Kongres PSSI Sulbar 2025: Cinta, Komitmen Kolektif dan Jejak Panjang Agus Ambo Djiwa

  • Whatsapp
Di tengah lingkaran wajah-wajah penuh harapan itu, ada sosok yang sejak lama menjadi poros pembinaan olahraga daerah ini: Dr. Ir. Agus Ambo Djiwa, MP., Ketua Umum PSSI Sulawesi Barat.

Ia bukan hanya ketua; ia penjaga mimpi, perawat harapan, dan pengingat bahwa membangun sepak bola adalah perjalanan panjang yang tidak boleh ditinggalkan.

Laporan Kontributor Pelakita, Muliadi Saleh dari lokasi Kongres PSSI Sulbar

PELAKITA.ID – Hotel Tri Sakti di Pasangkayu pagi ini agak berbeda. Di ruang kongres, para peserta berdatangan dari seluruh kabupaten se-Sulawesi Barat—Mamuju, Majene, Polman, Mamasa, Mamuju Tengah, hingga tuan rumah Pasangkayu.

Mereka hadir membawa harapan, membawa komitmen, dan membawa mimpi yang sama: membangun sepak bola Sulbar agar berdiri tegak di panggung nasional.

Di tengah lingkaran wajah-wajah penuh harapan itu, ada sosok yang sejak lama menjadi poros pembinaan olahraga daerah ini: Dr. Ir. Agus Ambo Djiwa, MP., Ketua Umum PSSI Sulawesi Barat.

Ia tidak hanya membuka kongres; ia membuka kesadaran bersama tentang arah yang ingin dituju.

Dengan suara tenang yang mampu menembus dinding ruangan, ia kembali mengingatkan bahwa jalan panjang sepak bola tidak pernah bisa dibangun setengah hati.

“PSSI ini harus diurus dengan cinta,” katanya.

Kalimat yang sederhana, namun terasa seperti akar yang menancap dalam. Sebab Agus selalu percaya bahwa tidak ada talenta besar yang lahir dari sikap dingin; tidak ada pemain nasional yang tumbuh tanpa pelukan perhatian; tidak ada perjalanan panjang yang disusun tanpa cinta sebagai ‘bahan bakarnya’.

Penulis bersama Agus Ambo Djiwa 9dok: Istimewa)

Ia berbicara tentang lahirnya pemain-pemain berkelas nasional, bahkan internasional, dari tanah Sulbar. Mimpi itu bukanlah angan kosong baginya.

Ia melihat potensi anak-anak muda di pelosok kecamatan, di lapangan desa yang kadang tak rata, di klub-klub kecil yang dijalankan dengan cinta dan pengorbanan.  Yang dibutuhkan adalah komitmen bersama—komitmen para klub, para pelatih, para pengurus kabupaten, pemerintah daerah, hingga sponsor yang berani menaruh harapan pada masa depan.

“Klub punya tanggung jawab. Pemda harus komitmen. Sponsor juga perlu mendukung,” tegasnya.

Ia tahu betul sulitnya mencari sponsor di Sulbar, daerah yang masih memandang sepak bola sebagai kegiatan berbiaya besar. Tetapi ia tetap yakin: jika cinta dan komitmen menyatu, pintu-pintu dukungan akan terbuka.

Agus juga menegaskan bahwa sepak bola bukan hanya olahraga, tetapi sebuah nilai. Ia menyebut sipakalabbi—saling menghormati,  saling memuliakan  dan saling memanusiakan —sebagai dasar pembinaan. Lapangan hijau, baginya, adalah ruang persaudaraan.

Di situlah karakter dibangun, solidaritas dibentuk, dan harga diri daerah ditegakkan.

Kongres PSSI Sulbar 2025 kali ini bukan sekadar forum laporan dan rencana kerja. Ia menjadi titik temu energi dari seluruh kabupaten—sebuah gerakan bersama yang diarahkan untuk melahirkan generasi pemain baru yang tidak hanya terampil, tetapi juga berjiwa.

Dan di tengah percakapan panjang tentang masa depan itu, peran Agus Ambo Djiwa terasa seperti suluh yang memandu jalan.

Ia bukan hanya ketua; ia penjaga mimpi, perawat harapan, dan pengingat bahwa membangun sepak bola adalah perjalanan panjang yang tidak boleh ditinggalkan.

Ketika kongres dibuka secara resmi olehnya, ruangan itu seolah diselimuti keyakinan baru: bahwa cinta adalah fondasi pembinaan, komitmen adalah jembatannya, dan persatuan kabupaten adalah tenaga yang menggerakkan langkah.

Dari Pasangkayu, sebuah pesan mengalir lembut namun tegas: Sepak bola Sulbar harus dirawat bersama—dengan hati yang penuh, dengan semangat yang menyala, dan dengan keyakinan bahwa suatu hari, anak-anak muda dari Sulbar ini akan berdiri di panggung nasional, bahkan dunia.

Redaksi