- Bersama Amartya Sen, ia mengembangkan Pendekatan Kapabilitas (Capability Approach), sebuah cara berpikir baru dalam melihat keberhasilan pembangunan.
- Ia membuktikan bahwa pendekatan humanistik yang berbasis nilai, literasi moral, dan keberagaman budaya sama pentingnya dengan indikator ekonomi dalam menilai kemajuan sebuah bangsa.
___
“Kita adalah makhluk moral, dan sebagai makhluk moral, kita bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan. Kita tidak bisa melepaskan tanggung jawab hanya dengan berkata bahwa orang lain melakukan hal yang lebih buruk. Dunia ini penuh dengan ketidakadilan, dan kitalah yang bertanggung jawab untuk mengubahnya.”
— Martha C. Nussbaum, dari Frontiers of Justice (2006)
PELAKITA.ID – Dalam perbincangan tentang pembangunan, kita kerap terjebak pada angka-angka ekonomi: pertumbuhan PDB, investasi, dan daya saing global.
Bagi Martha Nussbaum, seorang filsuf dan pemikir publik asal Amerika Serikat, mengajak dunia untuk melihat pembangunan dari sisi yang lebih dalam dan bermakna—yaitu dari kacamata kemanusiaan.
Membangun dengan Hati Nurani
Nussbaum bukan ekonom. Ia adalah filsuf moral dan hukum yang mengajukan gagasan mendalam: bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal statistik, tetapi tentang apakah manusia bisa menjalani kehidupan yang mereka anggap berharga.
Bersama Amartya Sen, ia mengembangkan Pendekatan Kapabilitas (Capability Approach), sebuah cara berpikir baru dalam melihat keberhasilan pembangunan.
Pendekatan ini menekankan bahwa pembangunan harus memberi manusia kemampuan nyata untuk hidup sehat, berpikir bebas, membangun relasi sosial, berpartisipasi politik, dan hidup dengan bermartabat.
Dengan kata lain, pembangunan bukan hanya memberi sumber daya, tapi juga membuka peluang agar setiap orang dapat menggunakan potensinya secara utuh.
Nussbaum memperkaya pendekatan ini dengan mengusulkan sepuluh kapabilitas dasar—sebuah daftar yang mencerminkan hakikat manusia yang utuh. Mulai dari kesehatan fisik, ekspresi emosi, hingga kebebasan politik dan sosial, semua dianggap penting dan tak bisa dikorbankan demi efisiensi ekonomi semata.
Warisan ini telah diadopsi oleh banyak lembaga global, termasuk UNDP dan Bank Dunia, dalam merancang indeks pembangunan manusia dan kebijakan sosial.
Lebih dari itu, Nussbaum menempatkan keadilan gender, disabilitas, dan hak-hak minoritas sebagai bagian penting dari visi pembangunan yang etis dan adil.
Relevansi di Indonesia: Dari Sekolah hingga Desa
Gagasan Nussbaum memiliki gaung yang kuat dalam lanskap pembangunan Indonesia. Program-program seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah bentuk nyata dari upaya negara memperluas kapabilitas dasar warga: pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan minimum.
Dalam konteks perempuan dan penyandang disabilitas, pendekatan ini juga sejalan dengan berbagai regulasi afirmatif yang mendorong inklusi sosial dan kesetaraan kesempatan. Misalnya, peningkatan partisipasi perempuan dalam politik dan pelibatan disabilitas dalam proses perencanaan pembangunan desa.
Selain itu, semangat otonomi daerah dan perencanaan partisipatif yang menjadi dasar UU Desa juga sejalan dengan pandangan Nussbaum tentang pentingnya kebebasan politik dan suara warga dalam menentukan arah pembangunan lokal.
Daftar Karya Penting
Beberapa karya utama Martha Nussbaum yang memperkuat pendekatan ini antara lain:
-
Women and Human Development (2000)
-
Creating Capabilities (2011)
-
Frontiers of Justice (2006)
-
Not for Profit (2010)
-
Political Emotions (2013)
Dalam buku-buku ini, Nussbaum menggambarkan pentingnya memperkuat pendidikan berbasis nilai kemanusiaan, membangun demokrasi yang berempati, serta menjadikan pembangunan sebagai proses pembebasan, bukan sekadar distribusi sumber daya.
Latar belakang pendidikan
Martha Nussbaum adalah seorang filsuf terkemuka asal Amerika Serikat yang pendidikan akademiknya mencerminkan kekayaan intelektual lintas disiplin.
Ia menyelesaikan gelar sarjana di bidang Teater dan Klasik dari Universitas New York (NYU) pada tahun 1969, sebelum melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Harvard, tempat ia meraih gelar Master dan Ph.D. dalam bidang Filsafat Klasik.
Disertasinya berfokus pada filsafat Yunani kuno, khususnya pemikiran Aristoteles dan kaum Stoik, yang kemudian menjadi fondasi penting dalam pengembangan teorinya tentang etika, keadilan, dan kapabilitas manusia.
Sepanjang kariernya, Nussbaum mengajar di berbagai universitas ternama seperti Harvard, Brown, dan University of Chicago—tempat ia kini menjabat sebagai Profesor Hukum dan Etika.
Latar belakang pendidikannya yang kuat dalam studi klasik dan filsafat memberinya perspektif unik dalam melihat pembangunan tidak hanya sebagai pertumbuhan ekonomi, tetapi sebagai perluasan kebebasan manusia.
Ia membuktikan bahwa pendekatan humanistik yang berbasis nilai, literasi moral, dan keberagaman budaya sama pentingnya dengan indikator ekonomi dalam menilai kemajuan sebuah bangsa.
Saatnya Pembangunan Mengutamakan Martabat
Martha Nussbaum mengingatkan kita bahwa pembangunan yang baik adalah pembangunan yang menempatkan manusia di pusatnya.
Di tengah tantangan zaman—mulai dari perubahan iklim hingga ketimpangan sosial—Indonesia membutuhkan pendekatan yang tak hanya efisien, tetapi juga adil, inklusif, dan penuh empati.
Jika pembangunan adalah soal kemajuan, maka ajaran Nussbaum memastikan bahwa kemajuan itu harus dirasakan oleh semua, terutama mereka yang paling rentan.
