Muhammad Yusri Lukman | Dicintai, Inspiratif dan Berdedikasi untuk IKA Smansa

  • Whatsapp
Muhammad Yusri Lukman, Sekjen IKA Smansa dengan Ketum PP IKA Smansa Andi Ina Kartika Sari (dok: Instagram Andi Ina)

Kepergian Yusri juga mengingatkan saya pada almarhum Agussalim—atau Gusek, begitu sapaan Sekjen kepada alumni Smansa 91 yang berpulang tahun lalu. Dua sahabat sejati dan berdedikasi untuk IKA Smansa, dua pejuang organisasi, dua kehilangan besar dalam waktu berdekatan. Rasanya seperti sebagian dari energi IKA Smansa ikut hilang bersama mereka.

PELAKITA.ID – Kabar duka yang menyesakkan itu tiba ketika saya sedang dalam perjalanan darat dari Sorowako, 28 November 2025. Bus Sinar Muda melaju pelan, merayap meninggalkan Malili ketika pesan itu muncul di grup IKA Smansa 89: Muhammad Yusri Lukman telah berpulang.

Penulis menatap jauh dari kaca bus nomor 8. Suasana jalanan yang ramai serasa menjauh; yang tinggal hanya kesunyian dan sesak di dada.

Seriuska – terasa ada genangan air mata yang tak sanggup ditahan—mengalir bersama ingatan panjang tentang seorang sahabat, adinda, kolega, dan sosok pekerja keras bernama Yusri.

Saya mengenal Yusri sebagai pria yang disiplin dalam bekerja, tegas dalam bersikap, dan humoris dalam keseharian. Perpaduan yang jarang dimiliki seseorang, dan menjadi alasan mengapa hampir semua orang merasa dekat dengannya.

Terasa ada disiplin banzai mengalir di darahnya, pelajaran nilai yang diperolehnya di Negeri Sakura. Itulah mengapa ketua kami Andi Ina Kartika Sari enggan melepasnya saat hendak menepi dari kesibukan sebagai Sekjen IKA Smansa.

Satu momen yang selalu terngiang dalam ingatan saya terjadi saat rapat persiapan Kongres IKA Smansa tahun ini.

Di tengah ketegangan diskusi, Yusri menoleh ke saya dan berkata dengan gaya khasnya: “Kak Denun belaaa, kalau ada ide kegiatan IKA, langsung eksekusi saja.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mencerminkan jati dirinya: orang yang tidak menunda pekerjaan, yang percaya pada aksi, bukan sekadar rencana.

Di SK Pengurus IKA Smansa Makassar 2025-2029, penulis adalah wakil Sekjen untuk bidang informasi dan komunikasi.

Sekjen yang Dicintai Banyak Angkatan

Saya boleh klaim, sebagai Sekjen IKA Smansa Makassar – Yusri yang juga anggota IKATEK Arsitektur Unhas ini – telah mencurahkan waktu dan tenaganya dalam jumlah yang mungkin tak pernah sepenuhnya kita ketahui.

Di bawah kepemimpinan Andi Ina Kartika Sari sebagai ketua, Yusri menjalankan peran Sekjen dengan ketelitian luar biasa. Hasilnya nyata: IKA Smansa tampil sebagai organisasi alumni yang aktif, produktif, dan solid.

Mulai dari Tenas III dan IV, berbagai kegiatan sosial, hingga pengelolaan komunikasi dengan alumni lintas angkatan—semua itu menjadi bukti dedikasi dan ketekunannya.

Pernah suatu ketika, Yusri berbisik pada saya bahwa ia berniat tidak lagi menjadi Sekjen. Namun kenyataannya, hampir semua perwakilan angkatan—setidaknya yang saya kenal—menghendaki Yusri tetap mendampingi Andi Ina. Mereka melihat apa yang saya lihat: ia adalah penggerak utama organisasi.

Kerendahan Hati yang Tidak Pernah Pudar

Meski berpendidikan tinggi—almarhum adalah alumni S3 Jepang, Ph.D—Yusri tidak pernah menyombongkan diri. Ia selalu rendah hati, santun, dan penuh hormat kepada para seniornya.

Dalam banyak kesempatan, saya menyaksikan sendiri bagaimana ia menempatkan diri dengan penuh adab, baik dalam rapat maupun saat berinteraksi dengan alumni muda. Pernah sekali ketemu di kantor DPRD Makassar awal tahun lalu, penulis tanya ada kegiatan apa. Dia hanya bilang kita ini pekerja, ya kerjalah kanda.

Salah satu kerja sama yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Yusri mengambil inisiatif membuka website resmi IKA Smansa Makassar. Dengan suara yang khas, ia sering berkata: “Gasmaki kanda.”

Ucapan yang kini hanya tinggal kenangan, tetapi terasa hangat setiap kali saya mengingatnya.

Kebersamaan yang menginspirasi (dok: Instagram Andi Ina)

Beban ditanggung dalam Senyap

Saya baru mengetahui dari sahabat saya, Dharma Kuba, bahwa Yusri telah lama memikul cobaan berat pada kondisi tulangnya. Saya semula mengira pincangnya belakangan ini hanya karena keseleo saat bermain bola. Ternyata ia memendam sakit itu dalam diam—tetap hadir dalam kegiatan, tetap bekerja, tetap melayani.

Penulis bersama Muhammad Yusri Lukman (ketiga dari kiri) pada momen Bantuan Gempa Sulbar (dok: Pelakita.ID)

Sikap seperti itu hanya dimiliki oleh orang yang berhati kuat.

Kepergian Yusri juga mengingatkan saya pada almarhum Agussalim—atau Gusek, begitu sapaan Sekjen kepada alumni Smansa 91 yang berpulang tahun lalu.

Dua sahabat sejati dan berdedikasi untuk IKA Smansa, dua pejuang organisasi, dua kehilangan besar dalam waktu berdekatan. Rasanya seperti sebagian dari energi IKA Smansa ikut hilang bersama mereka.

Bagi keluarga besar IKA Smansa Makassar—terutama bagi ketua umum kami, Andi Ina Kartika Sari—ini adalah duka yang dalam. Andi Ina sendiri pernah berkata kepada saya, saat kami bertemu di Unhas dua bulan lalu:

“Biarmi dulu kak kepengurusan baru. Tidak enak sama Yusri kalau kita ada kegiatan sementara dia masih begitu.”

Kalimat itu kini terasa menyesakkan, karena perhatian dan rasa hormat itu terucap sebelum kita benar-benar memahami seberapa berat kondisi almarhum. Andi Ina di laman Instagramnya memposting dua foto bersama Yusri dengan latar suara kidung ‘Kehilangan’.

Begitulah, tidak terhitung kegiatan yang kami jalankan bersama—pelantikan kepengurusan, seminar, bakti sosial, Temu Nasional, hingga perancangan Kongres IKA Smansa yang kembali memilih Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari.

Saya juga teringat jelas ketika mendampingi Yusri saat ia berdiri di depan ratusan alumni muda Smansa angkatan 2020 hingga 2024 di Hotel Horison, 31 Maret 2024. Dengan suara tegasnya, ia menekankan satu pesan:

“Jaga nama baik sekolah kita.”

Yusri sangat mencintai Smansa Makassar. Baginya, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi rumah besar yang telah melahirkan banyak tokoh seperti Irjen Pol Andi Rian Djajadi, Brigjen (Purn) Zainal Paliwang, Danny Pomanto, dan tentu saja ketua kami Andi Ina Kartika Sari, serta para senior seperti Agus Arifin Nu’mang.

Selamat Jalan, Sahabat Baik

Kini Yusri telah menghadap Sang Khalik. Yang tertinggal adalah kenangan, teladan, dan jejak pengabdian yang tak mungkin terhapus.

Bagi saya pribadi, kepergian Yusri bukan hanya kehilangan rekan kerja. Saya kehilangan sahabat yang pernah jalan bersama, yang pernah memberi ruang untuk berdiskusi, berdebat, dan bekerja bersama.

Kebersamaan dengan Sekjen tercita, Muhammad Yusri Lukman (dok: Pelakita.ID)

Dari Malili hingga Tamarunang Gowa, dari air mata hingga doa, saya hanya bisa mengantar kepergiannya dengan rasa hormat yang sedalam-dalamnya.

Selamat jalan, Muhammad Yusri Lukman.

Terima kasih atas kerja kerasmu.
Terima kasih atas kesetiaanmu.
Terima kasih atas cintamu kepada Smansa.
Semoga Allah memberi tempat terbaik untukmu di sisi-Nya.
Amin.

___
Denun, Smansa 89

Tamarunang – Gowa