Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
“Jangan melihat ke luar. Lihatlah ke dalam diri sendiri dan carilah itu.” — Jalaluddin Rumi
PELAKITA.ID – Makassar diguyur hujan ketika kami meninggalkan Roemah Masagena—sebuah restoran berkonsep unik di Jalan Pengayoman. Nama yang ditulis dengan ejaan van Ophuijsen lengkap dengan gambar nenek berkebaya pada plang logonya, langsung membawa pengunjung pada pengalaman bersantap yang nostalgik.
Menu tradisionalnya disajikan menarik, memanjakan mata, dan rasanya pun ngangenin—pakacinna-cinna, kata orang Makassar.
Grand Opening Roemah Masagena digelar pada 2022, masih dalam suasana pandemi. Para tamu rata-rata mengenakan masker. Mohammad Istiqamah Djamad atau Is Pusakata tampil membawakan sejumlah lagu, termasuk lagu berbahasa Bugis, sambil memetik gitar dan meniup seruling.


Lokasi tempat Roemah Masagena berdiri sebelumnya pernah menjadi Kafe Masa Kini berkonsep modern industrial. Sebelumnya lagi, berdiri Restoran Barugae dengan halaman yang dipenuhi rumpun bambu dan baruga di beberapa sudutnya.
Pada masa itu, kalangan NGO kerap menggelar diskusi di sana—salah satunya yang membahas pembentukan Ombudsman Makassar bersama Komite Pemantau Legislatif (KOPEL) yang dimotori Syamsuddin Alimsyah dan kawan-kawan.
Di Roemah Masagena pula, selama persiapan dan pelaksanaan Raker Alumni Fakultas Hukum Unhas Angkatan ’87, kami disuguhi beragam makanan tradisional yang “mantap dewa”: barobbo, lawa jantung pisang, pallumara, burasa, barongko, dan menu khas lainnya.
Minumannya pun istimewa. Selain kopi dan minuman kekinian, ada teh sappang—minuman herbal dari kayu secang yang kaya manfaat kesehatan, disajikan dalam ceret blirik jadul dengan canteng hijau loreng yang senada.
Tema tradisi sudah terasa sejak memasuki pintu utama. Tampak tulisan berbahasa Bugis dalam aksara Lontaraq: resopa temmangngi namalomo naletei pammase Dewata. Pepatah yang berarti “hanya dengan kerja keras, rahmat Tuhan akan mudah datang” itu mencerminkan filosofi hidup yang menekankan kegigihan dan ketawakalan.
Di dalam ruangan, suasana masa lalu tertata artistik. Gerabah dan anyaman bambu menghiasi sudut-sudutnya, sementara kursi dan meja kayu berwarna alami memberikan kesan hangat. Ngobrol berjam-jam di ruang seakrabi itu terasa menyenangkan, apalagi ditemani kopi susu dan pisang peppek.

***
Setelah Raker rampung digelar pada Sabtu, 29 November 2025, kami meninggalkan Makassar yang masih basah. Pembahasan soal pedoman organisasi dan program kerja telah selesai, berganti obrolan ringan sepanjang perjalanan. Karena hujan, beberapa teman membatalkan ikut. Hanya Prof Andi Suriyaman Mustari Pide, Niny Savitri, Una Husain, Hamran, dan saya yang tetap berangkat menuju Malino.
Prof Dr Andi Suriyaman Mustari Pide, SH, M.Hum—owner Roemah Masagena sekaligus Guru Besar Fakultas Hukum Unhas dan pakar Hukum Adat—mengaku bahwa konsep usahanya banyak terinspirasi lingkungan keluarga.
Kultur Bugis menjadi identitas dan kebanggaannya. Masagena, dalam bahasa Bugis berarti luas, lapang, berkecukupan—ditulis dalam huruf Latin maupun aksara Lontaraq.
Perjalanan 1,5 jam menuju Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa itu berlangsung mulus. Hujan yang kami khawatirkan tak juga turun. Malino seakan menyambut dengan ramah.
Kami langsung menuju Masagena Cottage 2 di Lingkungan Batulapisi Dalam. Teh hangat terasa nikmat, seakan membersihkan sisa dingin AC mobil. Malam itu kami menyantap sop konro dan nasu palekko.
Saya menyempatkan diri berjalan menyisir area restoran. Seorang karyawan menunjukkan kerlap-kerlip lampu di kejauhan—katanya itu kawasan bendungan Bili-Bili. Dari sisi barat restoran, pemandangan malam terlihat indah dengan sapuan awan tipis di langit gelap.
Selesai makan dan berbincang panjang, kami diajak ke Masagena Cottage 3. Setelah berkeliling sebentar, kami kembali ke Masagena Cottage 1, yang menjadi tempat kami menginap. Tempat ini pernah menjadi lokasi Reuni 30 Tahun Alumni Fakultas Hukum Unhas Angkatan ’87 pada 2017, sehingga saya masih mengenali bentuk bangunannya meski kini sudah cukup berubah.

***
Pagi harinya, saya tak ingin melewatkan suasana Malino. Saya berjalan menuju Pasar Sentral Malino di seberang jalan. Saya mengabadikan para pedagang yang menjual tenteng, dodol, markisa, dan beragam oleh-oleh. Juga ibu-ibu yang dengan cekatan menjual hasil bumi dari Tombolo Pao: tomat, kentang, kol, bonte, dan sayur-mayur segar.
Saat kembali ke cottage, saya memotret nama-nama kamar—semuanya dalam bahasa Bugis: Wanua, Siporio, Mattantu, Sipurennu, Sipammase. Kami sarapan nasi goreng, telur, ikan goreng berbumbu sambal, ayam goreng, dan kerupuk, ditemani kopi hitam. Obrolan pagi mengalir ke berbagai topik.

Saya sempat berkomentar, betapa jarang kini kita menikmati pagi sambil berbincang seperti ini. Di era serba digital, banyak orang memulai hari dengan berselancar di dunia maya; percakapan antar-anggota keluarga makin jarang, masing-masing sibuk dengan gawai.
Usai sarapan, kami menuju Masagena Cottage 3. Saya diam-diam memuji Prof Ruri—begitu kami memanggilnya. Ia mampu memanfaatkan kontur tanah untuk menghadirkan bangunan-bangunan berkonsep tradisional yang estetis. Warna cokelat dan hijau bangunan berpadu dengan dominasi alam di depannya. Lanskap pegunungan menjadi latar foto yang tak pernah membosankan.
Yang luar biasa, konsep seluruh bangunan berasal dari Prof Ruri sendiri. Ia hanya berkomunikasi via WhatsApp dengan tukang yang bukan arsitek, sambil mengarahkan detail demi detail sesuai imajinasinya.
Dari Masagena Cottage 3—bersebelahan dengan Kampung Eropa—kami lanjut menikmati teh di Roemah Makan Tradisional. Dua gumbang besar dengan tungku dan kayu bakar berdiri di sisi kiri dan kanan rumah makan tersebut. Bukan sekadar pajangan, melainkan penanda komitmen pemiliknya merawat tradisi.
Di depannya ada gerobak ala angkringan yang menjual pallu basa. Di salah satu dinding tertulis: “Budaya Abadi, Generasi Berkarya.”
Pada Desember 2021, area Masagena Cottage 3 pernah menjadi lokasi Masagena TraditionArt Exhibition—sebuah pagelaran budaya dengan ragam atraksi dan pertunjukan.
Dari Cottage 3, kami kembali ke Cottage 2. Berkali-kali Prof Ruri menawarkan kami makan, tetapi perut rasanya tak lagi sanggup. Komprominya adalah mencoba “intel” alias indomie telur—menu pamungkas yang menutup perjalanan kami di Malino.
“Deceng enrekki ri bola tejjali tettapere banna mase”
~ Masagena
