.

Pembangunan sebagai Kebebasan dan Kemampuan untuk Memilih

Dalam pendekatan yang kini dikenal sebagai capability approach, Sen menekankan bahwa intisari pembangunan adalah memperluas kebebasan nyata yang dimiliki seseorang untuk memilih kehidupan yang ia nilai berharga.

Artinya, bukan sekadar apakah seseorang berpenghasilan tinggi, tapi apakah ia punya akses terhadap pendidikan, kesehatan, partisipasi sosial, dan kebebasan berpendapat.

Di Indonesia, pendekatan ini tampak dalam program Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan BPJS Kesehatan, yang berupaya membuka akses pendidikan dan layanan kesehatan sebagai hak dasar, bukan sekadar bantuan.

Masyarakat miskin yang semula terpinggirkan kini lebih memiliki pilihan untuk merencanakan hidup secara lebih mandiri dan bermartabat.

Indeks Pembangunan Manusia (HDI): Menilai Pembangunan secara Holistik

Bersama Mahbub ul Haq, Amartya Sen merumuskan Indeks Pembangunan Manusia (HDI/IPM) yang kini digunakan oleh UNDP dan puluhan negara untuk menilai keberhasilan pembangunan. HDI mengukur tiga aspek utama: kesehatan (umur harapan hidup), pendidikan, dan pendapatan.

Indonesia secara resmi menggunakan IPM sebagai indikator utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan target pembangunan daerah.

Pemerintah daerah berlomba-lomba menaikkan IPM mereka, bukan hanya dengan membangun infrastruktur, tetapi juga dengan peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan.

Analisis Kelaparan: Krisis Akses, Bukan Hanya Krisis Pangan

Dalam buku Poverty and Famines (1981), Sen membuktikan bahwa kelaparan besar di India, Bangladesh, dan Afrika bukan karena kurangnya stok pangan, melainkan karena kegagalan sistem distribusi, diskriminasi sosial, dan lemahnya akses kelompok miskin terhadap sumber daya.

Kondisi serupa terjadi di beberapa wilayah Indonesia, seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur, di mana kelaparan pernah terjadi meskipun stok pangan secara nasional mencukupi.

Akar masalahnya adalah distribusi yang buruk, isolasi geografis, dan lemahnya daya beli masyarakat — persis seperti yang dikemukakan Sen.

Demokrasi dan Kebebasan Informasi sebagai Prasyarat Pembangunan

Sen juga menekankan bahwa tidak pernah terjadi kelaparan besar dalam negara demokratis yang memiliki pers bebas. Informasi yang terbuka, diskusi publik, dan akuntabilitas adalah alat penting untuk mencegah krisis sosial.

Pasca-Reformasi 1998, Indonesia mengalami transformasi demokratis besar. Pers bebas dan keterbukaan informasi publik (melalui UU KIP) menjadi instrumen penting dalam pengawasan kebijakan sosial dan pembangunan, termasuk pemantauan anggaran desa, bantuan sosial, dan bencana alam.

Pembangunan Inklusif dan Berkeadilan

Sen mengajukan bahwa ketidaksetaraan—baik ekonomi, sosial, maupun gender—harus ditangani sebagai bagian integral dari pembangunan. Ia percaya bahwa hanya pembangunan yang inklusif yang mampu menghasilkan kesejahteraan jangka panjang.

Program-program seperti Dana Desa, PNPM Mandiri, dan Program Keluarga Harapan (PKH) adalah contoh kebijakan yang berusaha mengurangi kesenjangan sosial dengan memberikan akses langsung kepada kelompok miskin dan terpinggirkan untuk terlibat dalam pembangunan.

Daftar Buku Utama Karya Amartya Sen

Berikut beberapa karya penting Sen yang menjadi rujukan global dalam studi pembangunan dan keadilan sosial:

  1. Poverty and Famines: An Essay on Entitlement and Deprivation (1981)

  2. Development as Freedom (1999) – Buku paling berpengaruh secara global

  3. The Idea of Justice (2009) – Gagasan besar tentang keadilan dan moralitas publik

  4. Commodities and Capabilities (1985) – Fondasi teori kapabilitas

  5. Inequality Reexamined (1992) – Analisis mendalam tentang ketimpangan

  6. The Argumentative Indian (2005) – Refleksi filosofis dan sejarah intelektual India

  7. Identity and Violence: The Illusion of Destiny (2006) – Kritik atas identitas tunggal dalam politik

Mengapa Pemikiran Amartya Sen Tetap Relevan?

Di tengah dunia yang masih diwarnai ketimpangan ekstrem, degradasi lingkungan, dan ancaman krisis pangan, gagasan Amartya Sen semakin relevan.

Ia tidak menawarkan solusi segera, atau radikal, tetapi menyodorkan kerangka etika dan analisis struktural yang kuat untuk menilai apakah pembangunan benar-benar menyentuh kehidupan manusia.

Bagi Indonesia, warisan pemikiran Sen adalah pengingat bahwa kemajuan tidak bisa hanya ditandai oleh gedung tinggi dan jalan tol, tetapi oleh seberapa besar masyarakat mampu menjalani hidup yang sehat, berpendidikan, bebas berpendapat, dan dihargai martabatnya.