“Bisnis itu dilaksanakan, bukan didiskusikan.” Kalimat legendaris almarhum Bob Sadino itu tiba-tiba terngiang sore itu—mengingatkan saya bahwa banyak hal besar lahir dari langkah kecil yang berani.
Pada suatu sore di Wawondula, secangkir rasa, sejuta cerita
PELAKITA.ID – Sabtu, 29 November, saya mengantar tester gula aren cair produksi kelompok usaha “Kalimbuang” Balambano—kelompok binaan kami selama beberapa bulan terakhir.
Tester ini hendak dicoba di kedai “Grande, Warkop Container”, sebuah usaha yang semakin dikenal di Wawondula, Kecamatan Towuti karena racikan kopi dan minuman nonkopinya yang sedang naik daun.
Aden—nama panggilan Masdar Asri, 34 tahun—menyambut saya di balik meja barista.
Ia baru tiba setelah mendampingi tim Dinas Perikanan terkait penanggulangan dampak kebocoran pipa minyak PT Vale Indonesia.
Di kedai kecilnya yang ramai, Aden dan satu asistennya bergerak lincah melayani pelanggan.
“Kopi aren dan alpukat kocok paling banyak peminatnya. Bulan ini, bisa sampai 100 cup sehari,” ujarnya sambil tersenyum tipis, menyembunyikan lelah yang tak sempat dirawat.
Melihat kesibukannya, rasa penasaran saya tumbuh: mengapa ia membuka kedai ini?
Apa motivasinya? Bukankah ia pernah mengalami kegagalan berbisnis sebelumnya?
Dan…mengapa seorang anak muda mapan yang bekerja di COMMIT Foundation masih mencari tantangan baru lewat usaha kopi? Dengan rasa ingin tahu itu, saya meminta Aden bercerita.
“Iye, tidak apa-apa ji, Om Darsam. Tapi sambil kerja ka’ na,” katanya sambil mengocok es dan mencatat pesanan.
Awal yang Penuh Keraguan
Aden memulai kisahnya dengan sederhana: ia tidak puas dengan cita rasa kopi di sekitar Wawondula dan Sorowako.
Dari situ muncul keinginan meracik kopi sendiri—bukan hanya untuk diminum, tapi juga untuk dibagi.

Awalnya, ia berencana membuat kopi keliling. “Tapi siapa yang mau kerja i’?” katanya sambil tertawa kecil dalam logat Towutu. Peluang datang ketika sebuah kedai kebab di depan Alfamart Wawondula dijual.
Ide itu mengusik: apakah ia harus membeli? Ada keraguan, ada rasa takut, tapi ia memilih melangkah. Awal Juni, kedai itu resmi berpindah tangan.
Saat baru buka, menunya amat sederhana: kopi sachet yang diracik ulang.
Ia sempat menjual jalangkote dan kentang goreng buatan adiknya, namun tak bertahan karena sang adik juga sibuk. Namun langkah kecil itu tak berhenti di sana. Aden membeli mesin espresso, belajar meracik, dan perlahan menambah variasi menu.
Kini, daftar menunya mencatat: 19 racikan kopi 28 minuman nonkopi, 10 varian alpukat kocok.
Pertumbuhan penjualannya juga konsisten:
20 cup per hari di bulan pertama → 35 di bulan kedua → 50 di bulan keempat → kini 100 per hari.
Belajar, Berinovasi, dan Merendah pada Proses
Aden tidak hanya mengambil risiko—ia juga tekun belajar.
Ia mengikuti kursus online dengan seorang barista Makassar selama delapan sesi. Dari situ ia memahami seni meracik rasa sekaligus seni membangun usaha.
Dukungan tim penanganan pipa bocor juga penting. “Banyak masukannya,” kata Aden.
Misalnya, saran Dea tentang jenis es batu untuk jus, atau masukan Om Deni, Om Paul, Dini, Amar, Riska, dan Rahma tentang minuman yang diminati masyarakat Towuti.
Selain itu, ia memiliki tiga mentor dari PT Vale. “Dulu ada Pak Ardian, yang mengajarkan ketelitian. Lalu ada Om Ichman, yang membimbing cara memperlakukan orang dan memperkuat relasi sosial. Om Kamto, yang menjadi contoh soal kecepatan dan ketepatan bekerja,” ungkapnya.
“Semua itu ji yang jadi inspirasiku, Om,” ucapnya, matanya berkaca kecil.
“Itu mi modal diri waktu kubangun Kedai Grande.”
Pelanggan sebagai Kawan Bertumbuh
Sepanjang saya mengamati, Aden kerap menyelipkan satu kalimat kepada setiap pelanggan: “Mohon masukanta’ kalau ada yang kurang.”
Saya bertanya, mengapa ia melakukan itu. Ia menjawab sederhana: ia ingin pelanggan merasa menjadi bagian dari Grande—bukan sekadar datang, beli, lalu pergi.
“Mereka ikut menentukan rasa, ikut mengisi ruang,” ujarnya pelan.
Ucapan itu mengingatkan saya pada perjalanan brand top seperti Starbucks. Didirikan pada tahun 1971 oleh tiga orang sahabat, merek itu berkembang pesat setelah menyediakan sesuatu yang lebih dari kopi: sebuah ruang interaksi sosial, tempat ketiga setelah rumah dan tempat kerja. Grande, dalam skala kecilnya, sedang membangun hal yang sama: sebuah ruang rasa.

Magrib di Ujung Cerita
Tak terasa azan magrib berkumandang di area Lingkar Tambang PT Vale, sekaligus mengakhiri percakapan kami.
Ada kehangatan yang tertinggal, ada inspirasi yang tak selesai dituturkan dan teramat penting untuk tidak dibagikan. Tentang daya juang anak manusia di Timur sana. Kawasan yang terus tumbuh dan membentuk dirinya sendiri dan di dalamnya ada sahabat kita semua, Aden.
Dia tidak hanya jadi inspirasi tetapi menambah daftar panjang perjuangan anak manusia di tengah kegamangan sosial karena tekanan hidup, atau bahkan kemanjaan substansial karena pengaruh Medsos dan goda selebritas Maya.
Bagi saya, Aden bukan semata ingin menunjukkan daya juang tetapi menawarkan inspirasi mengisi jalan hidupnya dengan kreativitas, kreatif, bukan reaktif pada keadaan apalagi mengutuk nasib.
Aden adalah pengecualian. Dia tidak meratapi nasib atau menuntut sesuatu yang tak pantas, dia menciptakan peluang, ruang dan juga cuan halal.
Saya pamit melanjutkan perjalanan ke Sorowako. Aden bersiap menutup sebentar sebelum kembali membuka kedai seusai isya.
Di balik racikan kopi dan alpukat kocoknya, Grande menyimpan cerita tentang keberanian memulai, ketekunan belajar, kerendahan hati menerima masukan, dan keberanian untuk terus mencoba meski pernah gagal.
Bagi kita semua, Grande yang diusung Aden bukan sekadar kedai. Ia adalah ruang rasa. Ruang bertumbuh.
Ruang yang mengajarkan bahwa keberanian kecil bisa menyalakan cahaya besar—di sebuah sudut Wawondula, pada suatu sore yang tak biasa.
__
Penulis Darsam Belana, pekerja pada The COMMIT Foundation
