Kisah dari ‘Pematang ke Pematang’ | Adaptasi dan Inovasi Budidaya Tambak Tradisional

  • Whatsapp
Dr Muhammad Saenong (peneliti udang UMI) bersama aquculture specialist The Blue Forest, Syafriman Ali (dok: Pelakita.ID)

Oleh: Dr. Saenong, Peneliti UMI Makassar, Pakar Budidaya Udang

PELAKITA.ID – Kepada panitia, terima kasih banyak atas kesempatan yang diberikan. Saat menerima undangan dari Blue Forests, saya memeriksa tentatif acaranya. ’10 menit, saya mau bicara apa?’.

Demikian kalimat pembuka Dr Muhammad Saenong saat menjadi pembicara pada workshop tata kelola tambak udang Sulawesi Selatan yang digelar oleh The Blue Forests kerjasama Unhas, FIK Unhas, IKA FIKP Unhas dan DKP Sulsel dengan media partners Mongabay, Pelakita.ID dan Klikhijau.

“Saya bilang, ‘Kita sekarang terlalu sering bicara tambak dari hotel ke hotel. Saya ingin bicara dari pematang ke pematang.,” tambah Saenong.

“Saya berkecimpung di dunia tambak sejak tahun 90-an, saat rambut saya masih hitam semua. Sudah 36 tahun saya di dunia ini. Sampai hari ini pun saya masih sangat bersemangat. Di KTP, pekerjaan saya tertulis dosen, tapi karena kecintaan pada dunia tambak, saya sekarang mengelola tambak sendiri di Pinrang. Bayangkan, tinggal di Makassar, kerja tambak di Pinrang. Minimal dua kali seminggu saya ke sana. Kenapa? Karena saya melihat ada potensi luar biasa jika diseriusi,” paparnya.

Dari Catatan ke Aksi

Di tengah maraknya forum dan diskusi tentang budidaya tambak, Dr. Saenong menyampaikan kritik yang sederhana namun mengena. Ia mengisahkan kebiasaannya duduk di warung kopi, mendengar percakapan anak muda yang berujar, “catat mi dulu”.

Bagi Dr. Saenong, kalimat itu menjadi simbol dari persoalan besar: terlalu banyak pertemuan, terlalu banyak catatan, tetapi minim tindakan nyata. Padahal, dunia budidaya bukan sekadar teori yang bisa disimpan dalam buku catatan. Ia adalah praktik yang menuntut eksekusi.

Menurutnya, budidaya tambak tidak bisa disamakan dengan resep kue.

Dalam dunia kuliner, bahan dan prosedur yang sama akan menghasilkan rasa yang relatif konsisten. Namun di tambak, bahkan petak yang berdampingan bisa menghasilkan produksi berbeda jika dikelola oleh teknisi yang berbeda.

Artinya, faktor manusia, pengalaman, dan ketelitian menjadi kunci utama.

Ia juga mengingatkan bahwa gelar akademik tidak selalu berbanding lurus dengan hasil produksi. Dr. Saenong mencontohkan dua tambak di Jeneponto.

Di satu sisi, tambak yang dikelola akademisi harus panen dini karena masalah teknis. Di sisi lain, tambak milik praktisi dengan latar belakang pendidikan sederhana justru mampu menghasilkan ratusan ton udang.

Realitas ini menjadi autokritik bagi dunia akademik agar lebih membumi dan terhubung dengan praktik lapangan.

Tantangan lain yang disorot adalah perubahan iklim yang semakin tidak menentu.

Siklus musim yang dulu dapat diprediksi kini berubah drastis, memengaruhi produktivitas tambak. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan budidaya cerdas iklim sebagai strategi adaptasi ke depan.

Kondisi tambak tradisional di Sulawesi Selatan pun dinilai memprihatinkan. Dari sekitar 10.000 hektar tambak, banyak yang hanya menghasilkan kurang dari 300 kilogram per musim.

Dengan biaya produksi yang terus meningkat, kondisi ini membuat generasi muda enggan terjun ke sektor tambak. Akibatnya, regenerasi petambak terancam.

Dr. Saenong juga menyoroti lemahnya solidaritas sosial di kalangan pembudidaya. Fragmentasi akibat kepentingan politik membuat kolaborasi semakin sulit.

Padahal, di negara lain seperti Thailand, komunikasi antarpetambak justru menjadi kunci pengendalian risiko, misalnya dengan sistem tanda peringatan saat terjadi serangan penyakit.

Meski demikian, ia tetap optimistis. Menurutnya, tambak masih memiliki masa depan, asalkan dilakukan pembenahan serius. Salah satu solusi konkret yang ditawarkan adalah perbaikan kualitas benur melalui sistem penggelondongan—membesarkan benih hingga melewati fase kritis sebelum ditebar.

Inovasi sederhana seperti baby box menjadi contoh bahwa teknologi tidak harus mahal untuk berdampak.

Di akhir pernyataannya, Dr. Saenong menegaskan bahwa kunci utama adalah pendampingan. Petambak tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Kehadiran tenaga teknis di lapangan akan membantu menyelesaikan masalah sejak dini, sebelum menjadi kerugian besar.

Bagi Dr. Saenong, masa depan tambak tidak ditentukan oleh seberapa banyak kita berdiskusi, tetapi seberapa berani kita bertindak.

Mari simak penjelasan lengkap Dr Saenong di video berikut ini:

___
Editor Denun