Sosodara, menyantap papeda dan ikan kuah kuning di Rumah Makan Ci Yati tak hanya mengenyangkan. Dia juga seperti mengajak kita menyelami denyut kehidupan Ternate. Menyelami Indonesia bagian timur lebih dalam, tentang ikan karang, sagu hingga aroma cengkeh di nampan makan.
PELAKITA.ID – Kota Ternate, ibu kota Provinsi Maluku Utara tidak hanya dikenal sebagai pulau rempah yang sarat sejarah, tetapi juga sebagai surga kuliner yang menggoda selera.
Laut yang kaya dan tradisi sagu yang kuat menjadikan kota ini unik dalam peta kuliner Nusantara. Sudah empat kali penulis berkunjung ke Kota Ternate dan selalu tergiur aroma ikan bakar Terminal nan fenomenal.
“Tapi tidak bang, kali ini kita ke Ci Yati,” kata kawan Wendi di Kota Ternate saat kami baru saja selesai menggelar workshop penyusunan naskah Perda terkait perlindungan jurnalisme.
Menurut Wendi, dari sekian banyak tempat makan di pesisir Ternate, Rumah Makan Ci Yati yang paling banyak digandrungi orang. Warung ini selalu muncul sebagai cerita yang dibawa pulang wisatawan dan kebanggaan warga setempat.
Berlokasi di kawasan Ternate Timur, rumah makan ini telah lama menjadi tujuan utama pecinta kuliner untuk menikmati papeda—bubur sagu kental yang menjadi makanan pokok masyarakat Maluku—dengan pasangan sejatinya, ikan bakar kuah kuning.
Bukan sekadar menu, keduanya menyajikan pengalaman rasa yang menyingkap khazanah sejarah Maluku Utara.
Papeda dan Ikan Bakar: Simfoni Rasa di Meja Makan
Papeda disajikan hangat, teksturnya kenyal dan lembut, diulur perlahan dengan sumpit kayu sebelum dicelupkan ke kuah kuning dari ikan laut segar. Rempah kunyit, jahe, dan serai berpadu dalam aroma yang harum dan menyegarkan.
Ikan yang digunakan pun bervariasi—tongkol, cakalang, hingga kakap—dibakar dengan bumbu sederhana yang justru menonjolkan rasa asli laut.
Di Ci Yati, papeda tidak hanya dihidangkan sebagai makanan, tetapi hadir sebagai simbol kebersamaan.
Para pengunjung duduk melingkar, menyendok papeda dari satu wadah besar, lalu menyantapnya bersama-sama. Tradisi ini merefleksikan nilai-nilai masyarakat pesisir Maluku: kebersamaan, kehangatan, dan kekerabatan.
Tak jauh dari pantai, suasana Rumah Makan Ci Yati berpadu indah dengan semilir angin laut. Kita bisa menyaksikan satu per satu pesawat secara perlahan lalu mendarat.
Siang itu, suasana Kota Ternate sedang hujan rintik-rintik.
Ragam Hidangan yang Menggugah Selera
Selain papeda dan ikan bakar, Ci Yati menawarkan aneka hidangan khas Ternate.
Ada gohu ikan, yang sering disebut sashimi ala Maluku: tuna segar yang diberi sentuhan jeruk asam dan cabai.
Ada pula sambal roa yang pedas dan penuh karakter, serta boboto, olahan ikan cakalang kukus plus kacang kenari yang harum dan kaya rasa.
Jelas sekali bahwa setiap hidangan dimasak dengan resep turun-temurun dan tak ditemukan di tempat lain. Ini mempertahankan keaslian rempah lokal Maluku Utara.
Sosodara, menyantap papeda dan ikan kuah kuning di Rumah Makan Ci Yati tak hanya mengenyangkan. Dia juga seperti mengajak kita menyelami denyut kehidupan Ternate. Menyelami Indonesia bagian timur lebih dalam, tentang ikan karang, sagu hingga aroma cengkeh di nampan makan.
Merasakan bagaimana masyarakatnya menjaga tradisi laut dari generasi ke generasi.
Jika suatu saat Anda berkunjung ke Ternate, jangan lewatkan kesempatan untuk singgah di Rumah Makan Ci Yati.
Rasakan hangatnya papeda, hirup aroma kuah ikan yang kaya rempah, dan biarkan pengalaman kuliner itu memperkenalkan Anda pada jiwa Ternate—hangat, bersahaja, sekaligus penuh kejutan.
“Rumah Makan Ci Yati di Kota Ternate, Beta Seng Bisa Lupa!”
Sorowako, 6 September 2026









