Suharman Usman | ‘Getteng Paseng’, Makna Ketegasan Andi Amran Sulaiman

  • Whatsapp
Andi Amran Sulaiman (dok: Istimewa)

Getteng karena Paseng: Keteguhan Memegang Amanah

Di balik gaya kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang dikenal tegas, terdapat nilai-nilai budaya Bugis yang dapat dibaca sebagai landasan etika dalam menjalankan tanggung jawab.

Oleh: Suharman Usman, SS., SE., MM.

PELAKITA.ID – Bagi sebagian orang, gaya kepemimpinan Andi Amran Sulaiman sebagai Menteri Pertanian mungkin terlihat keras.

Ia dikenal kerap melakukan inspeksi mendadak, meminta penjelasan langsung dari pejabat, bahkan mengambil tindakan terhadap aparatur yang dinilai tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Akan tetapi, jika dibaca melalui perspektif budaya Bugis, ketegasan tersebut dapat dikaitkan dengan satu nilai penting, yakni Getteng.

Dalam tradisi Bugis, Getteng merujuk pada keteguhan sikap, konsistensi, dan keberanian mempertahankan prinsip. Nilai ini berkaitan erat dengan ungkapan Taro Ada, Taro Gau: kesesuaian antara perkataan dan perbuatan.

Seseorang dinilai bukan hanya dari apa yang diucapkan, melainkan juga dari kesungguhannya melaksanakan apa yang telah dijanjikan.

Getteng bukan berarti keras tanpa pertimbangan atau selalu harus menunjukkan kemarahan. Ia justru menuntut konsistensi, tanggung jawab, dan kesediaan mempertanggungjawabkan keputusan.

Dalam konteks kepemimpinan publik, nilai ini menjadi penting karena jabatan bukan sekadar kewenangan, melainkan amanah yang harus dibuktikan melalui kerja dan hasil.

Ada beberapa nilai budaya Bugis yang menarik digunakan untuk membaca gaya kepemimpinan Andi Amran Sulaiman.

Paseng Pertama: Resopa Temmangingngi, Namalomo Naletei Pammase Dewata

Hanya melalui kerja keras dan ketekunan, rahmat Tuhan akan lebih mudah menyertai kehidupan manusia.

Ungkapan ini menempatkan kerja keras sebagai bagian penting dari etika kehidupan masyarakat Bugis. Keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan, keberuntungan, atau kekuasaan, tetapi juga oleh kesungguhan dalam bekerja.

Dalam kepemimpinan Andi Amran di Kementerian Pertanian, nilai tersebut dapat dibaca melalui pendekatannya yang menekankan pengawasan langsung terhadap pelaksanaan program.

Kunjungan ke gudang pupuk, pemantauan harga gabah di tingkat penggilingan, serta pemeriksaan distribusi sarana produksi merupakan bagian dari upaya memastikan kebijakan tidak berhenti pada laporan administratif.

Pendekatan lapangan ini penting karena persoalan pertanian sering kali tidak sepenuhnya tergambar dalam dokumen birokrasi. Petani menghadapi persoalan ketersediaan pupuk, distribusi, harga hasil panen, dan akses pasar yang membutuhkan penyelesaian konkret.

Salah satu kebijakan yang mendapat perhatian adalah penyederhanaan tata kelola pupuk bersubsidi. Sebelumnya, petani dan pelaku distribusi menghadapi berbagai tahapan administrasi yang dinilai menyulitkan. Pemerintah kemudian melakukan penyederhanaan regulasi agar akses pupuk menjadi lebih mudah.

Dalam perspektif Resopa Temmangingngi, kerja pemerintah semestinya diukur dari sejauh mana kebijakan tersebut membantu petani bekerja lebih produktif.

Pammase Dewata, dalam pemaknaan budaya Bugis, mengingatkan bahwa rezeki dan keberkahan kehidupan perlu diupayakan melalui kerja yang sungguh-sungguh, disertai kesadaran bahwa hasil akhirnya merupakan karunia Tuhan.

Paseng Kedua: Taro Ada, Taro Gau

Apa yang diucapkan harus sejalan dengan apa yang dikerjakan.

Nilai ini relevan dalam membaca hubungan antara janji politik, keputusan pemerintah, dan pelaksanaan kebijakan. Ketika Presiden Prabowo Subianto menetapkan target swasembada pangan dalam empat tahun, Kementerian Pertanian mendapatkan tanggung jawab besar untuk menerjemahkannya menjadi program yang terukur.

Andi Amran Sulaiman menyatakan kesiapannya mengawal target tersebut. Dalam pelaksanaannya, pemerintah menetapkan sejumlah kebijakan, termasuk penguatan penyerapan gabah oleh Bulog dengan harga pembelian pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram.

Kebijakan harga tersebut tentu membutuhkan pengawasan agar benar-benar terlaksana di tingkat petani. Sebab, penetapan harga melalui regulasi tidak otomatis menjamin seluruh petani memperoleh harga sesuai ketentuan.

Kondisi kualitas gabah, akses penggilingan, distribusi, dan kemampuan penyerapan tetap menjadi faktor yang menentukan.

Di sinilah makna Taro Ada, Taro Gau menjadi relevan. Komitmen pemerintah tidak cukup disampaikan dalam konferensi pers atau rapat koordinasi. Ia harus dapat dirasakan oleh petani melalui kepastian harga, ketersediaan pupuk, dan akses terhadap pasar.

Ketegasan seorang pejabat publik seharusnya tidak berhenti pada keberanian menyampaikan target, tetapi juga kesediaan memastikan target tersebut tercapai. Konsistensi antara kebijakan dan pelaksanaan menjadi ukuran yang lebih penting daripada sekadar kerasnya pernyataan.

Paseng Ketiga: Siri’ na Pacce

Menjaga harga diri dan memiliki kepedulian terhadap penderitaan orang lain.

Siri’ dan Pacce merupakan dua nilai penting dalam kebudayaan Bugis-Makassar. Siri’ berkaitan dengan harga diri, kehormatan, dan tanggung jawab moral, sedangkan Pacce menggambarkan empati serta kepedihan ketika melihat orang lain mengalami kesulitan.

Dalam konteks pembangunan pertanian, kedua nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi keberpihakan kepada petani dan masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada sektor pangan.

Persoalan mafia pangan, permainan harga, penimbunan, dan hambatan distribusi bukan sekadar persoalan administratif. Jika terbukti terjadi, praktik-praktik tersebut dapat merugikan petani sekaligus konsumen.

Oleh sebab itu, pengawasan dan penegakan hukum menjadi bagian penting dalam menjaga tata niaga pangan.

Langkah Kementerian Pertanian yang melibatkan aparat penegak hukum serta mendorong pengawasan distribusi menunjukkan bahwa persoalan pangan membutuhkan kerja lintas lembaga. Akan tetapi, penindakan juga harus berjalan berdasarkan bukti, prosedur hukum, dan prinsip keadilan.

Pacce mengingatkan bahwa keberhasilan sektor pertanian tidak cukup dilihat dari angka produksi atau besarnya stok beras nasional. Ada kehidupan petani yang harus diperhatikan, mulai dari biaya produksi, pendapatan rumah tangga, hingga kepastian usaha tani.

Ukuran keberhasilan kebijakan pangan pada akhirnya adalah apakah petani memperoleh kehidupan yang lebih baik dan masyarakat dapat mengakses pangan dengan harga yang terjangkau.

Paseng Keempat: Ade’ dan Tanggung Jawab Menata Aturan

Dalam kehidupan masyarakat Bugis, adat atau Ade’ merupakan bagian dari sistem nilai yang mengatur hubungan sosial. Ia tidak dapat dilepaskan dari prinsip keadilan, kepatutan, dan tanggung jawab bersama.

Dalam penyelenggaraan pemerintahan, nilai tersebut dapat dimaknai sebagai keharusan menghadirkan regulasi yang tidak justru mempersulit masyarakat.

Aturan seharusnya memberikan kepastian dan perlindungan, bukan menjadi hambatan bagi mereka yang membutuhkan pelayanan negara.

Penyederhanaan prosedur pupuk bersubsidi, perbaikan distribusi, dan pembenahan tata kelola penyerapan hasil pertanian merupakan contoh ruang kebijakan yang membutuhkan keberanian melakukan evaluasi.

Namun, penyederhanaan tidak berarti menghilangkan pengawasan. Pemerintah tetap harus memastikan subsidi tepat sasaran, anggaran digunakan secara bertanggung jawab, dan tidak muncul ruang baru bagi penyimpangan.

Dengan demikian, Getteng dalam kepemimpinan tidak hanya ditunjukkan melalui keberanian mengambil tindakan, tetapi juga melalui kecermatan membangun sistem yang adil dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ketegasan yang Perlu Dibuktikan dengan Hasil

Membaca kepemimpinan Andi Amran Sulaiman melalui nilai-nilai Bugis memberikan perspektif menarik tentang hubungan antara budaya, karakter, dan tanggung jawab publik.

Resopa Temmangingngi mengajarkan pentingnya kerja keras, Taro Ada Taro Gau menekankan konsistensi, Siri’ na Pacce mengingatkan tentang harga diri dan empati, sementara Ade’ memberikan landasan mengenai kepatutan dalam mengatur kehidupan bersama.

Meski demikian, ketegasan seorang menteri tidak seharusnya hanya dinilai dari frekuensi sidak, keberanian menegur pejabat, atau tindakan mencopot aparatur.

Ukuran yang lebih substantif adalah kemampuan memperbaiki sistem, meningkatkan produktivitas pertanian, menjaga stabilitas harga, serta memperbaiki kesejahteraan petani.

Sejumlah capaian seperti peningkatan stok beras Bulog dan kebijakan penguatan produksi domestik patut dicermati sebagai perkembangan penting.

Meski demikian, capaian tersebut juga perlu dibaca bersama tantangan yang masih ada, termasuk pemerataan distribusi, stabilitas harga di tingkat konsumen, produktivitas petani, dan keberlanjutan produksi pangan.

Dalam tradisi Bugis, seseorang tidak cukup dinilai dari apa yang dikatakan tentang dirinya. Ia dinilai melalui perbuatan, tanggung jawab, dan bagaimana amanah dijalankan.

Sehingga, dengan demikian, getteng bukanlah soal menjadi pemimpin yang ditakuti. Getteng adalah keberanian memegang prinsip sekaligus kesediaan menerima koreksi. Ketegasan perlu berjalan bersama kebijaksanaan, keberanian harus disertai keadilan, dan setiap keputusan harus dapat dipertanggungjawabkan.

Jabatan menteri memiliki batas waktu. Sementara itu, nilai-nilai Paseng yang diwariskan orang tua dan leluhur dapat menjadi pedoman sepanjang kehidupan.

Dalam konteks itulah, kepemimpinan Andi Amran Sulaiman menarik untuk terus diamati: sejauh mana keteguhan memegang amanah dapat diterjemahkan menjadi perubahan yang benar-benar dirasakan petani dan masyarakat luas.

Jadi pembaca sekalian, ukuran seorang pemimpin bukanlah seberapa keras suaranya ketika memberi perintah, melainkan seberapa nyata perubahan yang dihasilkan dari amanah yang dipercayakan kepadanya.

___
Penulis, Suharman Usman, SS., SE., MM adalah aktivis penguatan kapasitas organisasi, alumni dan anggota IKA FIB Unhas serta IKA Unhas

Editor Denun