Akhirnya Saya Menemukan Kata Itu

  • Whatsapp
Ilustrasi

“Tidak Ada Kesetiaan yang Abadi”

“Kekuasaan mungkin membuat manusia saling mendekat, tetapi hanya integritas yang membuat kesetiaan layak dipercaya.”

Sebuah Catatan Reflektif tentang Kekuasaan, Kepercayaan, dan Balas Budi

PELAKITA.ID – Peristiwa politik yang menghebohkan jagat Indonesia belakangan ini membuat saya seperti kehilangan kata. Ada sesuatu yang begitu rumit untuk dipahami, mengejutkan untuk diterima, sekaligus sulit dijelaskan dengan kalimat yang mampu mewakili seluruh kegelisahan di dalamnya.

Saya ingin berbicara, tetapi kata-kata terasa terlalu kecil untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi.

Entah kebetulan, entah memang ada cara Tuhan mempertemukan pikiran manusia dengan sebuah makna, pagi itu saya menerima SMS dari seorang sahabat.

Seseorang yang sebenarnya sudah lama ingin saya telepon, sekadar meminta pandangan dan pendapatnya tentang peristiwa ini.

Ia adalah adinda Busman Dahlan Shirat. Pada waktu yang hampir bersamaan, saya juga membaca tulisan Bung Yusran Darmawan berjudul Di Istana, Tak Ada Kesetiaan yang Abadi.

Keduanya membawa saya pada kalimat yang sama. Sebuah ungkapan pendek, tetapi terasa begitu panjang maknanya: “Tidak ada kesetiaan yang abadi.”

Saya terdiam. Seolah-olah dua sahabat itu sedang membukakan sebuah jendela untuk melihat peristiwa ini dari sudut pandang yang lebih luas.

Bukan semata-mata tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, bukan pula sekadar tentang dugaan pengkhianatan, penyadapan telepon secara ilegal, atau relasi seorang pejabat dengan presiden yang pernah memberinya kepercayaan.

Lebih jauh dari itu, peristiwa ini membawa kita pada satu refleksi tentang manusia ketika berada di lingkaran kekuasaan.

Betapa seseorang bisa berada begitu dekat dengan pusat kekuasaan. Dipercaya, dirangkul, diberi tempat dalam lingkaran inti pemerintahan, bahkan menjadi bagian dari ruang-ruang yang tidak semua orang bisa memasukinya.

Akan tetapi, ketika kepercayaan berhadapan dengan kepentingan, kita kembali menyaksikan betapa rapuhnya hubungan antarmanusia. Sesuatu yang dahulu disebut kesetiaan, suatu ketika bisa berubah menjadi pertentangan.

Saya tidak tahu apa sesungguhnya yang bersemayam dalam pikiran manusia ketika berada di dekat puncak kekuasaan.

Apakah kekuasaan membuat seseorang merasa semakin besar, atau justru semakin sulit merasa cukup? Apakah balas budi masih memiliki tempat ketika kepentingan mulai berbicara? Ataukah dalam politik, balas budi hanya sebuah persinggahan, sementara kepentingan merupakan perjalanan yang sesungguhnya?

Bukankah kedekatan semestinya melahirkan kesetiaan?

Bukankah kepercayaan seharusnya dibalas dengan pengabdian?

Bahwa seseorang yang telah diberi tempat akan menjaga kepercayaan itu dengan kehormatan. Akan tetapi, kehidupan, terutama kehidupan politik, berkali-kali mengajarkan bahwa manusia tidak selalu berjalan mengikuti logika dan harapan kita.

Mungkin benar, tidak ada kesetiaan yang abadi. Namun, saya masih ingin percaya bahwa ada kesetiaan yang tidak bergantung pada jabatan, tidak ditentukan oleh kedekatan, dan tidak berubah hanya karena arah kekuasaan bergeser. Kesetiaan kepada kebenaran, kepada amanah, dan kepada nilai-nilai yang semestinya menjadi kompas dalam menjalani kehidupan.

Kekuasaan hanyalah titipan waktu. Ia bisa meninggikan seseorang, tetapi sekaligus menjadi cermin yang memperlihatkan siapa sesungguhnya manusia itu.

Ketika jabatan berakhir dan kedekatan dengan pusat kekuasaan menjauh, yang tersisa bukanlah seberapa dekat seseorang pernah berdiri dengan istana, melainkan seberapa teguh ia menjaga kehormatan ketika kepercayaan diberikan kepadanya.

Sebab, kekuasaan mungkin membuat manusia saling mendekat, tetapi hanya integritas yang membuat kesetiaan layak dipercaya. Jabatan bisa menghadirkan kedekatan, kepentingan bisa membangun persekutuan, tetapi kehormatan hanya tumbuh dari kesetiaan pada nilai-nilai yang tidak boleh diperjualbelikan.

Terima kasih, adinda Busman dan Bung Yusran. Pagi ini, akhirnya saya menemukan kata itu. Dan anehnya, setelah menemukan kata-kata untuk memahami kegelisahan ini, kopi pahit terasa jauh lebih nikmat!

— Muliadi Saleh
Menulis Makna, Membangun Peradaban

Makassar, 4 November 2026