Catatan Denun: Cerita Oher, leadership Taslim Arifin dan inspirasi untuk Unhas

  • Whatsapp
Prof Dr Taslim Arifin (dok: Tribun Timur)

DPRD Makassar

Karena dilihat punya potensi, dia terpilih jadi dosen dan diplot untuk dapat beasiswa dari Filipina waktu itu. Jadi tidak dimusuhi. 

PELAKITA.ID – Malam ini saya pulang ke rumah dengan perasaan waswas. Waktu menunjuk pukul 12.00 dinihari saat meninggalkan Hometown Kopizone langganan, menuju rumah di Tamarunang, Gowa, Ahad, 23/4/2023.

Ban motor bagian depan terasa kempes. Motor lari terseok. Ban nampaknya bocor halus.

Read More

“Apa jadinya jika betul-betul kempes tandas, di jalan sepi?” batinku.

Selain karena jarak Hometwon Kopizone dengan rumah Tamarunang cukup jauh, kurang lebih 10 km, saya juga was-was karena suasana jalan sepi di Jalan Malino hingga kompleks. Gappaka…

Sembari menggeber motor yang mulai limbung, saya mengingat-ingat informasi, cerita dan kira-kira inspirasi  yang dibagikan Om Hermansyah, senior yang beberapa tahun lalu pernah menjadi teman main tenis penulis di Lapangan Tenis Tamalanrea di tahun 90-an awal.

Saat itu, Oher, begitu sapaan kami ke Om Hermansyah, sosok yang banyak berbaur dengan aktivis Makassar, adalah dosen di Fanogis Baraya, Fakultas Non-Gelar Sosial, kajian Ekonomi. Correct me if i am wrong. 

Dengan Oher, saya jadi kenal beberapa sosok yang sangat asik diajak ngobrol saat itu. Penuh canda dan calla.  Ada Tadjuddin Parenta, Taslim Arifin, Hamid Paddu, almarhum Yansor, hingga Pak Herry.

Selain sarat candaan juga – belakangan saya tahu – karena mereka bukan dosen kebanyakan, mereka tokoh pergerakan kampus Unhas tahun 80-an dan menjadi rujukan banyak orang karena leadership dan latar belakang akademiknya.

Mereka sebagian besar adalah alumnus S2 di Filipina bidang Ekonomi. Mereka bergelar Master of Arts bidang ekonomi pembangunan dan bidang ekonomi lainnya.


Mengapa mereka begitu penting?

Lalu, apa yang unik atau menjadi daya pikat mengapa nama-nama itu penitng untuk kita tulis saat ini?

Pertanyaan itu bermula saat saya berbincang dengan Ulla, alumni MIPA Unhas yang saat ini bermukim di Jakarta.  Dia datang ke Hometown Kopizone dan menyapa penulis.

Dengan Ulla, kami caccarita tentang kiprah IKA Alumni FEB Unhas (IKAFE) yang luar biasa aktif. Hai, hai, hai Bro Suaib!

IKAFE menjadi inspirasi tentang bagaimana organisasi alumni berkegiatan, layaknya organisasi yang dikelola dengan baik dan kreatif.

Perbincangan tentang IKAFE itu menjalar pada sintesa bentuk leadership, momentum dan sejarah Unhas sebagai kampus yang dulunya punya Rektor yang punya visi luar biasa. Siapa lagi kalau bukan Prof Ahmad Amiruddin.

Perbincangan lalu mengarah pada apa yang dilakukan Ahmad Amiruddin, guru besar kimia ITB, untuk menghantar Unhas menjadi kampus dengan reputasi akademik yang layak dibanggakan.

Setidaknya pada jajaran dosen, pada kharisma dan ketokohannya. Hingga muncul nama seperti Taslim Arifin, Hamid Paddu hingga Madjid Sallatu itu.

Mengapa Taslim? Nama Taslim mengemuka karena penulis menyampaikan kepada Oher, betapa sosok ini menjadi pembeda Unhas pada tahun 80-an.

Tentang pergerakan mahasiswa, tentang Dewan Mahasiswa, tentang perannya yang sangat strategis dan vital bagi Unhas, tentang konsepsi Wali Wanua atau Wanua Lima (I don’t know, ini perlu dielaborasi lagi) dan juga jejaring nasionalnya.

Hal serupa juga berlaku untuk sosok seperti Hamid Paddu yang cukup lama menjadi oase ilmu pengetahuan dan kepakaran ekonomi konteks pembangunan daerah Sulsel dan menjadi kebanggaan Unhas di level nasional.

Namanya sering muncul sebagai rujukan ketika ada kebijakan ekonomi atau persoalan keekonomian yang perlu pisau bedah analisis atau sintesa.

Sosok kebanggaan Unhas di Makassar lalu namanya mencuat di Jakarta sebagai pemikir ekonomi.

Mengapa Taslim karena sosok ini terkenal di tahun 80-an hingga 90-an sebagai salah satu tokoh pergerakan mahasiswa Unhas yang punya reputasi dan nyali yang kuat saat berhadapan Rektorat saat itu.

Mereka, berhadap-hadapan secara kritis namun toh menghidupkan pada yang disebut mutualisme gerakan perubahan, pada pengembangan kapasitas dan perbaikan sistem pendidikan.

Setidaknya di Unhas di masa kepemimpinan Ahmad Amiruddin, Sang Rektor Fenomenal Unhas.

“Dia terpilih sebagai Ketua Dewan Mahasiswa namun Taslim itu menolak dilantik oleh Rektor Ahmad Amiruddin,” kata Oher.

Alasannya, lanjut Oher, karena Taslim menganggap yang pantas melantik adalah perwakilan mahasisswa yang memilihnya.

“Saat itu yang dia maksud adalah perwakilan mahasiswa, yang pernah menjadi rektor Universitas Haluoleo, Mahmud Hamundu,” jelasnya.

Penelusuran Pelakita.ID, Prof. Mahmud Hamundu pernah menjadi rektor dua periode dan  Komisaris Independen PT Antam Tbk, tahun 2008 silam.

Mahmud saat menjadi mahasiswa Unhas, dia aktif di HMI Cabang Ujung Pandang dan merupakan teman diskusi Taslim Arifin dan beberapa tokoh pergerakan mahasiswa Unhas saat itu.

Sesuai catatan Identitas Unhas, Ketua Dema pada tahun 1976 adalah Tajuddin Nur Said berpasangan A Majid Sallatu. Di tahun berikutnya, tak lagi berpasang-pasangan, hanya ada satu calon yang akan dipilih melalui Pemilu.

Dengan sistem baru tersebut Taslim Arifin terpilih menjadi ketua Dema. Ia memperoleh 1.834 suara mengungguli suara yang diraih Idrus Patturusi dan Mahmud Hamundu.

Kembali ke cerita Oher.


Empat keunikan versi Oher

Apa sesungguhnya yang menarik dari ketokohan Taslim Arifin yang bisa menjadi inspirasi bagi kita semua?

Pertama, proyeksi Rektor Unhas Prof Ahmad Aniruddin untuk berangkatkan dosen Unhas ke luar negeri pada kampus bereputasi.

Itu yang disampaikan Oher.

“Pokoknya pergi-ko semua kuliah di luar negeri, itu pesan Prof Ahmad Amiruddin ke Taslim cs,” begitu ucapan Oher tentang dosen-dosen muda Unhas di masa kepemimpinan Rektor berdarah Soppeng itu.

“Jadi perlu memang dilihat peran Prof Ahmad Aniruddin,” ucap Oher.

Menurut dia, ada yang menarik tentang pendidikan luar negeri pada sosok seperti Taslim Arifin cs.

“Meski Taslim menolak dilantik oleh Rektor Unhas saat itu sebagai Ketua Dewan Mahasiswa, Prof Ahmad Amiruddin tak menganggapnya sebagai musuh atau tak disukai,” sebutnya.

“Karena dia lihat punya potensi, dia terpilih jadi dosen dan diplot untuk dapat beasiswa dari Filipina waktu itu,” kurang lebih begitu cerita Oher.

“Jadi tidak dimusuhi,” ulangnya.

Hermansyah ‘Oher’ bersama alumni Unhas di Homtown Kopizonee (dok: Pelakita.ID)

Oher bilang, Prof Ahmad Amiruddin saat itu sudah punya daftar kampus-kampus luar negeri yang dia tahu spesialisasi atau keunggulannya.  Ada juga yang ke Eropa, ke Jepang dan Filipina.

“Yang ke Filipina itiu Taslim, Pak Tadju, Majid Sallatu, Hamid Paddu hingga Prof Yunus dan Prof Burhamzah,” ucapnya.

Nama-nama itulah yang hemat penulis punya reputasi keilmuan, punya wawasan mumpuni tentang Ilmu Ekonomi, praksis dan dialektikanya dalam praktik pembangunan di berbagai level.

Ada yang jadi dekan, praktisi atau konsultan perbankan, inisiator pendirian bank, hingga rujukan kepalda daerah atau Menteri dalam mendisain program atau kebijakan.

Contoh, Madjid Sallattu, M.A pernah dikaryakan Rektor sebagai sebagai Kepala Bappeda Sulsel.

Yang kedua, sejatinya kalau ikut studi internasional fokusnya di studi, bukan menabung atau kumpul uang ‘selisih’.

Maksud Oher, saat itu, mahasiswa yang dikirim ke luar negeri oleh Ahmad Amiruddin adalah pembelajar utama, pada kampus unggulan dan memang punya spesialisasi khusus.

Mereka manfaatkan betul untuk ‘menghabiskan’ uang studi untuk studi, dengan riset, dengan buku, dan lain sebagainya. “Pokoknya habis,” ujarnya.

“Maksudnya itu, mereka memang dapat beasiswa untuk studi, bukan untuk kepentingan lain misalnya ditabung. Pokoknya habiskan memang untuk studi,” katanya.

Jawaban Oher ini menanggapi pandangan penulis bahwa belakangan ini studi keluar negeri, tidak lebih dari asal apply, ngumpulin uang saku lalu pulang membeli properti.

“Mungkin juga sudah berbeda ya tapi yang pasti mereka saat itu betul-betul kuliah pada kampus yang memang dianggap punya spesialisasi, jadi tidak ada asal mendaftar, dimana saja,” tambahnya.

Yang ketiga adalah jejaring yang kuat dan langgeng.

Menurut Oher, sosok seperti Taslim Arifin itu adalah contoh bagaimana alumni Filipina tetap terhubung dan bisa saling mengingatkan.

“Di depan mata saya dia (Taslim) menelpon Rizal Ramli saat itu, waktu Pak JK masih Wapres,” ucap Oher.

Taslim Arifin (tengah) bersama aktivis FE Unhas pada masanya Ni’matullah Rahim Bone dan Sattar Taba di ruas waktu 2018 (dok: Sutawiijaya Dawood Zakaria)

Dia menyampaikan itu, bagaimana seorang Taslim masih bisa memberi masukan kepada Rizal Ramli untuk tidak berlebihan menyerang JK.

Dia ingin menegaskan bahwa jejaring Filipina itu tetap terpelihara dan bisa aware pada situasi kontemporer atau apa yang sedang menjadi tema utama pembangunan bangsa.

Yang pasti daya kritik dan kharisma mereka tetap terjaga, baik independensi maupun kemurnian spirit perjuangannya.

Pak Taslim, di mata Oher sebagai sosok yang tidak ‘gila posisi’ struktural di kampus.

“Jika pun harus maju pada misalnya posisi Dekan, dia harus berhitung dengan baik,” kurang lebih begitu pandangannya.

Penulis bersama Dr Tadjuddin Parenta (ujung kanan) saat Dies Natalis Unhas beberapa waktu lalu (dok: pribadi)

Hasilnya, Taslim Arifin pernah jadi Dekan FE Unhas dan dijunjung tinggi sebagai Kepala Laboratorium Ekonomi Unhas pada masanya dengan sejumlah kontriibusi pemikiran, studi dan rekomendasi untuk pembangunan daerah dan nasional.

Yang keempat adalah menjadi rujukan bagi aktivis Unhas dan non-Unhas.

Sosok seperti Taslim Arifin adalah role model bagi aktivis HMI di masanya, termasuk belakangan ini yang memang membaca pengalaman dan daya kritisnya pada situasi keekonomian termasuk dinamika berbangsa.

Bagi Oher, termasuk bagi Suwarno Sudirman yang juga hadir pada obrolan di Kopizone ini, Taslim Arifin lebih banyak dijadikan rujukan, tempat menimba ilmu dan pengalaman dari sosok non-Unhas.

Nama-nama seperti Selle K.S Dalle yang merupakan anggota DPRD Sulsel saat ini yang asal UMI, pengusaha rumput laut Arman Arfah,  Supriansa anggota DPR RI asal UMI, bahkan sosok seperti Abraham Samad disebut sering menjalin komunikasi dengan Taslim demi mengecap inspirasi.

“Itu yang membedakan, jika kita bandingkan dengan ketokohan beliau dan inisiatif alumni-alumni Unhas bahkan dari Ekonomi sekalipun,” ujar Surwano atau biasa disapa Romo’ ini.

Poin yang ingin disampaikan Suwarno dan Oher adalah betapa sosok-sosok berpengalaman di Unhas nun lampau, di dunia kemahasiswaan, punya jangkauan pemikiran dan pembacaan konteks bernegara, keekonomian, berpengalaman mengelola organisasi kampus justeru tak begitu menarik bagi alumni Unhas, malah yang non-Unhas.

“Mungkin tak sepenuhnya benar, tapi ini bisa menjadi warning bahwa kita harusnya bangga pada sosok berpengalaman dan inspiratif seperti Taslim Arifin dan kolega-kolega sepantarannya,” ucap Suwarno.

Pembaca sekalian, pada ruang dan waktu, sosok alumni Filipina yang banyak disebut di dalam artikel ini adalah tokoh di masanya, meski mampu melintasi ruangnya, mereka hadir membayangi ruang-ruang kontemporer.

Sila diambil hikmahnya, atau setidaknya ditimbang dengan seksama.

Pengalaman, integritas dan leadership nama-nama yang disebut itu, mestinya bisa menginspirasi kita semua, bisa menjadi pembanding bagi Unhas, bagi civitas akademika Unhas kontemporer tentang visi misi dunia pendidikan atau kampus. Tentang fokus, konsistensi dan kontribusi untuk negeri.

Bisa menjadi warning juga bahwa dulu, ada seorang Rektor seperti Prof Ahmad Amiruddin, meski ‘dilawan’ oleh mahasiswa dan dosen seperti Taslim Arifin, namun karena Sang Rektor melihat cahaya terang benderang tentang kapasitas, potensi kepemimpinan, ketokohan, akhirnya bisa berengosiasi dengan baik.

Anno Suparno menambahkan informasi betapa rumah Taslim Arifin di Tamalanrea adalah rumah pergerakan.

“Setidaknya sampai pasca reformasi 98. Banyak kader aktivis Unhas, UMI yang lahir dari sana. Terbuka hingga 24 jam untuk sekadar diskusi-diskusi apa saja,” ungkap Anno.

“Pada tahun 1999. Di rumah Kak Taslim lahir ide yang disebut ‘Malewa’ Makassar Legislatif Watch yang mana koordinator nya saat itu adalah bang Farid Ma’ruf Ibrahim,” sebutnya.

Sosodara, begitulah, mereka para ‘mbalelo’ ini bisa sekolah tinggi di kampus bereputasi internasional seperti The University of Manila, sementara di sisi lain, Rektor dan programnya juga berjalan dengan efektif.

Apa yang tertulis di atas diperoleh dari obrolan warung kopi semalam di Kopizone, kalau ada tambahan atau padangan berbeda. Silakan.

 

Penulis:

Kamaruddin Azis | founder Pelakita.ID

Tamarunang, 23/4/2023

Related posts