PELAKITA.ID – Tolitoli, 8 Agustus 2025 — Di tengah kesibukannya sebagai Plt. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Tolitoli, H. Rustan Rewa menyempatkan diri kembali ke akar kehidupannya: bertani. Tak ada protokol atau seragam dinas.
Hanya topi caping, langkah ringan, dan senyum tulus saat ia melangkah di pematang sawah. Di sanalah, di tengah hamparan hijau yang menyejukkan, Rustan Rewa tampak begitu riang dan gembira.
Bertani, bagi Rustan Rewa yang juga Asisten 2 Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemda Tolitolu ini, bukan hanya soal menanam dan menuai. Ia menyebutnya sebagai “jalan hidup yang jujur, tenang, dan penuh doa.
” Bertani mengajarkan kesabaran, ketekunan, serta hubungan mendalam antara manusia dan alam. “Lahan, air, dan cahaya pagi adalah guru-guru yang tak bersuara, tapi selalu memberi pelajaran,” ujarnya lirih saat ditemui di sebuah petak sawah milik keluarganya.
Tak heran jika banyak orang menyukai sosoknya. Rustan dikenal rendah hati, bersahaja, dan tidak pernah gengsi mengakui jati dirinya sebagai pagalung—petani dalam bahasa Makassar, ibu bahasanya. Dia adalah pamong senior di Tolitoli dan telah mengabdi lebih dari 30 tahun.
Di sela-sela tugas sebagai birokrat, ia rutin pulang ke sawah untuk menyegarkan pikiran dan hati.
“Saat saya memandangi bulir-bulir padi yang mulai menguning, air yang mengalir jernih di saluran irigasi, dan cahaya pagi yang menembus kabut tipis—pikiran saya menjadi jernih, niat saya kembali lurus,” tutur Rustan, dengan tatapan penuh makna.
Pria yang pernah menjabat Kadis Pertanian Tolitoli itu bukan pamong bibasa, dia adalah pamong yang juga petani tak biasa.
Ia menyatukan peran sebagai pelayan publik dengan peran sebagai manusia pengabdi keseimbangan alam, melalui pertanian, melalui perlindungan plasma nutfah.
Kepada para stafnya, ia kerap mengingatkan. “Pelayanan publik yang baik itu sama seperti bertani—dilakukan dengan hati, ditumbuhkan dengan kesabaran, dan dipanen dengan kejujuran,” ucapnya pada suatu ketika.
Dalam wajah-wajah warga desa yang ia temui di sawah, Rustan merasa menemukan kembali tujuan utama seorang ASN: menjadi abdi negara dan abdi masyarakat dalam arti yang sesungguhnya.
Mungkin karena itulah, setiap kali ia kembali ke lahan pertanian, Rustan Rewa bukan hanya tampak bahagia—ia benar-benar pulang ke rumah jiwanya.
Redaksi
