Pertemuan yang Meneduhkan: JK, JJ dan Simpul-Simpul Harapan dari Unhas

  • Whatsapp
Sehat selalu Pak JK bersama keluarga, bersama civitas akademiika Unhas (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Ahad pagi itu terasa berbeda. Bukan karena hiruk-pikuk seremoni, melainkan karena suasana yang meneduhkan, seolah waktu sengaja melambat untuk memberi ruang pada harapan.

Adalah senior saya di FIKP Unhas yang membagikan selembar foto istimewa. Tanpa caption tapi saya tahu maksud pengirimannya.

“Kemarin pagi,” kata senior yang satunya lagi untuk konfirmasi foto itu.

“Di rumahnya Pak JK,” tambahnya.

Pertemuan antara Bapak Bangsa Jusuf Kalla dengan Rektor Universitas Hasanuddin terpilih, Prof. Jamaluddin Jompa, bukan sekadar temu tokoh, melainkan perjumpaan lintas generasi yang menyimpan makna mendalam bagi Unhas, Sulawesi Selatan, dan Indonesia.

Foto pertemuan itu bisa dibaca dari banyak perspektif. Namun, bagi penulis, tidak perlu menafsir ke segala arah.

Cukup membaca latar belakang sosok-sosok yang berdiri di samping Pak JK dan Prof. JJ, maka kisahnya akan mengalir dengan sendirinya—tentang jejaring pengetahuan, ikatan emosional, dan solidaritas yang tumbuh lama, jauh sebelum jabatan-jabatan itu disematkan.

Di sisi kiri, berdiri Shinta Werorilangi, dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, pakar pencemaran laut yang kiprahnya dikenal luas di kalangan akademisi dan pegiat lingkungan. Ia adalah alumni SMA Negeri I Makassar angkatan 1986.

Sebuah detail yang menjadi menarik ketika mata kemudian tertuju ke ujung kanan foto: Lisa Kalla, Ketua IKA Smansa Makassar angkatan 86, perempuan manis yang sekelas dengannya. Dari sini, korelasi itu terasa hangat—bahwa relasi intelektual, sosial, dan emosional sering kali berakar dari ruang-ruang pendidikan yang sama, dirawat oleh waktu dan perjumpaan.

Pria kedua dari kiri adalah Rijal Idrus, Kepala Pusat Studi Perubahan Iklim Unhas. Alumni SMA Negeri II Makassar ini juga berasal dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan.

Jejak akademiknya membentang hingga Kanada dan Selandia Baru, memperkaya perspektifnya dalam isu perubahan iklim. Di lingkungan Kelautan dan Perikanan Unhas, Rijal bukan sekadar akademisi, tetapi sosok yang dicintai—karena kerendahan hati, kapasitas intelektual, dan kesetiaannya pada kampus serta isu-isu kemanusiaan dan lingkungan. Empat tahun terakhir, penulis kerap menemuinya di Lantai 8 Rektorat Unhas.

Di tengah, Prof. Jamaluddin Jompa—atau JJ—berdiri dengan senyum tenang. Alumni Ilmu Perikanan Unhas angkatan 1985 ini, di mata penulis sebagai aktivis kampus, adalah contoh perjalanan akademik yang konsisten dan disiplin.

Ia menyelesaikan studi sarjana dalam waktu yang relatif singkat, tak sampai empat tahun, lalu melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Kanada dan Australia. Kini, ia kembali terpilih untuk periode kedua sebagai Rektor Universitas Hasanuddin.

Sebuah amanah yang bukan hanya administratif, tetapi juga moral dan historis, mengingat posisi Unhas sebagai barometer sosial, politik, dan intelektual kawasan timur Indonesia.

Dan tentu saja, Pak Jusuf Kalla. Siapa yang tak mengenal sosoknya. Tokoh panutan bangsa dengan prinsip yang melegenda: Lebih Cepat Lebih Baik, Lima Charlie Lima Bravo.

Rekam jejak kenegarawanannya terlalu panjang untuk dituliskan dalam satu artikel—dari perannya dalam merintis dan menjaga perdamaian di Poso, Maluku, hingga Aceh. Pagi itu, Pak JK tampak bugar, segar, dan bercahaya, berdampingan dengan Ibu Mufidah Kalla. Kehadiran beliau selalu menghadirkan rasa aman, seolah bangsa ini masih memiliki jangkar moral yang kokoh. Sehatki selalu, Pak.

Di ujung kanan, Kak Lisa. Pertemuan terakhir penulis dengannya terjadi dua tahun lalu di Tokka Tena Rata, saat gathering alumni Smansa 86. Sebagai Ketua IKA Smansa Makassar angkatan 86,

Lisa dikenal riang, percaya diri, dan hangat. Barangkali itulah yang membuat keluarga JK selalu tampak adorable—penuh energi positif, optimisme, dan kepercayaan pada nilai-nilai kebersamaan.

Pertemuan Ahad pagi itu, pada akhirnya, bukan hanya tentang siapa bertemu siapa. Ia adalah simpul dari perjalanan panjang pendidikan, persahabatan, pengabdian, dan cinta pada negeri.

Ia mengingatkan kita bahwa institusi seperti Unhas dibangun bukan hanya oleh gedung dan kebijakan, tetapi oleh manusia-manusia yang menjaga integritas, merawat solidaritas, dan menautkan harapan dari generasi ke generasi.

Panjang solidaritas. Panjang umur silaturahmi. Dan semoga kita terus saling menguatkan.

___
Denun, Tamarunang, 19 Januari 2026