Membangun Harapan dari Ratapan Ekologis

  • Whatsapp
Muliadi Saleh, ilustrasi bersama genangan (dok: Istimewa)

Oleh Muliadi Saleh

PELAKITA.ID – Sumatera kembali berduka, dan duka itu adalah duka kita semua. Dalam bencana, tidak ada batas administratif. Air bah tak mengenal provinsi, tanah longsor tak membedakan etnis, dan rasa kehilangan merambat jauh—menembus ruang batin kita yang paling sunyi.

Empati kita sedang diuji. Mampukah rasa persaudaraan tetap utuh di tengah hiruk-pikuk debat, prasangka, dan saling tuding? Kepedulian semestinya mengalir deras kepada saudara-saudara kita yang kini berdiri di antara puing dan lumpur.

Janganlah suara kita tergoda untuk menghakimi saat mereka masih memungut sisa-sisa kehidupannya. Tidak ada manfaat menunjuk salah ketika tubuh masih gemetar menahan trauma.

Agama mengajarkan bahwa musibah adalah ujian bagi kemanusiaan kita: “Yang paling kuat di antara kalian adalah yang paling mampu menolong saudaranya.” Yang terluka harus dipulihkan, bukan dipersalahkan.

Dalam perspektif etika publik, bencana bukan semata peristiwa alam—ia adalah kesempatan untuk memperkuat solidaritas nasional. Ia menguji apakah kita benar-benar satu bangsa, atau hanya sekelompok individu yang kebetulan berbagi peta.

Dan kita, sesama manusia—apa peran yang bisa kita lakukan?

Kita tidak dapat membendung hujan, tidak mampu menahan tanah yang lelah agar tak bergeser.

Tetapi kita bisa hadir. Kita bisa menyumbangkan tenaga, donasi, informasi yang benar, atau sekadar menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian dalam gelap. Empati bukan sekadar perasaan; ia adalah tindakan yang menumbuhkan kembali harapan ketika dunia tampak runtuh.

Mari kita pelihara empati itu. Mari rawat rasa bersaudara yang sejak lama membuat bangsa ini bangkit dari luka demi luka. Jangan menambah beban mereka dengan tudingan dan kesimpulan tergesa-gesa.

Tidak ada keluarga yang ingin rumahnya ditelan banjir. Tidak ada ibu yang ingin kehilangan anaknya. Tidak ada desa yang ingin hilang tertimbun lumpur. Ketika mereka diuji, kita pun dipanggil untuk meringankan beban yang tak sanggup mereka pikul sendiri.

Dan akhirnya, marilah kita memejamkan mata sejenak, membiarkan doa mengalir dari kedalaman hati:

Ya Tuhan Yang Maha Penyayang,

Peluklah saudara-saudara kami di Sumatera yang kini terbaring dalam kepedihan.
Ringankan duka mereka, kuatkan langkah mereka, dan lapangkan jalan pemulihan mereka.
Tanamkan dalam diri kami cinta yang tak lekang oleh jarak,
Rasa persaudaraan yang tak luntur oleh perbedaan.

Jadikanlah kami bangsa yang saling menguatkan, bukan saling menyalahkan.
Anugerahkanlah kepada para pemimpin kami kebijaksanaan dan empati,
Agar setiap kebijakan menjadi penawar luka, bukan penambah derita.
Dan kepada bumi yang kini merintih—pulihkanlah ia,
Agar harapan dapat tumbuh kembali dari ratapan yang kami dengar hari ini.

Amin ya Rabbal Alamin.