Kelompok Talin di Kampung Aduwei, Misool Utara, Raja Ampat, berhasil mengirimkan lebih dari 10 ton kopra ke Bitung, Sulawesi Utara, pada 1 Oktober 2026. Capaian ini menjadi bukti berkembangnya usaha berbasis potensi lokal yang membuka peluang ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
PELAKITA.ID – SORONG, 28 Oktober 2026 — Potensi kelapa di Kampung Aduwei, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, semakin berkembang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Kelompok Talin, yang mulai mengelola usaha kopra secara lebih terorganisasi sejak 2022, kini berhasil memperluas jangkauan pemasaran hingga Bitung, Sulawesi Utara.
Kelompok yang beranggotakan sembilan orang ini telah melakukan sedikitnya tujuh kali penjualan. Pengiriman terakhir pada 1 Oktober 2026 mencapai lebih dari 10 ton kopra, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi masyarakat melalui pemanfaatan hasil kebun kelapa.
Ketua Kelompok Talin, Jonathan Elwod, mengatakan bahwa pengelolaan kelapa kini mulai mengalami perubahan. Komoditas yang sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, seperti bahan makanan dan pembuatan minyak, kini semakin dilihat sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
“Dulu kelapa lebih banyak diambil untuk kebutuhan sehari-hari, seperti makanan dan membuat minyak. Sekarang masyarakat mulai melihat bahwa kelapa bisa dikelola menjadi sumber penghasilan berkelanjutan,” kata Jonathan.
Dengan pendampingan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Kelompok Talin memperkuat kelembagaan dan tata kelola usaha. Pembagian peran antara ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota dilakukan untuk memastikan proses produksi, pencatatan, pengelolaan keuangan, penimbangan, hingga pemuatan hasil berjalan lebih terorganisasi.
Pendampingan juga diarahkan pada peningkatan kualitas kopra. Anggota kelompok didorong memastikan kelapa dikeringkan melalui pengasapan atau penjemuran hingga benar-benar kering agar lebih tahan disimpan dan memiliki kualitas jual yang lebih baik.
Pengembangan usaha ini berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya pesisir dan laut secara berkelanjutan. Sebagian besar anggota Kelompok Talin juga terlibat dalam kelompok sasi, sementara sebelumnya mereka telah mengikuti pelatihan Marine Protected Area (MPA) 101 yang membahas dasar-dasar kawasan konservasi perairan dan pengelolaannya.
Keterlibatan masyarakat dalam dua bidang tersebut memperlihatkan bagaimana kapasitas lokal dapat dikembangkan untuk menjawab kebutuhan yang berbeda. Melalui kelompok sasi, masyarakat berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal, sedangkan Kelompok Talin menjadi wadah pengembangan usaha kopra untuk menopang ekonomi keluarga.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat Daya, Absalom Solossa, mengapresiasi perkembangan Kelompok Talin serta pendampingan YKAN dalam mendorong usaha berbasis potensi masyarakat.
“Kami mengapresiasi Kelompok Talin dan YKAN yang telah mengembangkan potensi kelapa menjadi usaha yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Upaya ini sejalan dengan semangat ekonomi biru, yaitu mendorong pemanfaatan potensi sumber daya secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Absalom.
Bagi YKAN, pengembangan Kelompok Talin merupakan upaya memperkuat potensi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kampung Aduwei.
Pendampingan dilakukan melalui penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas produksi, dan perluasan akses pasar, sekaligus melengkapi upaya masyarakat dalam menjaga sumber daya alam melalui kelompok konservasi dan pengelolaan berbasis kearifan lokal.
YKAN juga mendorong peningkatan produksi dengan mengoptimalkan kebun kelapa yang sudah tersedia, tanpa membuka lahan baru atau mengonversi vegetasi alami pulau. Pendekatan ini diharapkan dapat memastikan peningkatan manfaat ekonomi berlangsung sejalan dengan perlindungan ekosistem.
“Kelapa telah menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat Kampung Aduwei. Karena itu, kami mendorong agar potensi tersebut dikelola lebih baik melalui penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas produksi, dan perluasan akses pasar. Dengan demikian, usaha ini dapat memberikan manfaat ekonomi bagi anggota sekaligus menjaga kebun kelapa sebagai sumber penghidupan dalam jangka panjang,” jelas Manajer Senior Ekonomi Biru YKAN, Kiki Anggraini.
Menjaga Usaha untuk Generasi Berikutnya
Saat ini, setiap anggota Kelompok Talin mampu menghasilkan sekitar 80 hingga 400 kilogram kopra, bergantung pada hasil kebun dan kapasitas produksi. Sebagian pendapatan usaha juga dialokasikan kembali sebagai modal produksi dan tabungan anggota.
Perkembangan usaha ini turut mendorong masyarakat untuk semakin memperhatikan keberlanjutan kebun kelapa. Jonathan menilai, meningkatnya kepedulian terhadap kebun menjadi salah satu perubahan penting sejak usaha tersebut dikelola secara kolektif.
“Dengan adanya usaha kopra dan Kelompok Talin, orang yang memiliki pohon kelapa menjadi lebih peduli untuk menjaga dan merawat lahannya. Kelapa bisa dikelola dengan lebih baik sehingga hasil produksinya dapat dimanfaatkan,” tambah Jonathan.
Manfaat usaha tersebut juga dirasakan langsung oleh keluarga anggota kelompok. Hasil penjualan kopra membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan anak, serta menopang kehidupan sehari-hari.
“Usaha produksi kopra sangat bermanfaat bagi keluarga. Dari hasil kelapa ini kami bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga, kebutuhan anak sekolah, dan kehidupan sehari-hari,” kata Bendahara Kelompok Talin, Lamek Lan.
Sebelum dikelola secara berkelompok, pemasaran kopra dari Kampung Aduwei lebih banyak berlangsung secara individual. Kehadiran Kelompok Talin kemudian mengorganisasi hasil produksi para pemilik kebun dan menghubungkannya dengan pembeli, sehingga pemasaran dapat dilakukan dalam skala yang lebih besar.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan dan jauh dari pusat perdagangan, terbukanya akses ke pasar luar daerah menjadi perkembangan penting. Hasil kebun yang sebelumnya lebih banyak dipasarkan di sekitar Raja Ampat kini dapat menjangkau pembeli di wilayah lain.
“Kami sangat bersyukur dan bangga karena hasil kerja kelompok sudah bisa masuk ke pasar di luar daerah. Ini sekaligus menjadi motivasi bagi kami untuk terus berkembang,” ujar Lamek.
Ke depan, Kelompok Talin berharap usaha kopra dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Keberlanjutan usaha tidak hanya diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi anggota saat ini, tetapi juga menjadi peluang penghidupan bagi anak cucu mereka.
“Kami berharap usaha ini tidak hanya berjalan sekarang. Anak cucu juga bisa menjalankan usaha ini nanti. Kami ingin Kelompok Talin semakin maju dan memberikan keuntungan yang lebih baik bagi masyarakat,” pungkas Jonathan Elwod.









