- IAS memiliki kelebihan dalam hal pengalaman dan kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok. Ia dikenal cukup fleksibel menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan politik.
- Andi Ina memiliki kekuatan dalam struktur dan jejaring politik keluarga yang kuat di Sulsel.
- Appi memiliki daya tarik modernisasi dan kedekatan dengan pemilih muda perkotaan.
- Sedangkan Rahman Pina dianggap mewakili jalur kaderisasi internal yang lebih organisatoris.
Pertanyaannya: model kepemimpinan seperti apa yang sedang dibutuhkan Golkar Sulsel hari ini?
Oleh: Johansyah Mansyur
PELAKITA.ID – Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan kali ini terasa berbeda. Ia bukan sekadar agenda rutin pergantian kepemimpinan partai, melainkan pertarungan arah masa depan Golkar Sulsel di tengah perubahan besar politik Indonesia.
Golkar Sulsel sedang berada di persimpangan jalan: antara mempertahankan tradisi politik lama yang bertumpu pada figur dan jaringan senior, atau membuka ruang lebih luas bagi regenerasi dan modernisasi politik.
Pilihan ini akan sangat menentukan partai ini akan berjaya, atau partai ini akan ditinggalkna oleh para pemilih setianya selama ini.
Di tengah dinamika itu, sejumlah nama mencuat sebagai kandidat kuat Ketua DPD I Golkar Sulsel.
Mulai dari Ilham Arief Sirajuddin (IAS), Andi Ina Kartika Sari, Munafri Arifuddin (Appi), hingga Rahman Pina. Namun dalam percakapan politik publik maupun internal kader, nama IAS kembali menjadi salah satu pusat perhatian.
Hal itu bukan tanpa alasan. IAS bukan orang baru di Golkar.
Ia adalah kader yang tumbuh, dibesarkan, dan pernah menikmati puncak karier politik melalui Partai Golkar.
IAS dan Romantisme Golkar Lama
Dalam sejarah politik Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin memiliki posisi yang unik. Ia bukan hanya mantan Wali Kota Makassar dua periode, tetapi juga pernah dipercaya menjadi Plh Ketua DPD I Golkar Sulsel pada masa dinamika internal partai beberapa tahun silam. Saat perebutan ketokohan secara internal antara Amien Syam dan Syahrul Yasin Limpo.
Artinya, IAS memahami “urat nadi” Golkar Sulsel bukan sekadar dari luar, tetapi dari dalam tubuh organisasi itu sendiri.
Bagi kader senior Golkar, IAS adalah representasi dari generasi politisi yang lahir dari kultur partai yang kuat: menguasai organisasi, memahami jaringan daerah, dekat dengan elite nasional, sekaligus piawai membangun komunikasi akar rumput.
Karier politik IAS sendiri banyak dibentuk oleh Golkar, walaupun pada akhirnya Ia harus memimpin Partai Demokrat Sulsel, dan saat ini sudah berhenti dan mengundurkan diri dari kepengurusan, maupun keanggotaan Parai Demokrat.
Pada masa kejayaannya sebagai Wali Kota Makassar, IAS menjadi salah satu ikon politik urban Sulsel yang berhasil membangun citra populis dan komunikatif.
Di tangan IAS, Makassar pernah mengalami fase pertumbuhan identitas kota modern dengan pendekatan kepemimpinan yang cair dan dekat dengan masyarakat.
Karena itulah, sebagian kader Golkar melihat IAS bukan sekadar kandidat ketua, melainkan simbol nostalgia kejayaan Golkar Sulsel, ketika partai itu begitu dominan dalam politik lokal. Namun politik tidak hanya bergerak oleh nostalgia.
Tantangan Golkar Hari Ini Berbeda
Masalah utama Golkar hari ini bukan sekadar memenangkan Musda. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mempertahankan relevansi di tengah perubahan generasi pemilih.
Pemilih muda Sulsel sekarang berbeda dengan dua dekade lalu. Mereka tidak lagi terlalu terikat pada sejarah besar partai. Mereka lebih kritis terhadap integritas, gagasan, kemampuan komunikasi digital, dan keberpihakan sosial.
Dalam konteks itu, Golkar membutuhkan bukan hanya figur populer, tetapi juga kepemimpinan yang mampu menjembatani masa lalu dan masa depan. Di sinilah muncul nama Munafri Arifuddin atau Appi.
Sebagai figur pengusaha, mantan CEO PSM Makassar, sekaligus Wali Kota Makassar dan Ketua DPD Partai Golkar Kota Makassar saat ini, Appi dianggap membawa wajah Golkar yang lebih modern dan urban.
Ia merepresentasikan generasi politik baru yang tumbuh dalam era media sosial, branding politik, dan komunikasi publik yang lebih cair.
Sementara A. Ina Kartika Sari menghadirkan dimensi berbeda: perpaduan pengalaman legislatif (pernah menjadi Ketua DPRD Provinsi Sulsel), kepemimpinan pemerintahan (saat ini sebagai Bupati Barru), dan representasi perempuan dalam politik Sulsel yang selama ini masih sangat maskulin.
Golkar Sulsel dan Politik Ketokohan
Satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari Golkar Sulsel adalah budaya ketokohan. Sejak era Jusuf Kalla, Mayjen Purn. Amien Syam, Syahrul Yasin Limpo, hingga Nurdin Halid, Golkar Sulsel selalu bertumpu pada figur kuat yang mampu menjadi “payung besar” bagi jaringan politik daerah.
Karena itu, Musda kali ini sebenarnya bukan hanya soal siapa paling kuat secara administratif, tetapi siapa yang paling mampu menjadi titik temu berbagai faksi.
IAS memiliki kelebihan dalam hal pengalaman dan kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok.
Ia dikenal cukup fleksibel menjalin hubungan dengan berbagai kekuatan politik. Andi Ina memiliki kekuatan dalam struktur dan jejaring politik keluarga yang kuat di Sulsel.
Appi memiliki daya tarik modernisasi dan kedekatan dengan pemilih muda perkotaan. Sedangkan Rahman Pina dianggap mewakili jalur kaderisasi internal yang lebih organisatoris.
Pertanyaannya: model kepemimpinan seperti apa yang sedang dibutuhkan Golkar Sulsel hari ini?
Musda sebagai Arena Rekonsiliasi
Golkar adalah partai yang memiliki sejarah panjang konflik internal, tetapi juga dikenal sangat cepat melakukan rekonsiliasi setelah pertarungan selesai.
Musda Golkar Sulsel nanti kemungkinan besar bukan hanya menghasilkan ketua baru, tetapi juga menentukan bagaimana konfigurasi kekuasaan politik menuju Pilkada dan Pemilu mendatang.
Siapa pun yang terpilih harus mampu merangkul semua kelompok. Sebab ancaman terbesar Golkar justru bukan lawan di luar partai, melainkan fragmentasi internal akibat pertarungan elite yang berkepanjangan.
Dalam konteks itu, pengalaman IAS sebagai kader lama dan mantan pengendali organisasi tentu menjadi modal penting. Tetapi pengalaman saja mungkin tidak cukup jika tidak dibarengi kemampuan membaca perubahan zaman.
Golkar Sulsel kini membutuhkan lebih dari sekadar ketua. Ia membutuhkan nahkoda yang mampu menghubungkan warisan sejarah partai dengan tuntutan politik masa depan.
Karena pada akhirnya, partai besar bukan hanya partai yang pernah berjaya. Partai besar adalah partai yang mampu secara terus-menerus menemukan relevansinya pada setiap generasi dan masa.
___
Penulis adalah Pengamat Politik Lokal, saat ini sebagai Direktur LP2M Bhakti Nusantara









