Jakarta Tenggelam dan Kentut Sapi: Kenapa Kamu Harus Peduli Krisis Iklim Sekarang Juga!

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh AI

Pernah merasa cuaca di Indonesia belakangan ini lagi “ngajak berantem”? Di Jakarta, pagi bisa terasa gerah luar biasa sampai bikin keringatan meski cuma berdiri, lalu sorenya tiba-tiba hujan badai yang bikin macet di mana-mana.

PELAKITA.ID – Fenomena itu bukan cuma kebetulan atau “emang lagi musimnya.” Faktanya, planet kita lagi mengalami apa yang disebut para ahli sebagai “Earth has a fever”—Bumi kita lagi demam.

Pelakita.ID mendapat akses untuk mendedah pesan pada naskah Climate Action 101: Indonesia’s Guide for Newbies yang dibagikan Ketua Institut Benua Maritim Indonesia (IBM) yang merupakan kerjasama The Habibie Center dengan Universitas Hasanuddin.

Berikut alur dan pesan intinya.

Bayangkan Nabil, seorang karyawan di Jakarta. Belakangan ini dia sering batuk-batuk pas lagi lari pagi karena polusi udara yang pekat.

Belum lagi pas sampai rumah, dia harus menyalakan AC lebih lama karena suhu ruangan yang makin “mendidih”, yang ujung-ujungnya bikin tagihan listrik membengkak.

Pengalaman Nabil ini adalah hook nyata bagi kita yang tinggal di perkotaan. Krisis iklim bukan lagi cerita film sci-fi, tapi masalah kesehatan dan dompet kita.

Artikel ini akan membedah poin-poin penting dari panduan “Climate Action 101” supaya kamu paham apa yang sebenarnya terjadi.

Iklim itu “Kepribadian”, Cuaca itu “Mood”

Sering ketukar antara cuaca dan iklim? Coba pakai analogi ini: bayangkan Bumi itu seperti teman kamu.

Cuaca adalah “Mood” (Suasana Hati): Mood bisa berubah dalam hitungan menit. Sekarang ceria (panas terik), lima menit kemudian bisa galau (hujan deras). Ini yang kita cek di aplikasi HP tiap pagi.

Iklim adalah “Kepribadian”: Kepribadian adalah rata-rata dari suasana hati dalam jangka panjang (biasanya hitungan 30 tahun). Kalau teman kamu yang biasanya sabar tiba-tiba jadi pemarah secara konsisten, artinya ada yang salah dengan kepribadiannya.

Sekarang, “kepribadian” planet kita sedang berubah drastis. Sulitnya memprediksi kapan hujan di Jakarta atau kenapa Semarang bisa kekeringan panjang adalah tanda bahwa pola stabil yang sudah ada selama ribuan tahun sedang kacau.

Saat kepribadian Bumi berubah jadi “beracun”, seluruh penghuninya bakal kena getahnya.

Kentut Sapi dan Rahasia Gas Rumah Kaca

Banyak yang mengira musuh utama iklim cuma asap pabrik hitam yang pekat. Padahal, ada kontributor yang mungkin terdengar lucu tapi mematikan: Metana (CH4).

Tahukah kamu kalau satu ekor sapi bisa menghasilkan 70 sampai 120 kg metana per tahun cuma dari proses pencernaannya (alias kentut dan sendawa)?

Metana ini jauh lebih kuat memerangkap panas dibanding CO2. Di sinilah letak refleksinya: seringkali apa yang tidak terlihat (seperti gas dari peternakan) punya dampak lebih masif dibanding apa yang terlihat (seperti asap kendaraan Nabil di Jakarta).

Kita sibuk mengeluh soal kabut asap (smog), padahal gas-gas tak kasat mata dari gaya hidup konsumsi kita sedang bekerja diam-diam memanaskan atmosfer.

“Gas rumah kaca adalah gas-gas yang memerangkap panas di atmosfer, yang berkontribusi pada efek rumah kaca. Gas-gas ini termasuk karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (N2O), dan gas terfluorinasi.”

Ilustrasi Pelakita.ID oleh NotebookLM

Indonesia Sedang Tenggelam: Bukan Sekadar Mitos

Jangan dikira kenaikan air laut cuma masalah beruang kutub. Lily, seorang guru di Ternate, sudah melihatnya sendiri. Pesisir tempat komunitasnya tinggal mulai tergerus. Di Ternate, laut bukan cuma pemandangan, tapi sumber hidup.

Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan peringatan keras: setidaknya 115 pulau di Indonesia terancam tenggelam pada tahun 2100. Ini bukan cuma soal kehilangan daratan di peta.

Bayangkan, 115 pulau berarti ada 115 identitas budaya, ekosistem unik, dan sejarah masyarakat yang akan terhapus selamanya sementara kita mungkin masih asyik scrolling medsos. Krisis ini adalah realitas yang sedang menelan masa depan kita, satu senti demi satu senti.

Rekor Kecepatan yang Berbahaya

Bumi memang pernah memanas di masa lalu, tapi kecepatannya kali ini sungguh di luar nalar. Berdasarkan data NASA, Bumi memanas 10 kali lebih cepat dari rata-rata pemanasan historis, dan level CO2 meningkat 250 kali lebih cepat dibanding setelah Zaman Es terakhir.

Kenapa kecepatan ini jadi masalah? Balik lagi ke analogi kepribadian tadi.

Kalau kepribadian seseorang berubah pelan-pelan selama puluhan tahun, teman-temannya (alam dan manusia) masih bisa beradaptasi. Tapi kalau perubahannya terjadi dalam sekejap, “teman-temannya” bakal stres dan nggak sanggup bertahan.

Kecepatan ekstrem ini bikin banyak spesies hewan dan tumbuhan nggak punya waktu buat pindah atau evolusi, yang akhirnya berujung pada kepunahan.

Gaya Hidup Metropolitan vs. Lokal: “Hutang Karbon” Kita

Pilihan hidup kita setiap hari punya “harga” karbon yang berbeda. Mari kita bandingkan jejak karbon harian Nabil dan Lily:

Nabil (Jakarta): ~41.2 kg CO2e/hari

AC: Penggunaan AC terus-menerus menyumbang porsi terbesar, sekitar 34 kg CO2e.

Transportasi: Menggunakan SUV pribadi di tengah kemacetan.

Gaya Hidup: Konsumsi fast fashion dan kebiasaan merokok satu bungkus sehari (menyumbang sekitar 0.14 + 0.5 kg CO2e). 

Lily (Ternate): ~2.1 kg CO2e/hari

Energi: Cukup pakai kipas angin (cuma 1.3 kg CO2e).

Pangan: Masak pakai gas stove dari hasil kebun komunitas dan ayam peliharaan sendiri.

Mobilitas: Lebih banyak bersepeda, jalan kaki, dan membeli barang secondhand atau artisan lokal.

Refleksi pahitnya: Gaya hidup metropolitan seperti Nabil sebenarnya sedang menciptakan “Hutang Gaya Hidup.”

Kenyamanan yang dinikmati Nabil di Jakarta dibayar dengan risiko tenggelamnya masa depan Lily di Ternate. Pilihan sekecil mematikan AC atau mengurangi rokok sebenarnya adalah langkah untuk mulai melunasi hutang tersebut.

Masa Depan Ada di Tangan Kita

Krisis iklim memang terdengar seperti monster besar yang mustahil dikalahkan. Tapi ingat, kita adalah generasi yang punya akses informasi paling luas sepanjang sejarah.

Seperti kata Nadia Sofia Habibie, kita adalah kelompok yang bakal paling terdampak, tapi kita juga yang punya kekuatan paling besar buat bikin perubahan.

“Masa depan terletak di tangan kita, dan pemahaman serta tindakan kita adalah hal yang sangat kritis. Sekarang adalah waktunya untuk bertindak. Bersama-sama, kita dapat menempa masa depan yang berkelanjutan bagi negara tercinta, Indonesia.”

Setiap perubahan kecil pada gaya hidupmu, setiap suara yang kamu sampaikan dalam advokasi digital, adalah investasi untuk menjaga Indonesia tetap ada di peta dunia.

Pertanyaan penutup untuk kita renungkan: Dengan jejak karbon yang kita tinggalkan hari ini, seperti apa rupa Indonesia yang ingin kita wariskan nanti?

Apakah kita ingin mewariskan pulau-pulau yang indah, atau sekadar cerita tentang pulau yang pernah ada?