- Dari jejaring alumni ilmu dan teknologi kelautan, ISKINDO tumbuh menjadi ruang perjuangan gagasan maritim Indonesia. Setelah M. Zulficar Mochtar dan M. Riza Damanik, kini Darwis Ismail dipercaya membawa kapal besar itu memasuki pelayaran berikutnya.
- Darwis Ismail, S.T., M.M.A., merupakan alumnus Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin angkatan 1992. Putra kelahiran Luwu, 2 Maret 1973, ini melanjutkan pendidikan magister manajemen di Institut Pertanian Bogor. Ia kemudian menempuh perjalanan panjang di dunia kewirausahaan, terutama pada sektor kelautan, perikanan, dan pertanian.
PELAKITA.ID – JAKARTA — Corak perjalanan organisasi setelah lahirnya Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) tidak sekadar untuk mempertemukan para sarjana kelautan dari berbagai perguruan tinggi, tetapi juga membawa cita-cita lebih besar: menjadikan ilmu, pengetahuan, dan keahlian kelautan sebagai kekuatan yang ikut menentukan arah pembangunan Indonesia.
Kongres IV ISKINDO di Jakarta pada 23–24 Oktober 2026 menjadi babak baru perjalanan tersebut. Darwis Ismail, alumnus Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin (Unhas), terpilih sebagai Ketua Umum ISKINDO periode 2026–2031. Ia melanjutkan kepemimpinan M. Riza Adha Damanik yang sebelumnya menggantikan M. Zulficar Mochtar.
Darwis bukan figur yang datang tiba-tiba untuk memimpin organisasi.
Ia memiliki latar belakang pendidikan kelautan, pengalaman panjang di dunia usaha, serta rekam jejak organisasi yang tumbuh bersama perjalanan ISKINDO. Kepercayaan yang diberikan kepadanya sekaligus menandai kesinambungan perjuangan para sarjana kelautan Indonesia.
Dari gerakan mahasiswa menuju organisasi sarjana
Sejarah ISKINDO tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pendidikan ilmu kelautan di Indonesia.
Pada 1985, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan merintis pengembangan sumber daya manusia kelautan melalui Marine Science Education Project (MSEP) di enam perguruan tinggi negeri, yakni Universitas Riau, IPB, Universitas Diponegoro, Universitas Hasanuddin, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Pattimura.
Perkembangan pendidikan tersebut melahirkan jaringan mahasiswa yang kemudian membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kelautan sebagai bidang ilmu sekaligus orientasi pembangunan.
Salah satu tonggak pentingnya adalah Deklarasi Parepare pada 24 September 1992, yang melahirkan Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan Indonesia (HIMITEKINDO). Organisasi ini kemudian disahkan melalui Musyawarah Nasional I di Jepara pada 3 September 1993.
Jejaring mahasiswa tersebut tidak berhenti ketika para anggotanya menyelesaikan pendidikan. Mereka tersebar menjadi akademisi, peneliti, birokrat, aktivis, pengusaha, dan profesional yang bekerja dalam berbagai bidang pembangunan.
Kebutuhan akan wadah bersama bagi para alumni itulah yang menjadi salah satu akar pembentukan ISKINDO.
ISKINDO dideklarasikan pada 13 Maret 2014 oleh para alumni yang umumnya merupakan mantan aktivis HIMITEKINDO. Dalam perkembangan berikutnya, organisasi ini memperkuat kelembagaan dan kepengurusan wilayah. Sejumlah sumber juga mencatat fase pembentukan dan pengesahan organisasi pada 2015.
Tujuan pendiriannya cukup jelas: menghimpun sarjana kelautan Indonesia, memperkuat solidaritas dan kapasitas profesi, serta mengawal agar pembangunan nasional memberikan tempat yang lebih kuat bagi kepentingan kelautan. ISKINDO ingin menjadi ruang pertemuan antara ilmu pengetahuan, pengalaman profesional, dan kebijakan publik.

Zulficar Mochtar dan perjuangan arus utama kelautan
Salah satu figur penting dalam perjalanan ISKINDO adalah M. Zulficar Mochtar. Alumnus Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas ini memimpin organisasi pada periode 2018–2021.
Di luar organisasi, Zulficar juga dikenal melalui kiprahnya di Kementerian Kelautan dan Perikanan, termasuk sebagai Direktur Jenderal Perikanan Tangkap.
Kepemimpinannya berlangsung ketika gagasan Poros Maritim Dunia menjadi salah satu agenda besar pemerintahan Presiden Joko Widodo. ISKINDO mengambil posisi sebagai organisasi profesi yang tidak hanya berbicara tentang kepentingan anggotanya, tetapi juga menyampaikan gagasan mengenai masa depan pengelolaan laut Indonesia.
Tata ruang pesisir dan pulau-pulau kecil, pengelolaan perikanan, teknologi bagi nelayan, serta tumpang tindih regulasi kelautan menjadi bagian dari agenda yang disuarakan.
Pada 2021, ISKINDO juga merumuskan 17 rekomendasi strategis mengenai tantangan dan proyeksi pembangunan maritim hingga 2045.
Zulficar memperlihatkan bagaimana organisasi profesi dapat mengambil peran di antara ruang akademik dan pemerintahan. ISKINDO tidak harus menjadi bagian dari birokrasi untuk memengaruhi kebijakan, tetapi perlu memiliki pengetahuan, jaringan, dan keberanian menyampaikan pandangan.
Riza Damanik: memperluas jejaring dan kapasitas profesi
Kepemimpinan berikutnya beralih kepada M. Riza Adha Damanik, yang terpilih melalui Kongres III pada 23 September 2021 untuk periode 2021–2026. Riza merupakan alumnus Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro dan memiliki pengalaman panjang dalam gerakan masyarakat sipil, termasuk di WALHI dan KIARA.
Ia pernah mengawal agenda kemaritiman sebagai Ahli Utama Kantor Staf Presiden pada periode pertama pemerintahan Joko Widodo, sebelum kemudian dipercaya sebagai Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM. Pengalaman tersebut membawanya pada persinggungan antara isu kelautan, kebijakan negara, dan penguatan ekonomi masyarakat.
Dalam kepemimpinannya, Riza menekankan pentingnya sumber daya alam yang berkelanjutan, sumber daya manusia kelautan yang unggul, serta kebijakan yang mendukung inovasi dan teknologi.
Pria yang kini sebagai Deputi Bidang UMKM Kementerian UMKM ini juga mendorong pembentukan lembaga sertifikasi profesi jasa kelautan, peningkatan kapasitas anggota, penguatan pendataan, dan kemandirian organisasi.
Perjalanan dari Zulficar ke Riza memperlihatkan kesinambungan perjuangan ISKINDO, sekaligus perluasan ruang kontribusinya.
Organisasi ini tidak lagi semata berbicara tentang arus utama kelautan dalam kebijakan nasional, tetapi juga tentang bagaimana sarjana kelautan memiliki kompetensi, pengakuan profesi, dan peluang untuk berkontribusi di berbagai sektor.
Darwis Ismail: dari kampus, dunia usaha, hingga nakhoda ISKINDO
Darwis Ismail, S.T., M.M.A., merupakan alumnus Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin angkatan 1992. Putra kelahiran Luwu, 2 Maret 1973, ini melanjutkan pendidikan magister manajemen di Institut Pertanian Bogor. Ia kemudian menempuh perjalanan panjang di dunia kewirausahaan, terutama pada sektor kelautan, perikanan, dan pertanian.
Dalam kehidupan profesional, Darwis dikenal sebagai CEO Teknocorp Grup dan praktisi usaha budidaya udang vaname. Pengalaman lebih dari dua dekade sebagai pengusaha mempertemukannya dengan persoalan nyata sektor produktif, mulai dari pengembangan usaha hingga pemanfaatan potensi sumber daya alam.

Latar belakang ini menjadi modal tersendiri bagi seorang pemimpin organisasi sarjana kelautan yang dituntut mampu menghubungkan gagasan dengan praktik.
Rekam jejak organisasinya juga tidak pendek. Darwis pernah memimpin Ikatan Sarjana Kelautan Unhas selama dua periode sejak 2016. Di ISKINDO, ia mengemban tanggung jawab sebagai Bendahara Umum periode 2016–2018, Sekretaris Dewan Pakar periode 2018–2020, dan Wakil Ketua Umum periode 2021–2026.
Pelakita.ID pernah mencatat Darwis sebagai salah satu figur yang memiliki pengalaman dan jejaring kuat dalam keluarga besar sarjana kelautan.
Ia aktif membangun solidaritas alumni lintas angkatan, termasuk melalui kegiatan sosial dan upaya membuka ruang bagi generasi muda untuk tetap terhubung dengan lingkungan profesi.
Kini, perjalanan itu membawanya ke posisi tertinggi organisasi. Darwis tidak hanya mewarisi sejarah dari dua ketua sebelumnya, tetapi juga tanggung jawab untuk memastikan ISKINDO tetap relevan di tengah perubahan tantangan pembangunan maritim.
Menentukan arah pelayaran berikutnya
Indonesia membutuhkan sarjana kelautan yang mampu menjawab persoalan ketahanan pangan, kesejahteraan masyarakat pesisir, konservasi, perubahan iklim, inovasi teknologi, dan pengembangan ekonomi biru. Semua itu membutuhkan kolaborasi yang tidak berhenti pada pertemuan organisasi, tetapi diwujudkan dalam kerja nyata.
ISKINDO perlu memastikan bahwa ribuan sarjana kelautan yang tersebar di berbagai daerah tidak hanya menjadi angka keanggotaan. Mereka harus menjadi kekuatan pengetahuan yang dapat dihubungkan dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat pesisir, serta lembaga penelitian.
Darwis kini memegang kemudi. Kapal besar bernama ISKINDO telah memiliki sejarah, awak, dan pengalaman pelayaran.
Tugas nakhoda baru bukan sekadar menjaga kapal tetap bergerak, melainkan memastikan seluruh potensi di dalamnya mampu membawa organisasi menuju tujuan yang lebih bermakna: menjadikan ilmu kelautan sebagai kekuatan bagi kesejahteraan masyarakat dan masa depan maritim Indonesia.
Pembaca sekalian, laut Indonesia terlalu luas untuk dikelola dengan pengetahuan yang berjalan sendiri-sendiri.
ISKINDO, dengan seluruh jejaring sarjana kelautannya, memiliki kesempatan untuk menjadi salah satu penghubung penting antara pengetahuan, kebijakan, dan kehidupan masyarakat bahari.









