Ekowisata untuk Kehidupan: Sinergi Memperkuat Kolaborasi dan Dorong Pariwisata Berkelanjutan di Papua Barat Daya

  • Whatsapp

Sesi gelar wicara sebagai rangkaian kegiatan “Ekowisata untuk Kehidupan: Dari Alam untuk Masyarakat”. (Foto: Nugroho Arif Prabowo/YKAN)

PELAKITA.ID – Sorong, 13 Mei 2026 – Dalam upaya mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat di Bentang Laut Kepala Burung, Provinsi Papua Barat Daya, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama para mitra terus melakukan penguatan melalui berbagai kegiatan.

Salah satunya diwujudkan lewat penyelenggaraan gelar wicara, pameran, serta uji coba paket ekowisata bertema “Ekowisata untuk Kehidupan: Dari Alam untuk Masyarakat” yang berlangsung pada tanggal 6 – 9 Mei 2026 di Sorong.

Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, asosiasi, hingga kelompok masyarakat pengelola ekowisata dari wilayah Bentang Laut Kepala Burung.

Forum ini bertujuan untuk mengenalkan inisiatif ekowisata yang telah dikembangkan oleh kelompok masyarakat lokal ke para pemangku kepentingan.

Harapan ke depan agar dapat memperkuat sinergi dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan, dan terhubungnya paket ekowisata dari kelompok masyarakat ke pelaku usaha wisata..

“Papua Barat Daya memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, pariwisata dapat memberikan tekanan terhadap lingkungan. Karena itu, pendekatan ekowisata menjadi penting agar manfaat ekonomi tetap berjalan seiring dengan upaya konservasi,” terang Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo pada kesempatan tersebut.

Proses tokok sagu. Aktivitas ini merupakan bagian dari uji coba paket ekowisata yang dikelola Kelompok Ekowisata Gauksuak di Malaumkarta, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong. (Foto: Nugroho Arif Prabowo/YKAN)

Yusdi menegaskan bahwa pengembangan ekowisata memerlukan sinergi lintas sektor, yang mencakup peningkatan kapasitas masyarakat, pengelolaan destinasi secara berkelanjutan, serta penguatan konektivitas dengan pasar wisata.

Upaya ini penting untuk menjawab salah satu tantangan utama ekowisata saat ini, yakni menjembatani inisiatif lokal dengan pasar yang lebih luas, agar paket ekowisata berbasis masyarakat dapat tumbuh berkelanjutan dan memiliki daya saing yang kuat.

Gelar wicara yang berlangsung dalam tiga sesi ini membahas berbagai isu strategis, mulai dari tantangan mass tourism, konsep dan nilai ekowisata, hingga potensi pengembangan destinasi.

Para narasumber dari kalangan praktisi dan pelaku industri turut berbagi pengalaman terkait standar layanan, kebutuhan pasar, serta strategi pengemasan produk wisata yang menarik dan kompetitif.

Perwakilan asosiasi pelaku usaha pariwisata menyoroti bahwa tren wisata saat ini semakin mengarah pada pengalaman yang autentik dan bermakna.

“Wisatawan saat ini tidak hanya mencari destinasi, tetapi pengalaman yang memberikan kesan mendalam. Ekowisata berbasis masyarakat memiliki potensi besar, selama dikembangkan dengan standar pelayanan yang baik dan dikemas sesuai kebutuhan pasar,” ungkap Ranny Tumundo, mewakili tour operator.

Pertunjukan Tari Alen, tarian penyambutan tamu dari Suku Moi. Pertunjukan ini merupakan bagian dari uji coba paket ekowisata yang dikelola Kelompok Ekowisata Gauksuak di Malaumkarta, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong. (Foto: Nugroho Arif Prabowo/YKAN)

Sementara itu, Ramon Y. Tungka, aktor dan pegiat lingkungan menambahkan dari perspektif wisatawan. Ramon menekankan pentingnya interaksi dengan masyarakat lokal dan pengalaman personal sebagai nilai tambah utama dalam sebuah perjalanan.

“Perjalanan yang paling berkesan bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi seberapa dalam kita terhubung. Di Papua Barat Daya, saya melihat bagaimana wisata bisa menjadi ruang pertemuan antara manusia dan alam. Dengan selalu menghadirkan rasa, maka ekowisata berbasis masyarakat, akan menjadi lebih bermakna dan berkesadaran,” ujarnya.

Pada sesi presentasi, kelompok-kelompok dampingan YKAN dari berbagai kampung di wilayah Malaumkarta, dan Misool Utara memaparkan paket ekowisata yang mereka kembangkan. Paket-paket tersebut mengangkat keunikan lokal, mulai dari keindahan alam pesisir, praktik adat seperti sasi, wisata minat khusus seperti pengamatan burung, hingga pengalaman budaya yang melibatkan langsung masyarakat setempat.

Ribka Botot, Ketua Kelompok Joom Jak Sasi, Kampung Aduwei, Distrik Misool Utara, Kabupaten Raja Ampat menyoroti peran penting perempuan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya.

“Sasi bukan hanya aturan adat, tetapi cara kami melindungi sumber kehidupan kami. Perempuan di kampung memiliki peran penting dalam menjaga itu. Melalui ekowisata, kami ingin menunjukkan bahwa menjaga alam juga bisa memberi penghidupan, sekaligus menjaga warisan untuk anak-anak kami ke depan,” katanya.

Uji Coba Paket Ekowisata
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, dilakukan uji coba paket ekowisata yang dikelola Kelompok Ekowisata Gauksuak di Malaumkarta, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong.

Kelompok Ekowisata Gauksuak merupakan kelompok masyarakat yang mengembangkan ekowisata berbasis adat, masyarakat, dan konservasi.

Dengan memanfaatkan kekayaan alam pesisir dan budaya Suku Moi, kelompok ini mengembangkan wisata pantai dan laut, snorkeling, pengamatan burung, pelestarian pangan lokal, serta tradisi adat dan budaya.

Sejak 2024, kelompok ini didampingi YKAN melalui pelatihan pengelolaan ekowisata, penguatan kapasitas pemandu lokal, tata kelola homestay, serta edukasi konservasi laut dan pesisir.

Pendampingan juga mendorong keterlibatan perempuan dan pemuda dalam kegiatan ekowisata.

Lambert Mobalen, Ketua Kelompok Ekowisata Gauksuak, menegaskan bahwa pengembangan wisata tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga alam.

“Bagi kami, ekowisata bukan hanya tentang menerima tamu, tetapi tentang bagaimana kami menjaga laut dan tanah kami tetap hidup. Apa yang kami tawarkan adalah pengalaman tinggal bersama kami, memahami cara kami menjaga alam, dan melihat langsung bahwa konservasi itu bagian dari kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan terbangun kolaborasi dan jejaring ekowisata yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian alam di Papua Barat Daya.

Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, mengatakan ekowisata merupakan bagian dari pendekatan ekonomi biru yang menyeimbangkan pemanfaatan dan perlindungan sumber daya alam.

“Ekowisata tidak hanya menghadirkan pengalaman wisata, tetapi juga menjadi instrumen menjaga ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

***

Tentang YKAN
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. YKAN memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan non konfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi www.ykan.or.id.