Singapura, Negara Kaya yang Tak Menjanjikan Kebahagiaan

  • Whatsapp
George Yeo (Wikipedia)

“Jangan pernah menjanjikan kebahagiaan.”

PELAKITA.ID – Setelah sempat diguyur hujan, suasana Sorowako hari ini sungguh damai, adem dan bikin semangat. Di gawai, nampak wawancara seorang host perempuan dengan George Yeo, sosok tak asing bersama Singapura.

“Sigapura adalah satu dari duapuluh negara terkaya di dunia, tapi juga adalah yang paling tak bahagia, pendapatmu George?” pagi menghangat, ada uap di atas aspal Pontada. Pertanyaan itu menuntun penulis untuk membuka jendala di Jalan Sumatra lebih lebar.

George Yeo adalah sosok tangguh di perjalanan Singapura yang terang benderang. Ekonomi, politik, komunikasi politik, dan pembawaannya memang luar biasa. Tampan dan tidak suka teriak.

Mendengar pertanyaan itu, George tersenyum, penonton terbahak.

Pesan Lee Kuan Yew itu kembali mengemuka dalam sebuah percakapan mengenai Singapura, negara yang dikenal sebagai salah satu pusat ekonomi paling maju dan makmur di dunia, tetapi dalam sejumlah pengukuran kebahagiaan masyarakat justru tidak selalu menempati posisi yang tinggi.

Mantan Menteri Perdagangan dan Industri serta Menteri Luar Negeri Singapura, George Yeo, mengingat bagaimana Lee Kuan Yew sejak awal mengingatkan para pemimpin Singapura agar tidak menjadikan kebahagiaan sebagai sesuatu yang dijanjikan negara kepada rakyat.

Menurut Yeo, pemerintah memang dapat menjanjikan pembangunan ekonomi, infrastruktur, pendidikan, dan berbagai pelayanan publik. Namun, kebahagiaan adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks dan tidak sepenuhnya berada dalam kendali negara.

“Kita bisa menjanjikan pembangunan ekonomi, infrastruktur, pendidikan, apa pun, tetapi jangan pernah menjanjikan kebahagiaan,” kata Yeo, mengingat pesan Lee Kuan Yew.

Pernyataan itu muncul ketika pewawancara menyinggung posisi Singapura dalam daftar negara yang dianggap memiliki tingkat kebahagiaan relatif rendah, meskipun secara ekonomi Singapura dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kemakmuran tertinggi.

Yeo tidak melihat kondisi tersebut semata-mata sebagai sesuatu yang memalukan.

Ia justru mengangkat pengalaman ketika dirinya berada di pemerintahan.

Saat menjabat di Kementerian Perdagangan dan Industri atau MTI serta Kementerian Luar Negeri atau MFA, survei pelayanan publik menunjukkan bahwa kedua kementerian tersebut memiliki keseimbangan kehidupan dan pekerjaan yang buruk.

Jam kerja panjang dan tuntutan pekerjaan yang tinggi menjadi bagian dari realitas birokrasi di dua kementerian tersebut.

Meski begitu, menurut Yeo, keduanya justru mencatat tingkat moral atau semangat kerja yang tinggi.

“Kadang-kadang, ketidakbahagiaan mungkin merupakan prasyarat bagi pencapaian,” ujar Yeo.

Pernyataan tersebut kemudian diamini oleh pewawancara dalam percakapan tersebut.

Sosodara, pengalaman Singapura menjadi menarik untuk direnungkan.

Kemajuan ekonomi tidak selalu berjalan dalam garis lurus dengan kebahagiaan personal.

Sebuah masyarakat dapat memiliki infrastruktur yang maju, pendidikan yang kuat, pendapatan tinggi dan sistem pemerintahan yang efektif, tetapi tetap menghadapi tekanan hidup, kompetisi, tuntutan kerja, serta ekspektasi pencapaian yang tinggi.

Pandangan Yeo juga memperlihatkan perbedaan antara pembangunan sebagai sesuatu yang dapat dirancang negara dan kebahagiaan sebagai pengalaman manusia yang jauh lebih personal.

Negara dapat membangun jalan, sekolah, rumah sakit, sistem transportasi dan berbagai institusi publik. Negara juga dapat menciptakan lingkungan ekonomi yang memungkinkan masyarakat memperoleh pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.

Walau begitu, apakah seseorang merasa bahagia, puas, bermakna, atau memiliki keseimbangan hidup merupakan persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui pertumbuhan ekonomi.

Pengalaman Singapura memperlihatkan paradoks tersebut dengan cukup jelas: pencapaian ekonomi yang tinggi dapat hadir bersamaan dengan tekanan untuk terus berprestasi.

Karena itu, pertanyaan mengenai kebahagiaan sebuah bangsa mungkin tidak cukup dijawab dengan melihat seberapa kaya negara tersebut.

Kita juga perlu melihat bagaimana masyarakat menjalani kehidupannya, bagaimana mereka bekerja, beristirahat, membangun relasi sosial, merasakan keamanan, menemukan makna, dan memandang masa depannya.

Pesan Lee Kuan Yew yang dikenang George Yeo itu mengandung satu gagasan sederhana tetapi mendalam bahwa negara dapat menciptakan kondisi bagi kehidupan yang lebih baik, tetapi kebahagiaan tidak pernah sepenuhnya dapat dijanjikan oleh negara.

Sebuah paradoks pembangunan modern, bahwa semakin tinggi sebuah masyarakat mengejar pencapaian, semakin penting pula pertanyaan tentang apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh manusia.

Tentang George Yeo

George Yeo Yong-Boon (lahir 13 September 1954) adalah mantan politikus Singapura dan brigadir jenderal yang pernah menjadi anggota parlemen dari Aljunied GRC pada 1988–2011. Setelah berkarier di Angkatan Bersenjata Singapura dan mencapai pangkat Brigadir Jenderal, ia memasuki dunia politik melalui Partai Aksi Rakyat (PAP).

Yeo kemudian menduduki sejumlah posisi penting dalam pemerintahan, termasuk Menteri Informasi dan Seni, Menteri Kesehatan, Menteri Perdagangan dan Industri, serta Menteri Luar Negeri pada 2004–2011.

Ia kehilangan kursi parlemen setelah tim PAP yang dipimpinnya dikalahkan Workers’ Party dalam pemilu 2011, lalu mengundurkan diri dari dunia politik.

Yeo menempuh pendidikan teknik di Christ’s College, University of Cambridge, melalui President’s Scholarship dan Singapore Armed Forces Overseas Scholarship, kemudian meraih gelar MBA dari Harvard Business School sebagai Baker Scholar. Setelah meninggalkan politik, ia aktif dalam berbagai institusi internasional, akademik, keagamaan, dan bisnis.

Ia pernah menjadi visiting scholar di Lee Kuan Yew School of Public Policy, anggota Council for the Economy di Vatikan, terlibat dalam World Economic Forum dan Berggruen Institute, serta pernah menjabat sebagai kanselir Governing Board Nalanda University.

Di sektor swasta, ia bergabung dengan Kuok Group dan menduduki sejumlah posisi direktur, termasuk di Kerry Logistics Network, AIA Group, Wilmar International, Creative Technology, dan perusahaan teknologi Pinduoduo.

Selain dikenal karena perannya dalam pemerintahan dan bisnis, Yeo juga terlibat dalam sejumlah isu sosial dan pendidikan di Asia.

Ia menerima Padma Bhushan dari India, Order of Sikatuna dari Filipina, serta Honorary Officer of the Order of Australia.

Yeo menikah dengan pengacara Jennifer Leong Lai Peng dan memiliki tiga putra serta seorang putri. Pengalaman keluarganya menghadapi leukemia pada putra bungsu mereka turut mendorong istrinya mendirikan VIVA Foundation for Children with Cancer. Yeo sendiri dikenal memiliki minat pada jogging dan tai chi, serta pernah menggambarkan dirinya sebagai “sedikit Taois” dan menyatakan dirinya pro-China.

Denun, Sorowako, 24 September 2026