Kita tidak perlu sekadar menjadi besar kembali. Kita perlu merangkul sesuatu yang sejak dahulu membuat kita besar: kemauan untuk terus menjadi lebih baik.
PELAKITA.ID – Dari nama dan identitas yang dipersoalkan hingga kemenangan politik di Michigan, Abdul El-Sayed menghadirkan pesan tentang demokrasi, keadilan sosial, keberanian memperbaiki negara, dan politik yang seharusnya bekerja untuk kepentingan rakyat.
Ada satu kalimat yang menarik dari pidato kemenangan Abdul El-Sayed pada 4 November 2026. Di hadapan pendukungnya di Detroit, ia menyampaikan pesan yang melampaui kemenangan seorang kandidat dalam pemilihan Senat Amerika Serikat.
“We know that America is big enough for all of us.”
Amerika cukup besar untuk kita semua.
Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi memiliki makna politik yang kuat. Terutama ketika sepanjang perjalanan kampanyenya, El-Sayed menghadapi perdebatan mengenai nama, agama, identitas keluarga, dan pandangan politiknya.
Ia menjadikan pengalaman tersebut sebagai bagian dari pembicaraan yang lebih luas tentang demokrasi dan siapa yang sesungguhnya memiliki tempat dalam kehidupan berbangsa.
Abdul Rahman Mohammed El-Sayed, yang dikenal sebagai Abdul El-Sayed, adalah seorang dokter dan politikus Partai Demokrat. Dalam pemilihan Senat Michigan 2026, ia mengalahkan Mike Rogers dan mencatat sejarah sebagai Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Senat Amerika Serikat.
Kemenangannya bukan hanya tentang pergantian figur politik. Ada sejumlah pernyataan yang membuat pidatonya menarik untuk dibaca, terutama karena ia mencoba mengembalikan pembicaraan politik kepada persoalan sehari-hari masyarakat.
1. Kebesaran negara bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan
Salah satu kutipan paling kuat dalam pidato kemenangannya berbunyi:
“America’s greatness is not about ignoring our flaws; it’s the courage that we have to correct them.”
Kebesaran Amerika bukan berarti mengabaikan kekurangan-kekurangannya, melainkan keberanian untuk memperbaikinya.
Pernyataan ini memperlihatkan cara El-Sayed memandang nasionalisme. Mencintai negara bukan berarti menganggap seluruh kebijakannya benar, apalagi menutup mata terhadap ketidakadilan. Sebaliknya, kebesaran sebuah bangsa justru terlihat dari kesediaannya mengakui kesalahan dan memperbaikinya.
Ia bahkan menegaskan:
“We don’t need to be great again. We need to embrace that thing about us that has always made us great: the will to be more perfect.”
Kita tidak perlu sekadar menjadi besar kembali. Kita perlu merangkul sesuatu yang sejak dahulu membuat kita besar: kemauan untuk terus menjadi lebih baik.
Pesan ini menarik karena menggeser slogan kebesaran negara menjadi sebuah proses perbaikan yang tidak pernah selesai. Negara tidak cukup membanggakan masa lalunya, tetapi harus berani mengevaluasi masa kini dan membangun masa depan.
2. Jangan biarkan identitas mengalahkan persoalan rakyat
Dalam kampanyenya, El-Sayed berulang kali mengingatkan bahwa masyarakat lebih membutuhkan solusi atas persoalan ekonomi daripada perdebatan identitas.
“You might think that in a moment when gas is too expensive and people can’t afford their groceries, that if you wanted to win an election, you might want to talk about gas and groceries.”
Ketika harga bahan bakar terlalu mahal dan masyarakat kesulitan membeli kebutuhan pangan, semestinya kandidat yang ingin memenangkan pemilu berbicara tentang harga bahan bakar dan kebutuhan sehari-hari.
Ia kemudian menyampaikan kritik yang lebih langsung:
“They don’t wanna talk about gas and groceries. They wanna talk about me and my name and my faith.”
Mereka tidak ingin berbicara tentang harga bahan bakar dan kebutuhan pokok. Mereka justru ingin membicarakan saya, nama saya, dan keyakinan saya.
Pernyataan tersebut menggambarkan kritiknya terhadap politik identitas yang digunakan untuk mengalihkan perhatian dari persoalan ekonomi. Baginya, masyarakat membutuhkan sekolah yang baik, layanan kesehatan terjangkau, pekerjaan, dan harga kebutuhan pokok yang masuk akal.
Dalam salah satu pernyataan kampanyenya, ia merangkum orientasi tersebut dengan sangat jelas:
“And while politicians and pundits try to make this race about a Twitch streamer, we’re going to be talking about gas, groceries, good schools and healthcare. Because that’s what Michiganders keep asking about.”
Ketika politisi dan komentator mencoba menjadikan pemilihan ini tentang seorang streamer Twitch, kami akan tetap berbicara tentang harga bahan bakar, kebutuhan pokok, sekolah yang baik, dan layanan kesehatan. Sebab, itulah yang terus ditanyakan masyarakat Michigan.
3. Uang tidak boleh membeli politisi
Salah satu agenda yang paling konsisten disuarakan El-Sayed adalah mengurangi pengaruh korporasi dan kepentingan pemodal dalam politik.
Ia mengatakan:
“I don’t think they should be able to buy any of us. And that’s exactly what I want to end.”
Saya tidak berpikir mereka boleh membeli siapa pun di antara kita. Dan itulah yang ingin saya akhiri.
Dalam wawancara kampanye, ia juga menegaskan:
“Corporations shouldn’t buy politicians.”
Korporasi tidak seharusnya membeli politisi.
Baginya, persoalan pendanaan politik bukan sekadar urusan administrasi kampanye. Ada persoalan independensi dan akuntabilitas ketika seorang pejabat publik memiliki ketergantungan terhadap kepentingan perusahaan besar.
Ia menjelaskan bahwa menerima dukungan individu berbeda dengan membangun ketergantungan kepada korporasi yang kemudian dapat meminta imbal balik kebijakan.
Slogan kampanyenya merangkum gagasan tersebut:
“Money out of politics! Money in your pocket! Medicare for All!”
Uang keluar dari politik! Uang kembali ke kantong rakyat! Jaminan kesehatan untuk semua!
Sebuah slogan yang menghubungkan reformasi politik dengan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
4. Kekerasan tidak pernah menyelesaikan kekerasan
El-Sayed juga memiliki sejumlah pernyataan menarik mengenai konflik, kemanusiaan, dan hubungan antarumat beragama.
Dalam pernyataan mengenai kekerasan di Timur Tengah, ia pernah mengajukan pertanyaan:
“When do we learn that more violence doesn’t fix violence?”
Kapan kita belajar bahwa kekerasan yang lebih besar tidak akan menyelesaikan kekerasan?
Pernyataan tersebut memperlihatkan penolakannya terhadap pendekatan yang terus-menerus mengandalkan kekuatan militer untuk menyelesaikan konflik.
Di sisi lain, ia juga menegaskan komitmennya terhadap keselamatan komunitas Yahudi:
“My commitment to Jewish safety is the same as my commitment to the safety of my own daughters.”
Komitmen saya terhadap keselamatan masyarakat Yahudi sama besarnya dengan komitmen saya terhadap keselamatan kedua putri saya.
Pernyataan ini penting karena menunjukkan bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel, menurut posisi yang ia sampaikan, tidak seharusnya diterjemahkan sebagai penolakan terhadap keselamatan masyarakat Yahudi.
Ia juga pernah mengatakan:
“If you believe in equal rights to peace, dignity, and self determination, that’s not hate, it’s love.”
Jika Anda percaya pada kesetaraan hak untuk memperoleh perdamaian, martabat, dan menentukan nasib sendiri, itu bukan kebencian, melainkan cinta.
Di tengah polarisasi politik, pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan paling kuat dari kampanyenya tentang hak asasi dan martabat manusia.
5. Amerika tidak boleh menjadi negara yang terlalu kecil bagi sebagian orang
Dalam pidato kemenangannya, El-Sayed kembali menyinggung serangan terhadap nama dan keyakinannya.
“They want an America that is too small for some of us.”
Mereka menginginkan Amerika yang terlalu sempit bagi sebagian dari kita.
Ia kemudian menyampaikan jawaban yang menjadi salah satu pesan utama malam kemenangan tersebut:
“They wanted an America that is too small for some of us. We know that this is an America that is big enough for all of us.”
Mereka menginginkan Amerika yang terlalu sempit bagi sebagian dari kita. Kita tahu bahwa Amerika adalah negara yang cukup besar untuk kita semua.
Ia juga mengingat bagaimana masyarakat dari berbagai latar belakang menerimanya:
“You welcomed me in your homes, your churches, your synagogues.”
Kalian menerima saya di rumah-rumah kalian, gereja-gereja kalian, dan sinagoge-sinagoge kalian.
Kutipan ini menggambarkan upayanya membangun dukungan lintas komunitas. Identitas agama tidak harus menjadi tembok pemisah dalam kehidupan demokrasi.
Pada bagian lain pidatonya, ia menyampaikan ucapan yang cukup jenaka kepada Wakil Presiden JD Vance:
“JD, habibi, there is this delicious irony in the fact that you’re constitutionally obligated to swear me in January.”
JD, sahabatku, ada ironi yang menarik bahwa secara konstitusional Anda berkewajiban mengambil sumpah saya pada Januari.
Pernyataan tersebut merujuk pada posisi Vance sebagai Wakil Presiden yang memiliki kewajiban konstitusional untuk mengambil sumpah senator terpilih.
6. Politik seharusnya tentang menyelesaikan masalah
Di antara 170 kutipan yang terdokumentasi dari berbagai wawancara, debat, pernyataan kampanye, dan pidato, ada satu kalimat yang layak menjadi penutup refleksi tentang gaya politik El-Sayed.
“I’m just less interested in the politics of it all than I am in the policy of it all.”
Saya jauh lebih tertarik pada kebijakan dan solusi daripada sekadar permainan politiknya.
Kalimat ini merangkum orientasi yang berulang kali ia sampaikan: politik seharusnya menjadi instrumen untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, bukan sekadar arena pertarungan popularitas, identitas, dan kepentingan kelompok.
Kemenangan El-Sayed di Michigan memberikan momentum baru bagi perdebatan mengenai representasi, keberagaman, dan arah politik Amerika. Tentu, keberhasilan elektoral tidak otomatis menjamin semua gagasannya dapat diwujudkan. Ia tetap harus membuktikan janji-janji tersebut melalui kerja legislasi dan keputusan politik yang konkret.
Namun, ada satu pesan yang patut direnungkan dari pidatonya:
“America is big enough for all of us.”
Amerika cukup besar untuk kita semua.
Sebuah kalimat tentang inklusivitas, tetapi sekaligus pengingat bahwa kebesaran sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa keras ia mempertahankan identitas mayoritas, melainkan oleh seberapa luas ruang yang disediakan bagi seluruh warganya untuk hidup bermartabat, memperoleh kesempatan, dan ikut menentukan masa depan bersama.
Catatan sumber: Naskah disusun berdasarkan dokumen Abdul El-Sayed — On the Record, berisi 170 kutipan verbatim yang dalam dokumen tersebut dicatat telah dicocokkan dengan sumber pemberitaan seperti The Guardian, BBC News, Al Jazeera, CNN, CBS News, dan Fox News. Kutipan berbahasa Inggris dipertahankan, sementara terjemahan Indonesia disajikan sebagai terjemahan editorial.









