Baginya, pembangunan bukan hanya tentang aspek ekonomi, tetapi juga penguatan moral dan spiritual melalui solidaritas serta kerja sama komunitas. Gagasannya menjadi inspirasi banyak pekerja sosial dan perencana pembangunan hingga hari ini.
PELAKITA.ID – Pertanyaan tentang siapa yang layak disebut sebagai “bapak pembangunan masyarakat” tidak memiliki jawaban tunggal.
Tidak seperti bidang-bidang lain yang mungkin memiliki satu tokoh pelopor, pembangunan masyarakat tumbuh dan berkembang melalui kontribusi banyak pemikir, aktivis, dan praktisi di berbagai belahan dunia.
Akar konsep ini bersifat teoritis sekaligus praktis, berasal dari ilmu psikologi, gerakan sosial, filsafat politik, hingga kebijakan pemerintahan kolonial. Meski begitu, ada beberapa tokoh penting yang patut dikenang karena kontribusinya yang mendasar.
Kurt Lewin: Teoretikus di Balik Praktik
Di kalangan akademik, Kurt Lewin (1890–1947) sering dianggap sebagai salah satu tokoh pendiri dalam pembangunan masyarakat. Psikolog Jerman-Amerika ini memperkenalkan konsep action research—suatu metode partisipatif yang melibatkan perencanaan, aksi, dan refleksi secara siklus.
Teorinya tentang perubahan dan dinamika kelompok menjadi fondasi bagi model partisipatif dan pelibatan pemangku kepentingan yang banyak digunakan dalam praktik pembangunan masyarakat saat ini.
Lewin pernah mengatakan, “Tidak ada yang lebih praktis daripada teori yang baik.” Ungkapan ini menggambarkan semangat dari pembangunan masyarakat: menggabungkan pemikiran teoritis dengan aksi nyata di lapangan.
Mahatma Gandhi: Visioner Pemberdayaan Desa
Dari sisi praksis dan nilai-nilai moral, Mahatma Gandhi (1869–1948) memiliki pengaruh besar dalam pembangunan masyarakat, khususnya di negara-negara Global Selatan seperti India.
Filsafat Gandhi tentang Swaraj (pemerintahan mandiri) dan Gram Swaraj (pemerintahan desa yang mandiri) menekankan pada pembangunan pedesaan, kemandirian lokal, dan pemberdayaan warga miskin melalui partisipasi dalam pengambilan keputusan.
Gandhi percaya bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada desa-desa.
Baginya, pembangunan bukan hanya tentang aspek ekonomi, tetapi juga penguatan moral dan spiritual melalui solidaritas serta kerja sama komunitas. Gagasannya menjadi inspirasi banyak pekerja sosial dan perencana pembangunan hingga hari ini.
Saul Alinsky: Arsitek Pengorganisasian Komunitas
Dalam konteks mobilisasi politik dan masyarakat urban, Saul Alinsky (1909–1972) dikenal luas sebagai bapak community organizing atau pengorganisasian komunitas modern di Amerika Serikat. Karyanya yang berfokus pada komunitas berpenghasilan rendah berhasil mendorong terbentuknya gerakan warga yang kuat dan berpengaruh.
Pendekatan Alinsky menekankan pentingnya membangun kekuatan dari bawah—dengan memampukan kelompok marjinal untuk berorganisasi, menyuarakan aspirasi, dan memperjuangkan perubahan.
Buku terkenalnya Rules for Radicals menjadi semacam panduan bagi para aktivis akar rumput. Meski pendekatannya sering menuai kontroversi, prinsip-prinsip tentang kepemimpinan lokal dan partisipasi warga masih menjadi inti dalam banyak pendekatan pembangunan masyarakat masa kini.
Administrator Kolonial dan Lahirnya Program Pembangunan Masyarakat
Menariknya, istilah “community development” atau pembangunan masyarakat mulai populer pada era pasca Perang Dunia II melalui kebijakan kolonial Inggris di Afrika dan Asia.
Para administrator kolonial merancang program yang menggabungkan kesejahteraan sosial, pendidikan orang dewasa, dan peningkatan ekonomi pedesaan—terutama sebagai respons terhadap tuntutan kemerdekaan dan tekanan sosial-politik yang berkembang.
Meski bersifat top-down dan paternalistik, program-program ini berperan penting dalam menginstitusikan pembangunan masyarakat sebagai bidang tersendiri. Upaya-upaya tersebut juga membuka jalan bagi pendekatan pembangunan yang lebih partisipatif di negara-negara yang baru merdeka.
Sebuah Bidang yang Dibentuk oleh Banyak Tangan
Pada akhirnya, pembangunan masyarakat bukanlah hasil karya satu tokoh tunggal, melainkan sebuah evolusi kolektif dari teori, visi, dan praktik.
Kurt Lewin menyediakan landasan riset dan refleksi, Gandhi membawa filosofi pembangunan yang etis dan partisipatif, Alinsky memperkenalkan strategi politik berbasis akar rumput, dan program kolonial membantu menginstitusikan praktik pembangunan ini secara formal.
Semua pengaruh ini tetap terasa hingga kini—dalam program partisipatif, inisiatif pemberdayaan, pembangunan ekonomi lokal, hingga gerakan keadilan sosial di berbagai belahan dunia.
