Demi undangan sahabat kelas di SMA Negeri I Makassar angkatan 89, Muhammad Husni Haji Side, saya booking bus Sinar Muda Sleeper sepekan sebelumnya. “Datangki nah,” sapa Husni via WA. “Siap.” Balasku pendek.
PELAKITA.ID – Tanggal 17 Januari, bus Sinar Muda tiba pukul 6 pagi di Labakkang. Saya turun di depan Tahu Sumedang di Labakkang sesuai petunjuk Andi Syafril Aink.
Mengapa di tempat itu karena saya harus basuh badan, bersih-bersih sekaligus menunggu destinasi itu bukan, sarapan dan mengerjakan sejumlah pekerjaan tersis dari Sorowako.
Pukul 9 pagi, Aink, begitu sapaan Andi Syafril sebut kalau dia sudah di daerah Pangkep. Sayapun dijemput, merasa sudah rapi jali dan naik ke bus disambut salam dan pujian dari beberapa penumpang.
Sudah lama tak jumpa mereka. Karena itu, tentu saja ini momen berharga dan layak dikenang. Saya naik bus pertama, dua lainnya menyusul untuk menuju kediaman Husni.
Husni adalah kawan karib saya, sekelas di II Bio 2 dan III Bio 4. Husni, sosok yang telah menghabiskan waktu 30 tahun lebih di dunia perbankan dan saat ini salah satu elite di bank asal Negeri Jiran Malaysia.
Sudah tiga kali dia menggelar gathering di Labakkang, kampung halamannya. Tahun 2022 saya ikut, tahun 2024 saya absen, ini yang ketiga.
Gathering yang saya sebut tak biasa karena memadukan antara silaturahmi, riang gembira dan menjajal kuliner khas pesisir Labakkang yang terkenal karena udang dan bandeng. Ayah Husni, Haji Side adalah pengusaha budidaya ikan, sementara Husni adalah alumni Perikaan Unhas, seangkatan penulis yang masuk Kelautan.

Begitulah.
Pembaca sekalian, di pesisir Kabupaten Pangkep, tepatnya di Kecamatan Labakkang, laut tidak hanya menghadirkan gelombang dan angin asin, tetapi juga rasa. Rasa yang tumbuh dari dapur-dapur sederhana, dari tungku yang menyala perlahan, dari tangan-tangan yang mengolah hasil laut dan kebun dengan kesabaran turun-temurun.
Desa Kanaungang, kampung halaman Husni, pada Sabtu, 17 Januari 2026, menjadi ruang perjumpaan bukan sekadar antar manusia, tetapi juga antara kenangan, persahabatan, dan cita rasa.
Ada setidaknya tiga alasan mengapa kita perlu mencintai kuliner pesisir Kabupaten Pangkep, terutama Labakkang.
Pertama, kuliner pesisir adalah penanda identitas. Ia bukan sekadar makanan, melainkan arsip hidup kebudayaan maritim. Dari rajungan yang manis dan berserat halus, lawi-lawi yang segar dari lamun laut, hingga paria kambu yang pahitnya bersahabat, semua menyimpan kisah tentang cara hidup masyarakat pesisir yang akrab dengan alam.


Setiap bumbu dan teknik memasak adalah bahasa budaya yang diwariskan lintas generasi. Kami di IKA Smansa 89 sungguh beruntung dapat feature seperti ini saban tahun dari sahabat kita itu.
Kedua, kuliner pesisir adalah wujud kearifan ekologis. Bahan-bahannya bersumber dari lingkungan sekitar, diolah sesuai musim, tanpa berlebihan. Ini pandangan saya yang Kelautan dan Husni sebagai Perikanan.
Raca mangga dengan sensasi asam-pedasnya, camba lolo yang sederhana namun menenangkan, hingga unti lolo santan yang legit, menunjukkan bagaimana masyarakat pesisir merawat keseimbangan antara mengambil dan menjaga.


Bagi Husni, dan juga bagi kami, mencintai kuliner ini berarti juga menghargai ekosistem laut dan darat yang menopangnya.
Ketiga, kuliner pesisir adalah medium pemersatu. Di meja makan, sekat-sekat sosial luruh. Orang-orang duduk setara, alumni Smansa 89 berbagi rasa dan cerita. Makanan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, kampung halaman dan tanah perantauan.
Kesadaran inilah yang sejak tiga tahun terakhir mendorong Muhammad Husni H.S. untuk secara konsisten mengajak alumni SMA Negeri I Makassar angkatan 1989—keluarga besar IKA Smansa 89—kembali menjejakkan kaki di kampung halamannya, Desa Kanaungang.
Ajakan itu sederhana namun sarat makna: pulang, duduk bersama, dan mencicipi rasa pesisir.
Bagi Husni, kuliner bukan sekadar suguhan, melainkan cara bercerita.
Etalase kuliner Labakkang
Rajungan yang disajikan hangat adalah cerita tentang nelayan yang berangkat subuh, lawi-lawi adalah kisah anak-anak pesisir yang tumbuh di antara air dan pasir, paria kambu adalah filosofi hidup bahwa pahit pun bisa menjadi nikmat jika diolah dengan kasih.
Raca mangga dan camba lolo menghadirkan kesegaran yang membangunkan ingatan, sementara unti lolo santan menutup hidangan dengan kelembutan rasa yang menenangkan.
“Yang ada ini tak ada daging ayam, tak ada daging sapi, kita masih punya banyak potensi kelautan dan periikanan di Labakkang,” ujar Husni ke penulis.



Tak berhenti pada makanan utama, aneka kue tradisional pun tersaji seperti parade kecil nostalgia: biji nangka yang kenyal manis, barongko yang lembut dan harum pisang, serabi dengan pinggiran garing, apang peranggi yang legit, dan ragam kue lain yang mengingatkan pada sore-sore kampung, pada dapur ibu dan nenek, pada waktu yang berjalan lebih lambat.
“Bungkuski serabi, jangan lupa foto apam peranggi yang sedang dicetak itu,” ucap Husni saat kami bersiap pulang. Tidak lupa dia menawarkan kelapa muda hingga sarabba.
Bagi penulis, kegiatan yang berlangsung pada Sabtu itu menjadi pertemuan lintas ruang dan waktu.
Alumni Smansa 89 hadir dari berbagai daerah: Gowa, Makassar, Pinrang, Parepare, bahkan dari Jakarta. Mereka datang membawa cerita masing-masing, namun pulang dengan rasa yang sama—rasa diterima, disambut, dan dipeluk oleh kampung halaman.
Manfaat dari pertemuan semacam ini jauh melampaui soal perut kenyang.
Silaturahmi menemukan maknanya yang paling utuh. Pertemanan lama yang sempat renggang kembali dirajut tanpa canggung. Tawa mengalir di antara suapan, obrolan ringan bercampur refleksi perjalanan hidup.



Solidaritas tumbuh secara alami, bukan melalui pidato atau seremoni, melainkan melalui kebersamaan yang jujur dan hangat.
Bagi keluarga besar IKA Smansa Makassar angkatan 89, perjumpaan di Kanaungang adalah pengingat bahwa kebersamaan tidak harus mewah. Cukup dengan duduk di bawah langit pesisir, menikmati masakan rumah, dan saling mendengar.
Dari situ lahir rasa memiliki, rasa satu keluarga yang pernah tumbuh di bangku sekolah yang sama, meski kini menempuh jalan hidup yang berbeda.

Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi bentuk penghormatan pada desa. Desa tidak lagi dipandang sebagai ruang yang ditinggalkan, melainkan sebagai pusat nilai, sumber inspirasi, dan tempat kembali.
Dengan menghadirkan alumni ke Kanaungang, Husni seakan berkata bahwa kampung halaman layak dirayakan, termasuk melalui kekayaan kulinernya.
Di Labakkang, kuliner pesisir tidak hanya mengisi perut, tetapi juga mengisi jiwa. Ia mengajarkan kita tentang kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur.
Dan selama masih ada orang-orang yang dengan penuh cinta mengajak kita untuk pulang dan mencicipi rasa, selama itu pula ingatan kolektif akan tetap hidup—terawat di meja makan, di tawa yang bersahutan, dan di aroma masakan yang tak pernah benar-benar pergi.
___
Penulis, Pegasus Coffee, 18 Januari 2026
