Rusman Madjulekka | Amiruddin Tamoreka, Gas Inovasi dari Timur Sulawesi

  • Whatsapp
Amirudin Tamoreka (ilustrasi oleh AI)

Amirudin, anak dari pasangan H. Abdul Hamid Tamoreka–Hj. Nurhayati H. Nur. Sang ayah orang Banggai, ibunya Bugis. Ia menghabiskan masa kecilnya di Banggai. Usai lulus di SDN 1 Toili, dia melanjutkan pendidikan di SMP 1 Toili. Setelah itu, Amirudin melanjutkan pendidikan di SMA 1 Luwuk, lalu kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar.

PELAKITA.ID – MENDENGAR nama Banggai, terbayang daerah kaya bahan mineral gas alam. Dari terminal Donggi Senoro, dekat Luwuk Banggai di pelosok jazirah timur Pulau Sulawesi ini, Indonesia mengekspor gas dalam bentuk LNG ke Jepang.

“Banggai tak hanya dikenal kaya gas, tapi juga kaya inovasi,” ujarnya seakan mengungkap tabir kekayaan lain yang dikandung Banggai.

Saya mengikuti pemaparannya yang lugas dalam presentasi penilaian “Innovative Government Award” (IGA) Regional Sulawesi 2026 yang digelar secara daring oleh BSKDN (Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri) Kemendagri, Selasa (3/11/2026).

Ia adalah Ir. H. Amirudin Tamoreka, S.P., M.M., Bupati Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Pada tahun sebelumnya, daerah yang dipimpinnya dua periode (2021–2024) dan (2025–2030) menjadi satu-satunya penerima penghargaan IGA 2025 dari Provinsi Sulawesi Tengah.

Bagi yang belum tahu, Kabupaten Banggai ibu kotanya Luwuk. Pakai “K” untuk membedakan dengan daerah kabupaten di Sulawesi Selatan. Luwuk Banggai berhadapan dengan Laut Maluku di timur dan Selat Peleng di selatan, yang terhubung ke Laut Banda. Karena letak geografis itulah, posisinya sebagai wilayah maritim dan “pintu gerbang” di jazirah timur Pulau Sulawesi semakin kuat.

Setiap tahun sejak awal periode kepemimpinannya, Banggai selalu melahirkan sejumlah riset dan inovasi unggulan, baik yang berbasis digital maupun nondigital.

Pemkab Banggai melalui BRIDA—semacam BRIN di daerah—telah menelurkan program inovasi seperti “Satu Juta Satu Pekarangan” (SJSP) untuk memperkuat ketahanan pangan. Ada juga “Bingkele” (budi daya lele di kolam terpal), “Ambulance Dering Ibu Hamil” di sektor kesehatan, dan lainnya.

“Semua pekarangan warga semuanya kita isi dengan berbagai jenis tanaman. Maka ini menjaga inflasi,” katanya.

Bagi Amirudin—begitu ia biasa disapa—berbagai inovasi unggulan itu berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), penurunan pengangguran atau pengentasan kemiskinan, urusan pelayanan dasar, meliputi pendidikan, kesehatan, sosial, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat, pekerjaan umum dan penataan ruang, serta perumahan dan kawasan permukiman.

Di sektor pelayanan publik, tambah Amirudin, selain kemudahan perizinan dalam satu atap, ada juga inovasi yang dikenal “Mobil Bapak Tatu” (Mobil Pelayanan Keliling Bayar Pajak Daerah Tepat Waktu). Inovasi ini dirancang untuk menjemput bola dengan memfasilitasi wajib pajak yang berada di wilayah terpencil atau sulit menjangkau kantor pelayanan pajak.

“Terbukti dengan strategi proaktif ini bisa mendongkrak penerimaan pajak daerah hingga 90 persen. Ini pertama dalam sejarah pencapaian PAD kami,” katanya dengan bangga.

Saya pernah ke Luwuk Banggai. Namun, sudah lama sekali. Terakhir beberapa tahun lalu. Banyak sekali terlihat perubahan wajahnya. Lebih bersih dan tertata rapi.

Daerah ini berkembang pesat sejak sekitar 15 tahun lalu, ditemukan sumber gas di Laut Banggai. Dialirkan ke daratan terdekat: Luwuk. Sebagian untuk PLN untuk pemenuhan kebutuhan listrik, sebagian besar lagi dijadikan LNG untuk diekspor ke Jepang.

Bandara Luwuk juga sudah lebih ramai. Termasuk arus barang kargo. Terminal penumpang lebih lebar, runway pesawatnya lebih panjang. Tak hanya pesawat ATR yang sebelumnya, kini jenis Boeing 737 sudah bisa mendarat di Luwuk. Jadwalnya dua kali sehari. Dari dan ke Makassar. Dan seat pesawatnya kerap penuh dengan okupansi rata-rata di atas 80 persen. Saya pernah coba go show, tak kebagian tiket, mesti pesan beberapa hari sebelumnya.

Anak Desa Toili

Saya tahu dari para wartawan setempat, Amirudin anak desa yang sejak muda digembleng orangtuanya sebagai sosok pekerja keras dan ulet. Tidak heran jika selepas sarjana, ia sukses di dunia usaha dan bisnis.

Pria kelahiran 13 Desember 1971 di Desa Toili, Banggai, adalah orang yang awalnya tidak punya keinginan sama sekali untuk menjadi Bupati. Dia terbilang sudah mapan hidupnya dari bisnisnya yang besar. Dia adalah pengusaha, bukan tipe orang yang gila jabatan. Dia adalah orang yang memilih mengabdikan hidupnya di dunia sosial dan kemasyarakatan.

Amirudin, anak dari pasangan H. Abdul Hamid Tamoreka–Hj. Nurhayati H. Nur. Sang ayah orang Banggai, ibunya Bugis.

Ia menghabiskan masa kecilnya di Banggai. Usai lulus di SDN 1 Toili, dia melanjutkan pendidikan di SMP 1 Toili. Setelah itu, Amirudin melanjutkan pendidikan di SMA 1 Luwuk, lalu kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar.

Semasa kuliah, ia dikenal sebagai aktivis mahasiswa. Pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Agronomi (Himagro), Ketua Senat Fakultas, serta Ketua Himpunan HMI Badko.

Di kalangan temannya, ia dikenal aktif berorganisasi dan pandai bergaul sehingga punya banyak networking.

Awalnya, setelah merampungkan pendidikan, ia ditawari jadi asisten dosen di kampusnya. Tapi Amirudin lebih tertarik mengaplikasikan ilmunya di luar kampus. Ia pun memutuskan untuk pulang kampung ke Banggai dan kemudian bekerja di sebuah perusahaan sawit.

Berselang beberapa waktu, Amirudin bertekad mengembangkan kariernya di dunia pertambangan migas. Pilihannya tak salah, dirinya kemudian menjelma menjadi pengusaha berskala nasional.

Dengan menjabat Komisaris Utama pada beberapa perusahaan seperti PT Petro Jasa Energi, PT Tiga Dimensi Jaya, PT Amico Putra Perkasa, dan PT Amirul Insani. Pekerjanya kurang lebih 3.000 orang yang sebagian besar direkrut dari anak-anak Banggai.

Setelah dari dunia bisnis, atas permintaan masyarakat dan panggilan hatinya ingin mengabdi kepada kampung halaman, Amirudin memutuskan terjun ke dunia politik. Ia sudah kalkulasi dan menghitung segala konsekuensinya.

Dalam pengamatan saya, Banggai sendiri punya cerita “panggung politik” yang unik dengan melibatkan keluarga Murad Husain, seorang pengusaha sawit.

Namanya populer seantero Nusantara lantaran menukar uang 4 juta dolar ke rupiah tatkala kurs Rp17.000. Pada saat itu, Indonesia dilanda krisis moneter dan politik.

Dari Bisnis Masuk Politik

Dunia perpolitikan Banggai, terutama pemilihan Bupati dalam 20 tahun terakhir, diwarnai keterlibatan kerabat Murad Husain. Diawali Pilkada 2011 ketika Herwin Yatim, menantu Murad, terpilih menjadi Wakil Bupati berpasangan dengan Sofhian Mile.

Lalu Pilkada 2015, Herwin Yatim “naik kelas” dan berhasil menjadi Bupati Banggai.

Pasca itu, terjadilah pertarungan internal keluarga Murad. Herwin Yatim cerai dengan istrinya, Sulianti Murad. Sekaligus menjadi perceraian politik atau pecah kongsi. Pada Pilkada 2020, Sulianti Murad maju menjadi calon Bupati menantang petahana Herwin Yatim.

Di tengah jalan, Herwin Yatim didiskualifikasi KPU karena sebagai petahana melakukan rotasi pejabat saat Pilkada sudah berlangsung. Namun, diskualifikasi itu dianulir PTUN Makassar. Apa akhir pertarungan mantan suami-istri itu? Keduanya kalah. Yang menang calon lain, politisi pendatang baru Amirudin Tamoreka.

Pada Pilkada 2024, perseteruan itu belum berakhir.

Sulianti Murad kembali menjadi calon Bupati, Herwin Yatim juga. Keduanya mengeroyok petahana Amirudin Tamoreka. Hasilnya, incumbent tetap menjadi pemenang, meski MK memerintahkan PSU. Sulianti Murad yang didukung koalisi parpol gemuk kalah suara tipis.

Sebagai orang swasta yang terjun ke pemerintahan, saya bisa membayangkan apa yang ada di kepala Amirudin saat pertama kali dilantik menjadi Bupati Banggai tahun 2021.

Hampir sama dengan yang dibayangkan pengusaha pada umumnya. Yakni ingin membuat mesin birokrasi bekerja lebih efektif dan efisien. Untuk itu, harus melakukan perombakan di segala bidang.

Sebagai politisi berlatar pengusaha, ia tentu merasakan bagaimana ruwetnya menghadapi birokrasi selama ini. Tapi sebagai pengusaha pula, Amirudin tentu banyak akal. Apalagi kultur birokrasi di Banggai sudah begitu kuatnya di bawah pendahulunya selama puluhan tahun.

Sebagai Bupati, ia ingin birokrasi itu bekerja cepat ibarat pelari sprint, bukan marathon. Amirudin lalu menerapkan “manajemen talenta” menjadi langkah strategis dalam membangun birokrasi yang sehat, profesional, kompeten, dan berintegritas.

Hal itu, menurutnya, sangat membantu kepala daerah dalam memperkuat sistem meritokrasi.

Dengan begitu, pemerintah daerah dapat meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan sekaligus mendorong pelayanan publik yang lebih profesional.

Salah satu hasil dari sistem meritokrasi ini adalah Mohamad Ramli Tongko, aparatur sipil negara (ASN) yang berkarier dari bawah dan berjenjang dalam tugas kedinasan hingga dipercaya dan dilantik pada 29 September 2025 menjadi Sekda Banggai hingga sekarang.

(Rusman Madjulekka)