Jejak-Jejak Dosa sebuah Jabatan | Mustamin Raga

  • Whatsapp
Aku mulai sadar bahwa dosa tidak selalu datang dari apa yang kita lakukan sendiri. Dosa juga bisa lahir dari apa yang kita izinkan, apa yang kita sponsori, apa yang kita biarkan tumbuh dan terjadi di bawah kekuasaan kita. (Ilustrasi Mustamin Raga)

Aku mulai sadar bahwa dosa tidak selalu datang dari apa yang kita lakukan sendiri. Dosa juga bisa lahir dari apa yang kita izinkan, apa yang kita sponsori, apa yang kita biarkan tumbuh dan terjadi di bawah kekuasaan kita.

PELAKITA.ID – Aku pernah duduk di kursi itu. Kursi yang dingin bagi sebagian orang, tetapi panas bagi mereka yang tahu betul apa yang tersembunyi di balik sandarannya.

Kursi yang dipuja, diperebutkan, dan dipertaruhkan dengan harga yang tak pernah benar-benar diumumkan secara resmi.

Aku mantan pejabat politis di daerahku, seseorang yang pernah diberi kuasa untuk menandatangani dan menentukan nasib banyak orang. Satu tanda tangan dariku bisa mengangkat kepala satuan kerja dan satu tarikan penaku bisa mematikan karier seseorang yang sudah puluhan tahun memelihara kompetensi dan integritasnya.

Dan aku menggunakan kuasaku bukan hanya sebagai alat memerintah, tetapi juga sebagai kompensasi untuk menutup biaya yang dulu kubakar demi merebut jabatan kepala daerah.

Aku tidak mau berpura-pura suci. Ketika aku dan pasanganku berjuang menuju kursi itu, nyaris ratusan miliar lenyap begitu saja di sana-sini. Politik memang tidak pernah meminta mahar secara terang-terangan, tetapi semua orang dewasa pasti tahu bahwa jalan menuju kekuasaan tidak pernah ada yang gratis.

Ada ongkos. Ada tarikan. Ada tuntutan yang kadang lebih menyerupai pengorbanan.

Maka, saat aku berada di puncak dan berhasil duduk di kursi jabatan itu, aku merasa wajarlah, atau setidaknya aku memaksakan diri untuk merasa wajar, ketika aku memungut “biaya kecil” dari calon-calon kepala satuan kerja yang ingin kulantik. Aku menyebutnya “biaya kecil”, padahal saat itu aku sendiri tahu jumlahnya bisa membuat pegawai yang jujur mengelus dada sambil menelan rasa pahit.

Ada banyak orang yang sebenarnya lebih pantas, lebih cerdas, lebih rajin, lebih bersih. Tapi apa gunanya semua itu kalau mereka tidak mau mendekat, tidak mau menyanjung, tidak mau ikut irama yang kusuarakan?

Mereka terlalu lugu untuk dunia yang sedang kubentuk, atau barangkali akulah yang terlalu rakus untuk menerima kejujuran mereka.

Jadi aku pilih yang lain saja, yang berani datang mengetuk pintu malam-malam dengan amplop penuh harapan, yang pandai merangkai kata-kata manis agar egoku tumbuh subur setiap pagi, yang siap mengatakan “iya” bahkan sebelum aku selesai bicara. Loyalitas mereka kubeli, dan harga dirinya mereka jual dengan sangat murah.

Dari transaksi itulah struktur pemerintahanku berdiri: rapuh, tetapi terasa aman dan nyaman saat itu.

Lalu waktu berjalan. Dua tahun sudah aku tidak lagi menjadi orang nomor satu. Aku kembali menjadi warga biasa yang duduk di sudut ruangan, mengamati serpihan masa lalu yang mulai runtuh satu per satu. Dan perlahan, dosa yang dulu kuanggap kecil, kini kembali menagih bunganya.

Aku menyaksikan, dengan mata kepala sendiri, bagaimana para pejabat yang pernah kuangkat kini satu per satu menjadi pasien penegak hukum. Minggu lalu tiga orang dari mereka ditangkap kejaksaan dan kepolisian karena kasus korupsi.

Tiga nama yang dulu datang kepadaku dengan wajah penuh senyum dan sumpah setia. Mereka kini berjalan dengan tangan diborgol, wajah pucat, dan baju tahanan yang tampak seperti pakaian pengakuan.

Beberapa lainnya bolak-balik dipanggil penyidik secara diam-diam. Ada juga yang aku dengar sedang bergerilya mengumpulkan uang untuk menyogok para penegak hukum, berusaha mempertahankan kehormatan yang sejak awal tidak benar-benar mereka miliki.

Aku menonton semua itu tidak lagi dari balik meja jabatanku, tetapi dari sudut ruang tamu rumahku, tempat aku duduk sendirian dengan kopi pahit yang kini rasanya semakin pahit dari biasanya. Dan di dalam kesunyian itu, pertanyaan yang selama ini kuhindari mulai menggedor dari dalam dada. Ya Tuhan… apakah aku ikut berdosa?

Apakah ketika aku mengangkat mereka bukan karena kompetensi, melainkan karena amplop dan loyalitas palsu, aku juga menyisipkan sebagian dari kesalahanku ke dalam setiap keputusan mereka?

Apakah setiap tanda tangan korupsi yang mereka buat, ada bayanganku di belakangnya?

Apakah setiap rupiah yang mereka curi dari rakyat adalah gema dari rupiah yang dulu kubiarkan mengalir ke kantongku?

Aku bertanya pada hati yang paling dalam, pada ruang di dadaku yang selama menjabat hampir tak pernah kupakai untuk bertafakur.

Aku ingat satu wajah. Seorang pegawai yang dulu menolak memberikan “uang administrasi” dan tak pernah kembali lagi setelah itu. Aku sangat tahu bahwa Dia lebih kompeten. Dia lebih tulus, aku bisa merasakannya. Tapi dia memilih jalan lurus, dan aku saat itu sedang menata jalan berliku. Kini dia entah di mana, pasti sedang bekerja dengan tenang tanpa takut ditangkap, sementara mereka yang dulu kuberi tempat justru satu per satu diseret keluar oleh penegak hukum.

Dan aku?

Aku berdiri di tengah semua itu.

Aku bukan lagi pejabat. Aku bukan lagi penguasa yang tinggal menunjuk. Aku hanyalah seseorang yang sedang memikul konsekuensi dari masa lalu yang kususun dengan tangan sendiri.

Aku mulai sadar bahwa dosa tidak selalu datang dari apa yang kita lakukan sendiri. Dosa juga bisa lahir dari apa yang kita izinkan, apa yang kita sponsori, apa yang kita biarkan tumbuh dan terjadi di bawah kekuasaan kita.

Jika tangan mereka kotor, bukankah akulah yang dulu memberi mereka kesempatan agar tangan-tangan itu mereka gunakan?

Jika langkah mereka salah arah, bukankah akulah yang dulu menuntun mereka ke jalan itu?

Kini aku hidup dengan pertanyaan yang tidak bisa kujawab sepenuhnya.

Apakah setiap dosa pejabat yang kuangkat dulu, aku juga mendapat bagian dosa di dalamnya?

Sejujurnya… aku takut. Takut pada Tuhan, takut pada sejarah, takut pada cara masa lalu menagih utangnya. Dan lebih dari itu, aku takut pada diriku sendiri, pada kenyataan bahwa aku pernah menganggap “wajar” hal-hal yang kini membuatku ingin bersembunyi dari pantulan cermin.

Mungkin inilah bayang-bayang jabatan. Ia tidak pernah benar-benar pergi, bahkan setelah kursinya diambil orang lain. Ia tinggal di hati, membisikkan pertanyaan, menagih pertobatan, dan memaksa kita menatap kembali perjalanan yang dulu kita banggakan.

Dan di ujung renungan panjang ini, aku hanya mampu berbisik pada diriku sendiri sambil tak sadar meneteskan air mata.

Tuhan, jika dulu aku pernah menyemai keburukan, maka jangan biarkan hanya orang lain memanen malapetaka. Ajari aku turut menanggungnya, menghadapinya, dan memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki Ya…Tuhan. Karena barangkali inilah saatnya aku tidak lagi bersembunyi di balik kata “wajar”.

Sebab hari ini aku mengerti.

Loyalitas bisa dibeli. Jabatan bisa dinegosiasikan. Tapi dosaku? dosaku tidak pernah mengenal masa jabatan. Dosaku akan tetap tinggal, bahkan ketika kursi jabatan itu sudah diduduki orang lain.

___

Gerhana Alauddin, 29 November 2025