Rusdin Tompo, Mustamin Raga dan Muliadi Saleh
Melalui perjumpaan ini, kita diajak melihat bahwa literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, melainkan soal bagaimana berpikir, bersikap, dan bertindak di tengah zaman yang gaduh.
PELAKITA.ID – Literasi tidak pernah lahir dari satu suara. Ia tumbuh dari perjumpaan—antara peristiwa dan makna, antara akal dan nurani, antara kata dan tindakan.
Pada kesempatan ini, kita dipertemukan oleh tiga jalan yang berbeda, tetapi menuju ikhtiar yang sama: menjaga kemanusiaan melalui kata.
Rusdin Tompo menulis dari denyut realitas. Ia hadir sebagai saksi sosial—mencatat peristiwa, mengurai persoalan, dan mengadvokasi kepedulian.
Kata-katanya lahir dari keberpihakan pada anak, pendidikan, media, dan warga. Dalam tangannya, tulisan menjadi arsip moral agar zaman tidak kehilangan ingatan.
Mustamin Raga menulis dari persimpangan gagasan dan tindakan.
Ia menjahit pemikiran dengan praksis—membaca realitas kebijakan, kepemimpinan, dan pembangunan sosial dengan nalar kritis. Dalam tulisannya, kata tidak berhenti sebagai wacana, tetapi diarahkan pada perubahan yang mungkin dan terukur.
Sementara Muliadi Saleh menulis dari kedalaman makna. Ia mengajak kita melambat di tengah dunia yang tergesa.
Tradisi, spiritualitas, dan kebijaksanaan menjadi lensa untuk membaca zaman. Kata-katanya bukan sekadar penjelasan, tetapi undangan untuk merenung—agar manusia tidak tercerabut dari nilai dan iman.
Ketiganya menempuh jalur berbeda: yang satu menyalakan lampu kesadaran sosial, yang lain merawat arah dan strategi perubahan dan dan yang ketiga menjaga api kesadaran batin.
Ketiganya, bertemu pada satu keyakinan yang sama: bahwa kata bukan hiasan, melainkan tanggung jawab. Bahwa menulis bukan sekadar mengisi ruang, tetapi memberi arah.
Melalui perjumpaan ini, kita diajak melihat bahwa literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, melainkan soal bagaimana berpikir, bersikap, dan bertindak di tengah zaman yang gaduh.
Semoga acara ini menjadi ruang dialog—bukan hanya antar gagasan, tetapi juga antara kita dan nurani kita sendiri.
___
Muliadi Saleh, Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran Sosial
