Dr Piu dan lobsternya

  • Whatsapp
Dr Syafiuddin (ujung kiri)

PELAKITA.ID – Saya kini memanggilnya Kak Piu. Saat kuliah nun lampau, saya memanggilnya Pak Piu. Pribadi yang rendah hati. Saya dapat terhubung dengannya tiga hari lalu karena dibantu oleh Om Imba.

“Kontakmi, dia lagi riset lobster itu,” begitu balasan om Imba alias Dr Iqbal Djawad, dosen FIKP Unhas.¬†Saya memang menyebut Kak Piiu sebaagai dosen rendah hati dan enak diajak bicara. Saya tahu itu sejak lama.

Makanya tidak butuh waktu lama untuk saya bisa akrab lagi setelah lama tak berjumpa. Itu setelah saya mendampingi dua orang kawan dari organisasi Kopernik Bali dan berbincang terkait riset laboratoriumnya pada lobster.

Read More

Dia mengakui kalau selama ini publik mengenalnya sebagai peneliti kuda laut. Hal yang disebutnya membahagiakan karena dengan kuda laut, dia berhasil memijahkan indukan kuda laut (Hippopus) dan anak-anak dari kuda itu bisa ditangani, tumbuh, dewasa dan menjadi indukan baru.

Itu yang saya dengar dari pertemuan kami di laboratoriumnya yang bersih, rapi dan sehat.

Kak Piu nampak awet. Saya kira usianya jelang 60 tahun. Pembawaannya yang supel, hangat dan suka senyum ini membuat kami bisa mengobrol lama dan bahkan buat video tentang pengalamannya memelihara lobster muda asal Bantaeng dan Pulau Sabangko Pangkep.

Ada limapuluhan lobster muda sedang jadi obyek risetnya. Tidak muluk-muluk dan untuk saat ini dia sebut sebagai ‘upaya aklimatisasi’ saja sebab lobster muda ini dibawa dari beberapa titik lautan.

“Kami ingin melihat bagaimana mereka merespon beberapa perlakuan, respon pada saat diberi pakan dan bagaimana lobster berteman satu sama lain,, ada yang dipisah dalam kurungan, ada yang dicampur,” kurang lebih begitu katanya.

Mengapa memilih lobster? Dia bilang sebab sesuai dengan tujuan laboratorum penangkaran dan rehailitasi FIKP Unhas yang menjadi tanggung jawabnya. Sudah bertahun-tahun dia menggawangi laboratorium itu.

“Lobster kan belum bisa dibuat memijah layaknya udang windu atau Vanname, kita ingin sebenarnya bagaimana itu bisa dilakukan dan melepasnya ke alam,” harapnya.

Begitulah, mari doakan semoga Kak Piu bisa melakukan hal sama dengan Kuda Laut yakni bisa memijahkan indukan lobster yang sejatinya menghasilkan ribuan telur itu dan dengan demikian kita bisa memperbanyak stok lobster di alam.

“Ini yang mungkin sulit sebab lobster mempunyai siklus yang panjang. Bisa sampai dua atau bahkan tiga tahun, dari masa telur hingga menjadi indukan,” kurang lebih begitu tanggapannya pada seberapa prospektif pemijahan lobster dan hasilnya bisa menghasilan indukan dari proses-proses laboratorium.

Semoga saja bisa lah ya. Sukseski Dr Ir Syafiuddin, M.Si, begitu nama lengkapnya.

 

Penulis: K. Azis
Tamarunang, 19/11

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *