Hasil Riset: Kecamatan Rampi Jadi Habitat Potensial Ikan Endemik Medaka

  • Whatsapp
Tim peneliti yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Irman Halid, S.T., M.Si, Dr. Jurniati, S.Pi., M.Si, dan Zulqifar Jusman ini melakukan studi populasi sebagai langkah awal menuju upaya konservasi yang lebih terarah.

Minimnya pengetahuan masyarakat terkait status ekologis ikan medaka, ditambah dengan ancaman pencemaran serta praktik penangkapan yang tidak ramah lingkungan, berpotensi mengganggu keberlanjutan spesies ini di alam.

PELAKITA.ID – Bentang Pulau Sulawesi di tengah gugusan kepulauan Indonesia terus menghadirkan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terungkap.

Keunikan flora dan fauna di kawasan ini menjadi daya tarik utama bagi para akademisi dan peneliti untuk terus melakukan eksplorasi ilmiah.

Salah satu wilayah yang kini menjadi sorotan adalah Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Terletak di kawasan pegunungan dengan dominasi hutan belantara yang masih relatif terjaga, Rampi memiliki iklim sejuk yang mendukung keberlangsungan berbagai spesies endemik.

Kondisi ekologis ini menjadikan wilayah tersebut sebagai habitat potensial bagi beragam organisme, termasuk ikan air tawar langka.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim akademisi dari Universitas Andi Djemma Palopo mengungkap keberadaan ikan medaka (Oryzias sp.) di perairan Sungai Baliase, Kecamatan Rampi.

Tim peneliti yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Irman Halid, S.T., M.Si, Dr. Jurniati, S.Pi., M.Si, dan Zulqifar Jusman ini melakukan studi populasi sebagai langkah awal menuju upaya konservasi yang lebih terarah.

Dalam konteks keilmuan, ikan dari genus Oryzias dikenal memiliki tingkat endemisitas tinggi.

Data sebelumnya mencatat terdapat 32 spesies Oryzias di Asia, dengan 14 di antaranya merupakan spesies endemik Sulawesi. Bahkan, beberapa jenis hanya ditemukan di danau-danau tertentu di pulau ini.

Temuan di Sungai Baliase memperkuat posisi Sulawesi sebagai salah satu pusat keanekaragaman ikan medaka dunia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan medaka yang oleh masyarakat lokal dikenal sebagai “doduo salaka” memang hidup dan berkembang di bantaran Sungai Baliase, dengan kondisi habitat yang tergolong layak.

Temuan ini tidak hanya memperkaya data biodiversitas, tetapi juga membuka peluang pengembangan domestikasi spesies tersebut dalam lingkungan terkontrol.

Meski demikian, para peneliti menekankan pentingnya langkah konservasi yang serius.

Minimnya pengetahuan masyarakat terkait status ekologis ikan medaka, ditambah dengan ancaman pencemaran serta praktik penangkapan yang tidak ramah lingkungan, berpotensi mengganggu keberlanjutan spesies ini di alam.

Selain itu, upaya pencegahan terhadap introduksi spesies ikan asing ke dalam ekosistem Sungai Baliase juga menjadi perhatian penting.

Kehadiran spesies invasif dapat memicu kompetisi yang mengancam kelangsungan hidup ikan medaka sebagai spesies lokal.

Melalui riset ini, diharapkan kesadaran masyarakat dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, dapat semakin meningkat dalam menjaga kelestarian habitat alami ikan medaka.

Kecamatan Rampi pun diharapkan dapat menjadi salah satu model konservasi berbasis riset untuk perlindungan spesies endemik di Indonesia.